Uang Belanja di Tangan Suami Pelit

Esana Gulpinar
Sinopsis "Arumm! Rum, tambahin lagi uangnya!" seru Mas Hamdan yang baru saja pulang dari pasar. "Uang apa, Mas? Tadi 20.000 kurang?" tanyaku heran. Apalagi jika melihat wajahnya yang tampak sangat kesal. Eh, ehhh ada apa ini? Bukannya dia bilang 20.000 itu banyak? Dan aku menghabiskannya dalam sehari dia sebut pemborosan? Kok sekarang malah dia yang ngeluh nggak cukup?

Bagikan Cerita ini :

“Arumm! Rum, tambahin lagi uangnya!” seru Mas Hamdan yang baru saja pulang dari pasar.

“Uang apa, Mas? Tadi 20.000 kurang?” tanyaku heran. Apalagi jika melihat wajahnya yang tampak sangat kesal.

“Kurang lah, kamu ini gimana sih. Nggak inget, seberapa banyak catatan yang kamu kasih ke aku?” tanyanya dengan tatapan yang menukik tajam ke arahku.

“Oke, kalau kamu nggak inget. Sini aku bacain,” ungkapnya sambil merogoh sebuah kertas kecil dari saku kanannya.

“Cabai rawit, bawang merah, bawang putih. Telur, daun bawang, wortel, tomat. Sebanyak itu, mana cukup uang dua puluh ribu? Nih, aku cuma bawa telur doang. Itu pun masih ngutang 9.000 di warung. Malu banget aku,” lanjutnya berapi-api.

“Loh, Mas. Masak cuma dapat telur aja sih? Kan biasanya juga, aku kamu kasih uang 20.000 cukup-cukup aja tuh. Malah kamu bilang aku ini boros,” ucapku. Sengaja kubilang begitu siapa tau dia sadar. Betapa pelitnya dia selama ini.

Untuk beberapa saat Mas Hamdan pun terdiam. Hati ini mulai senang. Akhirnya dia sadar. Ah, sepertinya dia memang sadar.

“Kamu pasti ngambil duit simpanan di brankas. Atau kamu minta sama Ibu ya untuk tambahan uang belanja kamu setiap harinya?” tanyanya. Menatapku curiga. Sakit hatiku mendengar tuduhannya.

“Kamu tanya aja sama Ibu Mas. Apa aku pernah minta uang sama Ibu atau nggak,” kataku cuek. Mengambil satu kilo telur yang tadi dia bawa, kemudian menyelonong pergi ke belakang. Siap-siap masak lauk.

“Ehh, Arum! Mau ke mana kamu? Aku belum selesai ngomong!” teriak Mas Hamdan.

“Mau masak, Mas. Udah laper kan? Dari pagi kita belum sarapan. Sekarang udah mau jam sembilan,” jawabku sambil terus berjalan menuju dapur.

Aku memang belum masak. Karena Mas Hamdan pergi ke pasar sangat lama. Dari pagi jam 6 sampai sekarang. Sementara aku harus menunggu barang yang dia beli dulu. Baru bisa masak.

“Mana, tambahin dulu uangnya. Aku harus beli yang lainnya juga,” katanya menahanku.

“Nggak bisa, Mas. Kamu sendiri yang bilang, kalau pengeluaran kita nggak boleh lebih dari 20.000 sehari. Dan kalau bisa dari 20.000 itu harus ada sisanya,” kataku. Aku menatapnya sebentar, kemudian kembali fokus memasak. Kuambil satu mangkuk untuk mengaduk telur yang tadi Mas Hamdan beli.

“Aduh, mana bener lagi. Ya udah, sekarang mana kasih 9000. Itu masih hutang telurnya,” katanya.

“Nggak bisa, Mas. Jangan langgar ucapan Mas sendiri,” kataku. Tetap bersikeras tidak mau memberi dia uang lagi.

“Terus ini gimana aku bayar telurnya Arum? Malu kalau nggak bayar sekarang,” katanya dengan nada memelas.

“Besok kamu akan aku kasih uang 20.000 lagi Mas. Kamu bisa bayar pakai uang itu nantinya,” jawabku.

“Terus, belanja buat besok gimana? Nggak kamu tambahin juga uangnya?” tanyanya lagi.

“20.000 dikurangi 9000 masih sisa 11.000 kan Mas. Udah deh, sekarang kamu mending istirahat. Kasihan kamu pasti capek abis jalan kaki dari sini sampai pasar,” kataku.

“Atau, kamu mandi aja dulu Mas. Biar segeran. Habis mandi telurnya pasti udah matang.”

“Arum! Kamu bener-bener ya!” teriak Mas Hamdan kesal. “Aku mau ke rumah Ibu. Mau minta uang buat bayar hutangnya. Punya istri satu aja pelitnya minta ampun,” gerutunya sambil pergi. Tentunya itu setelah dia membanting pintu dekat dapur.

“Pelit?” gumamku sambil menunjuk batang hidungku. Aku kan hanya menjalankan apa yang dia mau.

Dia yang protes 20.000 sehari habis. Dia juga yang ngotot dijatah 20.000 sehari dan dia yang akan membelanjakannya. Ehh, sekarang dia juga yang ngeluh uangnya nggak cukup.

Jadi, siapa yang sebenarnya boros dan nggak bisa ngatur keuangan Mas?

Bab 2

Mas Hamdan benar-benar pergi ke rumah ibunya. Bahkan sampai sore hari ia belum juga kembali. Ternyata, dia jauh lebih pundungan daripada aku.

Perutku sudah kenyang dengan makan nasi lauk telur dadar. Lumayan lah, ya. Daripada enggak makan.

Karena hari sudah semakin sore, dan Mas Hamdan belum juga pulang. Aku pun berinisiatif untuk menghubunginya melalui telepon.

“Halo, Mas. Lagi di mana?” tanyaku begitu sambungan telepon terhubung.

“Lagi di rumah Ibu. Di sini enak, makan lauk ikan goreng. Ada sambel terasi sama sayur beningnya juga. Aku pulang nanti malam, di sana pasti cuma makan telur dadar doang!” serunya. Dari suaranya masih terdengar sangat berapi-api. Nampaknya dia masih kesal.

“Loh, kan tadi kamu sendiri yang belanja ke pasar, Mas. Aku kan cuma bagian masak aja,” jawabku tidak terima.

“Halah, alesan aja kamu!” Ketus Mas Hamdan. Setelah itu juga sambungan telepon terputus begitu saja.

“Huh, das ar ∆neh!” Aku pun meletakkan handphone di atas nakas. Kemudian pergi mandi. Badanku sudah sangat gerah karena aktivitas seharian.

Selesai mandi, aku duduk di ruang tamu. Membaca berita-berita terbaru, sambil menunggu siapa tau Mas Hamdan datang.

Tapi sampai adzan Maghrib berkumandang. Suamiku itu belum juga nampak batang hidungnya. Dia betah di rumah ibunya ternyata.

Ada rasa kesal di hatiku. Apa dia itu nggak sadar, kalau selama dia juga mejatahku uang belanja 20.000 saja per hari?

Bukankah itu salahnya sendiri, kenapa dia cuma beli telur aja? Kenapa nggak ikan, terasi, sama sayuran?

“Ah, bodo amat dah. Mau dia pulang, atau nginep di rumah ibunya. Malah bagus, di sini aku jadi lebih tenang melakukan banyak aktivitas. Dan yaa, semoga nanti dia pas pulang dia itu sadar bahwa 20.000 itu terlalu kecil. Jika habis, itu bukan boros. Memang harga kebutuhan pokok udah nggak murah lagi,” ucapku. Ku letakkan tablet di meja. Kemudian masuk ke dalam rumah untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib.

Usai Maghrib, aku membaca Al-quran meski beberapa ayat saja. Setelahnya aku akan duduk di depan televisi untuk menonton apa saja yang saat itu aku ingin tonton.

Karena tidak ada acara yang menarik. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

Di kamar, segera kuambil laptop milikku. Dari sana, aku langsung mengecek update tulisan di website pribadi yang sudah aku buat beberapa waktu terakhir.

Di sela-sela waktuku mengurus rumah tangga. Aku selalu asik membuat konten berupa tulisan untuk aku upload di akun website pribadiku.

Selain itu, aku juga bermain affiliate dari berbagai marketplace. Juga menulis novel di berbagai platform ternama.

Yahh, dari sanalah aku mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika tidak, bayangkan saja. Dari mana aku mendapatkan Ikan, ayam, dan lain sebagainya hanya dengan uang 20.000?

Ketukan di pintu mengagetkanku. Segera kumatikan laptop dan menyimpannya kembali ke atas meja.

Berjalan ke luar untuk mengecek siapakah yang datang?

Dan, begitu pintu kubuka. Aku tidak menemukan siapapun di sana. Mendadak bulu kudukku jadi merinding dibuatnya.

Aku pun segera menutup pintu dengan perasaan gelisah. Tidak lupa aku menguncinya dan bergegas kembali ke kamar.

Namun, baru beberapa langkah. Pintu itu kembali diketuk. Aku yang penasaran pun segera mengintip dari jendela. Dan pemandangan mengerikan langsung menyapaku di sana.

“Aaaaaaa!” teriakku terkejut.

Bab 3

“Kamu itu apa-apaan, sih Mas? Ngagetin tauk! Kalau aku sampai mati jantungan gimana?” Protesku begitu aku berhasil menguasai keadaan dan membuka pintu untuk Mas Hamdan.

“Bercanda,” ucapnya tanpa rasa bersalah. Laki-laki yang menikahiku setahun yang lalu itu pun menyelonong begitu saja.

Aku mengunci pintu, kemudian mengikuti langkahnya yang berjalan menuju kamar kami.

“Oh iya, tadi katanya mau pulang malem. Kirain bakal pulang nanti jam 10 an,” ucapku sambil terus mengikutinya dari belakang.

“Tadinya sih aku mau pulang ntar malem aja. Kalau perlu nggak pulang. Biarin aja kamu di rumah sendirian. Tapi, mana tega aku biarin istriku yang cantik jelita ini di rumah sendirian?” Mas Hamdan menjawab sambil melepas kaos yang dia kenakan. Kemudian menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu.

“Halah modus. Aslinya sama Ibu diusir kan, disuruh pulang,” tebakku. Mas Hamdan tidak menjawab. Pria itu langsung pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar bunyi orang mandi dari sana.

Aku yakin Mas Hamdan emang disuruh pulang sama ibunya. Aku sangat tau, ibu mertuaku itu memang sangat menyayangi dan memanjakan Mas Hamdan. Tapi, Ibu tidak pernah pilih kasih di antara kita berdua. Tak pernah mendukung salah satu di antara kami. Itu membuatku merasa beruntung memiliki ibu mertua seperti beliau.

Yang sayang dengan anak dan mantunya. Tapi tak pernah mau ikut campur apapun masalah yang ada di dalam rumah tangga anaknya. Tak jarang, ibu justru menjadi pendamai dikala aku dan Mas Hamdan bertengkar.

Tak lama, Mas Hamdan sudah kembali dari kamar mandi. Bau sabun yang begitu khas menguar dari tubuhnya. Membuatku merasa sedikit … ehm! Tak perlu aku katakan pasti kalian juga paham dengan apa yang aku maksud.

“Aku ganteng ya? Makanya diliatin terus dari tadi?” celetuk Mas Hamdan saat ia sedang sibuk mencari baju di lemari.

“Hush, PD! Inget, diangkat kalau ambil baju. Jangan ditarik, capek tauk beresinnya tiap hari,” kataku mengingatkan.

Kalian tau kan, bagaimana tabiat kaum laki-laki kalau mereka sedang mengambil pakaian di lemari? Aih, auto acak-acakan.

“Iya iyaa …,” sahutnya lembut. Dan … ya meski sudah bilang iya. Tetap saja dia tarik baju yang ia pilih. Jadilah beberapa potong pakaian ikut berhamburan.

“Mas Hamdannn!!!” pekikku kesal. Geram kutatap pria itu.

“Maaf Arum Sayang,” jawabnya sambil nyengir. Pamer giginya yang putih dan bersih.

“Maaf maaf. Beresin tuh!” titahku ketus.

“Iya Sayang, jangan galak galak dong. Nanti cantiknya berkurang loh,” goda Mas Hamdan sambil mencolek daguku lembut.

Aku hanya bisa tersipu malu menanggapi tingkah lakunya itu. Tapi mengingat apa yang terjadi hari ini, terutama tadi pagi dan apa yang dia lakukan kemarin-kemarin. Aku pun memilih untuk melengos dan duduk di atas kasur.

Mas Hamdan tak mengusikku lagi. Pria itu fokus mengenakan pakaiannya. Setelah selama ia mengambil botol parfum dan menyemprotkannya ke beberapa bagian tubuhnya.

“Sayang,” panggil Mas Hamdan sambil duduk di sebelahku.

“Hmmm,” jawabku. Malas.

“Maaf yaa. Aku minta maaf udah suka ngatain kamu boros. Padahal uang belanja yang aku kasih cuma 20.000 sehari. Ternyata 20.000 itu nilainya kecil banget ya Sayang. Aku minta maaf yaa. Kamu mau kan, maafin Mas Sayang?” Mas Hamdan meraih kedua tanganku dan mengecup punggung tangannya secara bergantian.

“Jadi, sekarang Mas udah paham kalau biaya hidup itu mahal?” tanyaku. Dia mengangguk mantap.

“Jadi, tetap Mas kan yang pergi belanja harian?”

“Enggak Sayang,” jawabnya sambil menggeleng cepat.

“Terus?”

“Karena sehari 20.000 itu sedikit. Nanti mas kasih 140.000 yaa. Dan sekarang kamu lagi yang belanja.”

“Seriusan Mas?”

“Iya Sayang.”

“Aaaa, kamu baik banget Mas. Kamu emang suami paling pengertian Mas.”

“Iya Sayang. Nanti 140.000 itu kamu cukup-cukupin buat keperluan satu minggu ya? Mas percaya kamu pasti bisa aturnya.”

“Se-seminggu? Mas Hamdan kamu?! Arggghhhh!” segera kulempar bantal ke arahnya. Menyebalkan sekali!

Bab 4

Aku terbangun pukul empat pagi. Hal pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah Mas Hamdan. Pria yang kucintai itu tengah tidur dengan posisi tengkurap di atas sofa yang terletak tepat di depanku.
Ah, aku baru ingat. Jika semalam aku mengusirnya dari kasur. Gara-gara dia tidak menambah uang belanjaku sedikit pun. 140.000 seminggu, yang tidak lain tetap 20.000 sehari.
Menyebalkan bukan?
Tapi kurasa itu tidak masalah, jika dia tidak protes lagi nantinya. Awas aja kalau masih protes. Akan kukasih lauk garam setiap harinya.
“Mas Hamdan, bangun Mas. Ayo shalat subuh,” kataku sambil mengguncang tubuhnya pelan.
“Mmmmhh.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sedang tubuhnya tak bergerak sedikit pun.
“Mas, ayo bangun. Shalat subuh. Kamu nggak mau telat pergi ke kantor kan,” kataku lagi.
Lagi-lagi, masih geraman kecil saja jawabannya.
Kesal, aku pun meninggalkannya begitu saja. Pergi ke kamar mandi, mencuci wajah. Kemudian mengambil air wudhu.
Setelahnya aku mendirikan shalat subuh di kamar kami. Begitu aku selesai mengucapkan salam, Mas Hamdan baru mulai bangun sambil mengucek matanya.
“Loh, kamu udah shalat duluan Rum? Kenapa nggak nungguin aku?” tanya Mas Hamdan.
Aku tak menjawab. Hanya memutar bola mata kesal. Mas Hamdan pun segera pergi mengambil wudhu, untuk kemudian shalat subuh.
Aku sudah ada di dapur saat Mas Hamdan kembali dari kamar mandi. Pagi ini aku akan membuat menu nasi goreng, karena yang kumiliki hanya beras, beberapa bumbu, dan juga telur.
Aroma nasi goreng mulai menguar, dan tak lama setelah aku selesai memasak nasi goreng. Sekaligus membuat dua buah telur mata sapi. Mas Hamdan juga turun dari lantai atas.
Pria itu sudah rapih lengkap dengan tas kantornya.
“Wah, rajin banget. Ada apa nih,” gumamku dalam hati. Bagaimana tidak? Biasanya, jam segini pria yang tidak lain adalah suamiku itu. Dia masih sibuk rebahan habis shalat subuh.
Aku selesai masak, dia masih enak-enakan kelakaran di atas kasur. Tapi hari ini … apa aku perlu mencurigainya?
Aih, kurang kerjaan banget nggak sih? Tapi, bagaimana kalau dia memang layak untuk itu? Hah, sebagai istri yang baik aku harus waspada.
Apa artinya sekarang ini aku sedang cemburu? Terserah lah apapun itu namanya.
“Rajin banget Mas? Biasanya juga masih setengah ileran,” sapaku saat dia berdiri tepat di depanku.
Mas Hamdan bukannya menjawab malah mengulurkan tangannya. Apa dia mulai minta uang bensin juga?
“Kamu nggak mau cium tangan aku?” tanyanya.
“Loh, emang mau berangkat sekarang?” tanyaku.
“Yap,” jawabnya cepat.
“Tapi, kamu kan belum makan Mas,” ucapku lagi. Betul kan, bagaimana seorang suami bisa pergi bekerja jika dia saja belum sarapan?
“Nggak apa-apa,” jawabnya. “Aku bisa makan di luar nanti,” jawabnya.
“Hmmm.” Aku pun melipat kedua tanganku di depan dada. Jadi begitu, dia sudah rapi jam segini bukan karena rajin, tapi karena dia mau sarapan di luar dan tidak mau makan masakanku?
“Kamu udah nggak mau lagi makan masakanku, Mas?” tanyaku sembari menatap serius ke arahnya.
“Ehm. Bukan, bukan begitu Sayang. Tapi, ini aku kan udah rapi banget nih. Aku harus cepet-cepet pergi ketua, kalau enggak. Nanti aku malah jadi berantakan lagi. Kamu baik-baik di rumah ya Sayang. Aku pergi dulu. Oke Arum?” Mas Hamdan nyengir sambil mengacungkan jempol.
“Mas, aku ngambek ya kalau kamu nggak makan nasi goreng masakanku dulu sebelum pergi,” ucapku dengan bibir mengerucut. Tidak terima dia pergi begitu saja disaat aku sudah lelah lelah memasak untuknya.
“Lain kali ya Arum Sayang. Sekarang aku pergi dulu. Dadahhh Sayang!” seru Mas Hamdan. Pria itu mengecup singkat keningku, kemudian pergi.
“Masss!” Aku merengek. Tapi dia tetap abai. Tak lama aku mendengar suara kendaraannya yang berpacu meninggalkan area rumah.

Bab 5

[Uang 140.000 ini buat kamu ya Sayang. Kamu atur gimana itu cukup untuk makan kita seminggu.]

Mataku melorot saat membaca tulisan yang Mas Hamdan tinggalkan di atas kasur.

Yah, dia menulis pesan itu di sebuah kertas kecil. Di mana di bawah kertas itu ada yang 140.000 yang dia bicarakan.

“Apa?! Ini seriusan nih, dia nggak ada inisiatif buat nambahin atau apa gitu? Dia cuma ngasih 140.000? Beneran nggak ada tambahannya? Wah bener-bener yaa,” gumamku.

Kuraih uang 140.000 yang Mas Hamdan berikan. Kusimpan ke dalam dompet, kemudian aku memilih untuk naik ke atas kasur dan mengecek laptop.

Daripada kesal mikirin kelakuan Mas Hamdan, lebih baik sekarang aku nulis lagi. Lumayan, kalau buat gajian bisa buat tambahan uang belanja yang nggak masuk akal itu.

Saat lagi asik-asiknya nulis. Pintu rumahku tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Aku pun bergegas mengecek siapa yang datang.

Begitu pintu terbuka, aku terkejut melihat seorang gadis muda, memakai masker yang menutupi wajahnya. Dia terlihat sangat modis dengan tas selempang yang ada di bahu kirinya. Sedang tangan kanannya memegang sebuah koper.

“Siapa dia?” tanya hatiku saat pertama kali melihatnya.

“Kenalin Mbak, ini aku Maria. Adik sepupunya Mas Hamdan. Alias, anak dari Bibinya Mas Hamdan,” ucap gadis itu memperkenalkan diri. Mungkin karena melihat wajahku yang kebingungan.

Ia mengulurkan tangannya, meski sedikit ragu dan bingung. Aku tetap menjabat tangannya dan memintanya untuk masuk.

“Ohh, adik sepupunya Mas Hamdan. Saya Arum, istrinya Mas Hamdan. Mari masuk,” kataku. “Tapi Mas Hamdannya udah pergi kerja nihh. Kamu mau minum apa?” tanyaku setelah memintanya duduk di kursi ruang tamu.

“Jus strawberry, kalau ada,” jawab gadis bernama Maria itu sambil tersenyum.

“Maaf, nggak ada strawberry di kulkas. Dan kulkasnya lagi kosong, isinya cuma buah pisang aja,” ucapku sedikit merasa tidak enak. Ya, kalian tau sendiri kan sepelit apa Mas Hamdan itu. Jadi mana mungkin ada buah-buahan di kulkas. Adanya hanya pisang, itu pun pemberian dari tetangga yang katanya panen banyak dari kebun pisangnya.

“Ohh, ya udah. Kalau gitu air putih aja,” kata Maria.

“Ya udah, saya ambilin dulu ya,” kataku. Kemudian segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.

Sampai di dapur aku tidak langsung mengambilkan minum untuk Maria. Melainkan mengambil HP untuk menghubungi Mas Hamdan.

Yahh, aku sedikit tidak nyaman dan curiga dengan kedatangan gadis itu yang membawa koper. Apakah dia sedang berpamitan mau pergi, atau malah dia mau nginap di sini yaa?

Kalau dia nginap di sini, apa iya aku ijinkan? Sedang, pakaiannya saja terlihat seperti kurang bahan begitu.

Ahh, sebaiknya aku tanyakan dulu sama Mas Hamdan. Awas aja kalau dia macem-macem, apalagi kalau sampai dia tau tapi tidak memberitahuku dan malah pergi ke kantor terlalu pagi seperti tadi.

[Mas, ada adik sepupu kamu namanya Maria datang ke sini. Dia bawa koper, kira-kira dia mau ngapain kamu tau nggak Mas?]

Kukirim pesan untuk Mas Hamdan. Tak lama tulisan mengetik pun segera tertulis di bawah nama kontaknya.

[Maria? Anaknya bibiku? Ah, jangan ngadi-ngadi kamu Rum. Nggak mungkin dia ke rumah kita.]

[Yee, dikasih tau nggak percaya Mas. Udah, pokoknya aku nggak mau ya kalau sampai dia nginep di rumah kita.]

[Udah lah Rum, nggak usah aneh-aneh. Nggak mungkin ada Maria di sini.]

Jawaban dari Mas Hamdan benar-benar membuatku kesal. Bagaimana bisa dia justru tak percaya kalau memang ada gadis bernama Maria yang datang ke sini membawa koper? Nyebelin emang.

Tak peduli dengan balasan Mas Hamdan yang bikin jengkel. Aku segera mengambil minum untuk Maria. Takut dianya nunggu kelamaan.

Mungkin saja dia cuma mau pamit kan, jadi mungkin dia buru-buru. Ah, aku masih sangat berharap dia hanya pamitan dan minta doa saja. Bukan menginap.

Namun sesampainya aku di ruang tamu. Aku tak menemukan lagi keberadaan Maria.

Jadi, di mana dia? Di mana Maria?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Uang Belanja di Tangan Suami Pelit

Esana Gulpinar

“Arumm! Rum, tambahin lagi uangnya!” seru Mas Hamdan yang baru saja pulang dari pasar.

“Uang apa, Mas? Tadi 20.000 kurang?” tanyaku heran. Apalagi jika melihat wajahnya yang tampak sangat kesal.

“Kurang lah, kamu ini gimana sih. Nggak inget, seberapa banyak catatan yang kamu kasih ke aku?” tanyanya dengan tatapan yang menukik tajam ke arahku.

“Oke, kalau kamu nggak inget. Sini aku bacain,” ungkapnya sambil merogoh sebuah kertas kecil dari saku kanannya.

“Cabai rawit, bawang merah, bawang putih. Telur, daun bawang, wortel, tomat. Sebanyak itu, mana cukup uang dua puluh ribu? Nih, aku cuma bawa telur doang. Itu pun masih ngutang 9.000 di warung. Malu banget aku,” lanjutnya berapi-api.

“Loh, Mas. Masak cuma dapat telur aja sih? Kan biasanya juga, aku kamu kasih uang 20.000 cukup-cukup aja tuh. Malah kamu bilang aku ini boros,” ucapku. Sengaja kubilang begitu siapa tau dia sadar. Betapa pelitnya dia selama ini.

Untuk beberapa saat Mas Hamdan pun terdiam. Hati ini mulai senang. Akhirnya dia sadar. Ah, sepertinya dia memang sadar.

“Kamu pasti ngambil duit simpanan di brankas. Atau kamu minta sama Ibu ya untuk tambahan uang belanja kamu setiap harinya?” tanyanya. Menatapku curiga. Sakit hatiku mendengar tuduhannya.

“Kamu tanya aja sama Ibu Mas. Apa aku pernah minta uang sama Ibu atau nggak,” kataku cuek. Mengambil satu kilo telur yang tadi dia bawa, kemudian menyelonong pergi ke belakang. Siap-siap masak lauk.

“Ehh, Arum! Mau ke mana kamu? Aku belum selesai ngomong!” teriak Mas Hamdan.

“Mau masak, Mas. Udah laper kan? Dari pagi kita belum sarapan. Sekarang udah mau jam sembilan,” jawabku sambil terus berjalan menuju dapur.

Aku memang belum masak. Karena Mas Hamdan pergi ke pasar sangat lama. Dari pagi jam 6 sampai sekarang. Sementara aku harus menunggu barang yang dia beli dulu. Baru bisa masak.

“Mana, tambahin dulu uangnya. Aku harus beli yang lainnya juga,” katanya menahanku.

“Nggak bisa, Mas. Kamu sendiri yang bilang, kalau pengeluaran kita nggak boleh lebih dari 20.000 sehari. Dan kalau bisa dari 20.000 itu harus ada sisanya,” kataku. Aku menatapnya sebentar, kemudian kembali fokus memasak. Kuambil satu mangkuk untuk mengaduk telur yang tadi Mas Hamdan beli.

“Aduh, mana bener lagi. Ya udah, sekarang mana kasih 9000. Itu masih hutang telurnya,” katanya.

“Nggak bisa, Mas. Jangan langgar ucapan Mas sendiri,” kataku. Tetap bersikeras tidak mau memberi dia uang lagi.

“Terus ini gimana aku bayar telurnya Arum? Malu kalau nggak bayar sekarang,” katanya dengan nada memelas.

“Besok kamu akan aku kasih uang 20.000 lagi Mas. Kamu bisa bayar pakai uang itu nantinya,” jawabku.

“Terus, belanja buat besok gimana? Nggak kamu tambahin juga uangnya?” tanyanya lagi.

“20.000 dikurangi 9000 masih sisa 11.000 kan Mas. Udah deh, sekarang kamu mending istirahat. Kasihan kamu pasti capek abis jalan kaki dari sini sampai pasar,” kataku.

“Atau, kamu mandi aja dulu Mas. Biar segeran. Habis mandi telurnya pasti udah matang.”

“Arum! Kamu bener-bener ya!” teriak Mas Hamdan kesal. “Aku mau ke rumah Ibu. Mau minta uang buat bayar hutangnya. Punya istri satu aja pelitnya minta ampun,” gerutunya sambil pergi. Tentunya itu setelah dia membanting pintu dekat dapur.

“Pelit?” gumamku sambil menunjuk batang hidungku. Aku kan hanya menjalankan apa yang dia mau.

Dia yang protes 20.000 sehari habis. Dia juga yang ngotot dijatah 20.000 sehari dan dia yang akan membelanjakannya. Ehh, sekarang dia juga yang ngeluh uangnya nggak cukup.

Jadi, siapa yang sebenarnya boros dan nggak bisa ngatur keuangan Mas?

Bab 2

Mas Hamdan benar-benar pergi ke rumah ibunya. Bahkan sampai sore hari ia belum juga kembali. Ternyata, dia jauh lebih pundungan daripada aku.

Perutku sudah kenyang dengan makan nasi lauk telur dadar. Lumayan lah, ya. Daripada enggak makan.

Karena hari sudah semakin sore, dan Mas Hamdan belum juga pulang. Aku pun berinisiatif untuk menghubunginya melalui telepon.

“Halo, Mas. Lagi di mana?” tanyaku begitu sambungan telepon terhubung.

“Lagi di rumah Ibu. Di sini enak, makan lauk ikan goreng. Ada sambel terasi sama sayur beningnya juga. Aku pulang nanti malam, di sana pasti cuma makan telur dadar doang!” serunya. Dari suaranya masih terdengar sangat berapi-api. Nampaknya dia masih kesal.

“Loh, kan tadi kamu sendiri yang belanja ke pasar, Mas. Aku kan cuma bagian masak aja,” jawabku tidak terima.

“Halah, alesan aja kamu!” Ketus Mas Hamdan. Setelah itu juga sambungan telepon terputus begitu saja.

“Huh, das ar ∆neh!” Aku pun meletakkan handphone di atas nakas. Kemudian pergi mandi. Badanku sudah sangat gerah karena aktivitas seharian.

Selesai mandi, aku duduk di ruang tamu. Membaca berita-berita terbaru, sambil menunggu siapa tau Mas Hamdan datang.

Tapi sampai adzan Maghrib berkumandang. Suamiku itu belum juga nampak batang hidungnya. Dia betah di rumah ibunya ternyata.

Ada rasa kesal di hatiku. Apa dia itu nggak sadar, kalau selama dia juga mejatahku uang belanja 20.000 saja per hari?

Bukankah itu salahnya sendiri, kenapa dia cuma beli telur aja? Kenapa nggak ikan, terasi, sama sayuran?

“Ah, bodo amat dah. Mau dia pulang, atau nginep di rumah ibunya. Malah bagus, di sini aku jadi lebih tenang melakukan banyak aktivitas. Dan yaa, semoga nanti dia pas pulang dia itu sadar bahwa 20.000 itu terlalu kecil. Jika habis, itu bukan boros. Memang harga kebutuhan pokok udah nggak murah lagi,” ucapku. Ku letakkan tablet di meja. Kemudian masuk ke dalam rumah untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib.

Usai Maghrib, aku membaca Al-quran meski beberapa ayat saja. Setelahnya aku akan duduk di depan televisi untuk menonton apa saja yang saat itu aku ingin tonton.

Karena tidak ada acara yang menarik. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

Di kamar, segera kuambil laptop milikku. Dari sana, aku langsung mengecek update tulisan di website pribadi yang sudah aku buat beberapa waktu terakhir.

Di sela-sela waktuku mengurus rumah tangga. Aku selalu asik membuat konten berupa tulisan untuk aku upload di akun website pribadiku.

Selain itu, aku juga bermain affiliate dari berbagai marketplace. Juga menulis novel di berbagai platform ternama.

Yahh, dari sanalah aku mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika tidak, bayangkan saja. Dari mana aku mendapatkan Ikan, ayam, dan lain sebagainya hanya dengan uang 20.000?

Ketukan di pintu mengagetkanku. Segera kumatikan laptop dan menyimpannya kembali ke atas meja.

Berjalan ke luar untuk mengecek siapakah yang datang?

Dan, begitu pintu kubuka. Aku tidak menemukan siapapun di sana. Mendadak bulu kudukku jadi merinding dibuatnya.

Aku pun segera menutup pintu dengan perasaan gelisah. Tidak lupa aku menguncinya dan bergegas kembali ke kamar.

Namun, baru beberapa langkah. Pintu itu kembali diketuk. Aku yang penasaran pun segera mengintip dari jendela. Dan pemandangan mengerikan langsung menyapaku di sana.

“Aaaaaaa!” teriakku terkejut.

Bab 3

“Kamu itu apa-apaan, sih Mas? Ngagetin tauk! Kalau aku sampai mati jantungan gimana?” Protesku begitu aku berhasil menguasai keadaan dan membuka pintu untuk Mas Hamdan.

“Bercanda,” ucapnya tanpa rasa bersalah. Laki-laki yang menikahiku setahun yang lalu itu pun menyelonong begitu saja.

Aku mengunci pintu, kemudian mengikuti langkahnya yang berjalan menuju kamar kami.

“Oh iya, tadi katanya mau pulang malem. Kirain bakal pulang nanti jam 10 an,” ucapku sambil terus mengikutinya dari belakang.

“Tadinya sih aku mau pulang ntar malem aja. Kalau perlu nggak pulang. Biarin aja kamu di rumah sendirian. Tapi, mana tega aku biarin istriku yang cantik jelita ini di rumah sendirian?” Mas Hamdan menjawab sambil melepas kaos yang dia kenakan. Kemudian menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu.

“Halah modus. Aslinya sama Ibu diusir kan, disuruh pulang,” tebakku. Mas Hamdan tidak menjawab. Pria itu langsung pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar bunyi orang mandi dari sana.

Aku yakin Mas Hamdan emang disuruh pulang sama ibunya. Aku sangat tau, ibu mertuaku itu memang sangat menyayangi dan memanjakan Mas Hamdan. Tapi, Ibu tidak pernah pilih kasih di antara kita berdua. Tak pernah mendukung salah satu di antara kami. Itu membuatku merasa beruntung memiliki ibu mertua seperti beliau.

Yang sayang dengan anak dan mantunya. Tapi tak pernah mau ikut campur apapun masalah yang ada di dalam rumah tangga anaknya. Tak jarang, ibu justru menjadi pendamai dikala aku dan Mas Hamdan bertengkar.

Tak lama, Mas Hamdan sudah kembali dari kamar mandi. Bau sabun yang begitu khas menguar dari tubuhnya. Membuatku merasa sedikit … ehm! Tak perlu aku katakan pasti kalian juga paham dengan apa yang aku maksud.

“Aku ganteng ya? Makanya diliatin terus dari tadi?” celetuk Mas Hamdan saat ia sedang sibuk mencari baju di lemari.

“Hush, PD! Inget, diangkat kalau ambil baju. Jangan ditarik, capek tauk beresinnya tiap hari,” kataku mengingatkan.

Kalian tau kan, bagaimana tabiat kaum laki-laki kalau mereka sedang mengambil pakaian di lemari? Aih, auto acak-acakan.

“Iya iyaa …,” sahutnya lembut. Dan … ya meski sudah bilang iya. Tetap saja dia tarik baju yang ia pilih. Jadilah beberapa potong pakaian ikut berhamburan.

“Mas Hamdannn!!!” pekikku kesal. Geram kutatap pria itu.

“Maaf Arum Sayang,” jawabnya sambil nyengir. Pamer giginya yang putih dan bersih.

“Maaf maaf. Beresin tuh!” titahku ketus.

“Iya Sayang, jangan galak galak dong. Nanti cantiknya berkurang loh,” goda Mas Hamdan sambil mencolek daguku lembut.

Aku hanya bisa tersipu malu menanggapi tingkah lakunya itu. Tapi mengingat apa yang terjadi hari ini, terutama tadi pagi dan apa yang dia lakukan kemarin-kemarin. Aku pun memilih untuk melengos dan duduk di atas kasur.

Mas Hamdan tak mengusikku lagi. Pria itu fokus mengenakan pakaiannya. Setelah selama ia mengambil botol parfum dan menyemprotkannya ke beberapa bagian tubuhnya.

“Sayang,” panggil Mas Hamdan sambil duduk di sebelahku.

“Hmmm,” jawabku. Malas.

“Maaf yaa. Aku minta maaf udah suka ngatain kamu boros. Padahal uang belanja yang aku kasih cuma 20.000 sehari. Ternyata 20.000 itu nilainya kecil banget ya Sayang. Aku minta maaf yaa. Kamu mau kan, maafin Mas Sayang?” Mas Hamdan meraih kedua tanganku dan mengecup punggung tangannya secara bergantian.

“Jadi, sekarang Mas udah paham kalau biaya hidup itu mahal?” tanyaku. Dia mengangguk mantap.

“Jadi, tetap Mas kan yang pergi belanja harian?”

“Enggak Sayang,” jawabnya sambil menggeleng cepat.

“Terus?”

“Karena sehari 20.000 itu sedikit. Nanti mas kasih 140.000 yaa. Dan sekarang kamu lagi yang belanja.”

“Seriusan Mas?”

“Iya Sayang.”

“Aaaa, kamu baik banget Mas. Kamu emang suami paling pengertian Mas.”

“Iya Sayang. Nanti 140.000 itu kamu cukup-cukupin buat keperluan satu minggu ya? Mas percaya kamu pasti bisa aturnya.”

“Se-seminggu? Mas Hamdan kamu?! Arggghhhh!” segera kulempar bantal ke arahnya. Menyebalkan sekali!

Bab 4

Aku terbangun pukul empat pagi. Hal pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah Mas Hamdan. Pria yang kucintai itu tengah tidur dengan posisi tengkurap di atas sofa yang terletak tepat di depanku.
Ah, aku baru ingat. Jika semalam aku mengusirnya dari kasur. Gara-gara dia tidak menambah uang belanjaku sedikit pun. 140.000 seminggu, yang tidak lain tetap 20.000 sehari.
Menyebalkan bukan?
Tapi kurasa itu tidak masalah, jika dia tidak protes lagi nantinya. Awas aja kalau masih protes. Akan kukasih lauk garam setiap harinya.
“Mas Hamdan, bangun Mas. Ayo shalat subuh,” kataku sambil mengguncang tubuhnya pelan.
“Mmmmhh.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sedang tubuhnya tak bergerak sedikit pun.
“Mas, ayo bangun. Shalat subuh. Kamu nggak mau telat pergi ke kantor kan,” kataku lagi.
Lagi-lagi, masih geraman kecil saja jawabannya.
Kesal, aku pun meninggalkannya begitu saja. Pergi ke kamar mandi, mencuci wajah. Kemudian mengambil air wudhu.
Setelahnya aku mendirikan shalat subuh di kamar kami. Begitu aku selesai mengucapkan salam, Mas Hamdan baru mulai bangun sambil mengucek matanya.
“Loh, kamu udah shalat duluan Rum? Kenapa nggak nungguin aku?” tanya Mas Hamdan.
Aku tak menjawab. Hanya memutar bola mata kesal. Mas Hamdan pun segera pergi mengambil wudhu, untuk kemudian shalat subuh.
Aku sudah ada di dapur saat Mas Hamdan kembali dari kamar mandi. Pagi ini aku akan membuat menu nasi goreng, karena yang kumiliki hanya beras, beberapa bumbu, dan juga telur.
Aroma nasi goreng mulai menguar, dan tak lama setelah aku selesai memasak nasi goreng. Sekaligus membuat dua buah telur mata sapi. Mas Hamdan juga turun dari lantai atas.
Pria itu sudah rapih lengkap dengan tas kantornya.
“Wah, rajin banget. Ada apa nih,” gumamku dalam hati. Bagaimana tidak? Biasanya, jam segini pria yang tidak lain adalah suamiku itu. Dia masih sibuk rebahan habis shalat subuh.
Aku selesai masak, dia masih enak-enakan kelakaran di atas kasur. Tapi hari ini … apa aku perlu mencurigainya?
Aih, kurang kerjaan banget nggak sih? Tapi, bagaimana kalau dia memang layak untuk itu? Hah, sebagai istri yang baik aku harus waspada.
Apa artinya sekarang ini aku sedang cemburu? Terserah lah apapun itu namanya.
“Rajin banget Mas? Biasanya juga masih setengah ileran,” sapaku saat dia berdiri tepat di depanku.
Mas Hamdan bukannya menjawab malah mengulurkan tangannya. Apa dia mulai minta uang bensin juga?
“Kamu nggak mau cium tangan aku?” tanyanya.
“Loh, emang mau berangkat sekarang?” tanyaku.
“Yap,” jawabnya cepat.
“Tapi, kamu kan belum makan Mas,” ucapku lagi. Betul kan, bagaimana seorang suami bisa pergi bekerja jika dia saja belum sarapan?
“Nggak apa-apa,” jawabnya. “Aku bisa makan di luar nanti,” jawabnya.
“Hmmm.” Aku pun melipat kedua tanganku di depan dada. Jadi begitu, dia sudah rapi jam segini bukan karena rajin, tapi karena dia mau sarapan di luar dan tidak mau makan masakanku?
“Kamu udah nggak mau lagi makan masakanku, Mas?” tanyaku sembari menatap serius ke arahnya.
“Ehm. Bukan, bukan begitu Sayang. Tapi, ini aku kan udah rapi banget nih. Aku harus cepet-cepet pergi ketua, kalau enggak. Nanti aku malah jadi berantakan lagi. Kamu baik-baik di rumah ya Sayang. Aku pergi dulu. Oke Arum?” Mas Hamdan nyengir sambil mengacungkan jempol.
“Mas, aku ngambek ya kalau kamu nggak makan nasi goreng masakanku dulu sebelum pergi,” ucapku dengan bibir mengerucut. Tidak terima dia pergi begitu saja disaat aku sudah lelah lelah memasak untuknya.
“Lain kali ya Arum Sayang. Sekarang aku pergi dulu. Dadahhh Sayang!” seru Mas Hamdan. Pria itu mengecup singkat keningku, kemudian pergi.
“Masss!” Aku merengek. Tapi dia tetap abai. Tak lama aku mendengar suara kendaraannya yang berpacu meninggalkan area rumah.

Bab 5

[Uang 140.000 ini buat kamu ya Sayang. Kamu atur gimana itu cukup untuk makan kita seminggu.]

Mataku melorot saat membaca tulisan yang Mas Hamdan tinggalkan di atas kasur.

Yah, dia menulis pesan itu di sebuah kertas kecil. Di mana di bawah kertas itu ada yang 140.000 yang dia bicarakan.

“Apa?! Ini seriusan nih, dia nggak ada inisiatif buat nambahin atau apa gitu? Dia cuma ngasih 140.000? Beneran nggak ada tambahannya? Wah bener-bener yaa,” gumamku.

Kuraih uang 140.000 yang Mas Hamdan berikan. Kusimpan ke dalam dompet, kemudian aku memilih untuk naik ke atas kasur dan mengecek laptop.

Daripada kesal mikirin kelakuan Mas Hamdan, lebih baik sekarang aku nulis lagi. Lumayan, kalau buat gajian bisa buat tambahan uang belanja yang nggak masuk akal itu.

Saat lagi asik-asiknya nulis. Pintu rumahku tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Aku pun bergegas mengecek siapa yang datang.

Begitu pintu terbuka, aku terkejut melihat seorang gadis muda, memakai masker yang menutupi wajahnya. Dia terlihat sangat modis dengan tas selempang yang ada di bahu kirinya. Sedang tangan kanannya memegang sebuah koper.

“Siapa dia?” tanya hatiku saat pertama kali melihatnya.

“Kenalin Mbak, ini aku Maria. Adik sepupunya Mas Hamdan. Alias, anak dari Bibinya Mas Hamdan,” ucap gadis itu memperkenalkan diri. Mungkin karena melihat wajahku yang kebingungan.

Ia mengulurkan tangannya, meski sedikit ragu dan bingung. Aku tetap menjabat tangannya dan memintanya untuk masuk.

“Ohh, adik sepupunya Mas Hamdan. Saya Arum, istrinya Mas Hamdan. Mari masuk,” kataku. “Tapi Mas Hamdannya udah pergi kerja nihh. Kamu mau minum apa?” tanyaku setelah memintanya duduk di kursi ruang tamu.

“Jus strawberry, kalau ada,” jawab gadis bernama Maria itu sambil tersenyum.

“Maaf, nggak ada strawberry di kulkas. Dan kulkasnya lagi kosong, isinya cuma buah pisang aja,” ucapku sedikit merasa tidak enak. Ya, kalian tau sendiri kan sepelit apa Mas Hamdan itu. Jadi mana mungkin ada buah-buahan di kulkas. Adanya hanya pisang, itu pun pemberian dari tetangga yang katanya panen banyak dari kebun pisangnya.

“Ohh, ya udah. Kalau gitu air putih aja,” kata Maria.

“Ya udah, saya ambilin dulu ya,” kataku. Kemudian segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.

Sampai di dapur aku tidak langsung mengambilkan minum untuk Maria. Melainkan mengambil HP untuk menghubungi Mas Hamdan.

Yahh, aku sedikit tidak nyaman dan curiga dengan kedatangan gadis itu yang membawa koper. Apakah dia sedang berpamitan mau pergi, atau malah dia mau nginap di sini yaa?

Kalau dia nginap di sini, apa iya aku ijinkan? Sedang, pakaiannya saja terlihat seperti kurang bahan begitu.

Ahh, sebaiknya aku tanyakan dulu sama Mas Hamdan. Awas aja kalau dia macem-macem, apalagi kalau sampai dia tau tapi tidak memberitahuku dan malah pergi ke kantor terlalu pagi seperti tadi.

[Mas, ada adik sepupu kamu namanya Maria datang ke sini. Dia bawa koper, kira-kira dia mau ngapain kamu tau nggak Mas?]

Kukirim pesan untuk Mas Hamdan. Tak lama tulisan mengetik pun segera tertulis di bawah nama kontaknya.

[Maria? Anaknya bibiku? Ah, jangan ngadi-ngadi kamu Rum. Nggak mungkin dia ke rumah kita.]

[Yee, dikasih tau nggak percaya Mas. Udah, pokoknya aku nggak mau ya kalau sampai dia nginep di rumah kita.]

[Udah lah Rum, nggak usah aneh-aneh. Nggak mungkin ada Maria di sini.]

Jawaban dari Mas Hamdan benar-benar membuatku kesal. Bagaimana bisa dia justru tak percaya kalau memang ada gadis bernama Maria yang datang ke sini membawa koper? Nyebelin emang.

Tak peduli dengan balasan Mas Hamdan yang bikin jengkel. Aku segera mengambil minum untuk Maria. Takut dianya nunggu kelamaan.

Mungkin saja dia cuma mau pamit kan, jadi mungkin dia buru-buru. Ah, aku masih sangat berharap dia hanya pamitan dan minta doa saja. Bukan menginap.

Namun sesampainya aku di ruang tamu. Aku tak menemukan lagi keberadaan Maria.

Jadi, di mana dia? Di mana Maria?

Tertarik Dengan Buku : Uang Belanja di Tangan Suami Pelit ?

Uang Belanja di Tangan Suami Pelit

Esana Gulpinar