Runtuhnya Dinding Keangkuhan

Esana Gulpinar
Sinopsis Satu tahun usia pernikahan, dia baru tahu bagaimana watak keluarga besar suaminya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan, itu terjadi dalam keluarga mereka. Harta, tahta, dan kecantikan? Apa yang kau banggakan, jika pada akhirnya mereka pun akan binasa. #Catatan harian Aida Roxelana BACA JUGA : -Sang Pembunuh -Bekas Lipstik

Bagikan Cerita ini :

Bab 1 : Sambutan Menyakitkan

Kediaman Iskender,

 

03-April-2018

 

Satu tahun aku menjalani pernikahan ini. Kupikir aku sudah bahagia. Suami tampan, kaya, berpendidikan, dengan pekerjaan yang ‘wah’.

Baru saja aku menginjakkan kaki ke dalam gerbang rumah mewah yang orang sebut sebagai kediaman Tuan Besar Iskender. Pernyataan tidak enak sudah menyapa telingaku.



“Kamu siapa?” tanya seorang wanita yang terlihat seumuran denganku. Ada balita manis dalam gendongannya.

“Gembel, ‘kok bisa, sih masuk ke tempat ini. Memangnya ada diantara keluarga kita yang seperti dia?” tambahnya sambil menatap ke arah wanita yang berdiri di sampingnya. Wanita itu terlihat lebih tua, mungkin ibunya?

“Mungkin dia pembantu kali, Sayang. Sudah jangan dipedulikan, lihat saja penampilannya bahkan nggak lebih baik dari pembantu di rumah kita.”

“Nggak mungkin, lah Mah. Pembantu di rumah ini, ‘kan cuma Saripah. Jangan-jangan dia pengemis. Kita usir saja yuk, Mah.”

Nyeri dikatakan seperti itu. Apa hanya karena pakaian yang aku kenakan, mereka sampai berlaku seperti itu.

“Saya Aida. Istri Mas Zeeshan,” ucapku akhirnya.

“Istri Zeeshan? Jangan ngaco, deh kamu! Mana mungkin Zeeshan mau nikah sama wanita kampungan seperti kamu!”

“Kampungan? Apa ada yang salah denganku, sampai kamu katakan kampungan?” Jujur aku bukan wanita yang memiliki kesabaran berlebih. Dikatakan seperti ini rasanya ingin aku sobek-sobek saja mulutnya.

Tapi … lagi-lagi norma dan etika membuatku menahan diri. Apalagi ini adalah untuk pertama kalinya Mas Zeeshan mengajakku datang ke reuni keluarga. Aku tidak ingin membuatnya malu hanya karena pertengkaran ini.

“Masih nanya kesalahan kamu? Lihatlah dirimu, pakaian yang kamu pakai itu sangat kampungan. Tidak mungkin kamu adalah istri Zeeshan.”



“Aku memang istri Mas Zeeshan. Terserah, kamu mau percaya atau tidak,” ucapku sambil melenggang pergi.

Namun, wanita itu seolah tidak terima aku tinggalkan begitu saja.

“Tunggu!” serunya dingin. Sontak langkahku pun terhenti.

“Kamu tidak diijinkan untuk masuk ke dalam.” Ia mendekat. Tidak ada lagi balita mungil dalam gendongannya. Ternyata anak kecil yang manis itu ikut dengan neneknya.

“Kenapa?”

“Karena wanita miskin tidak diterima di dalam keluarga ini. Lebih baik kamu pergi sekarang, karena di dalam pun kamu juga tidak akan diterima.” Ia tersenyum sinis. Wajah yang sebenarnya cantik itu seolah tertutup oleh kesombongan yang terpancar jelas.

“Aku istri Mas Zeeshan. Kenapa tidak boleh masuk.” Keributan antara aku dan wanita yang tidak aku kenal ini mengundang perhatian orang yang ada di halaman.

“Ada apa ini, Sayang?” tanya seorang pria. “Loh, ‘kok ada gembel di sini?” tambahnya sambil mencebik ke arahku.

“Ngakunya, ‘sih istri Zeeshan. Apa benar, desas-desus yang aku dengar kalau istri dari Zeeshan Iskender itu miskin. Nggak nyangka, seleranya bisa turun serendah ini.” Hatiku semakin membara mendengar ucapannya. Tapi aku harus sabar lebih dulu, pemenang selalu muncul belakangan.

“Ohhh. Jadi dia orang miskin. Kasihan sekali. Datang ke sini pasti hanya agar bisa makan enak.” Pria itu ternyata sama saja. Perkataannya sangat menyakitkan. Seolah dirinya itu sangat kaya raya.

“Memangnya kenapa kalau aku ini orang miskin? Entah aku miskin atau kaya, bukankah sama saja. Aku tetap menjadi bagian dari keluarga besar Iskender.”

“Wah wah wah …. Orang seperti kamu masih merasa menjadi bagian dari keluarga Iskender? Cih! Ngaca!” Pria itu mendorongku hingga terjatuh.

“Hahahaha!”

“Hahahaha!”

Mereka tertawa puas. Seolah-olah bahagia melihat tubuhku terjerembab ke tanah. Aku tidak menyangka, hanya karena pakaian yang aku kenakan. Mereka bisa merendahkanku sampai seperti ini.

“Elbina, sepertinya acara sudah akan dimulai. Kita masuk aja, yuk. Nggak ada gunanya juga ngurusin wanita ini.”

“Iya, Mas.”

Dua pasang suami istri itu akhirnya pergi. Meninggalkan diriku dengan setitik luka dalam hati. Sang Ibu yang menggendong cucunya juga menyusul masuk.

Selama ini aku memang meminta Mas Zeeshan untuk merahasiakan bahwa aku adalah seorang pemilik perusahaan. Aku tidak mau kalau keluarganya menerimaku hanya karena uang.

Aku bangkit. Beberapa bagain dari pakaianku sedikit kotor. Sekalipun halaman ini ditumbuhi rumput yang hijau, tapi tetap mampu membuat pakaianku kotor karena aku terjatuh cukup keras.

‘Apa hanya mereka berdua saja yang kejam dan memandang harta benda. Atau di dalam masih ada kejutan lain yang lebih mengerikan?’

Apapun itu. Lebih baik aku ikuti saja dulu permainan mereka. Setidaknya, sampai kesabaran di hatiku mencapai ambang batas.

Sampai jumpa di Bab selanjutnya yahh

Bab 2 : Siapkan Mental Baja

[Aida, kamu dibolehkan masuk, ‘kan? Mas baru mau otw balik ke sana. Kamu diperlakukan dengan baik, ‘kan?]

Aku tersenyum miris setelah membaca pesan dari Mas Zeeshan. Tidak tega kalau harus memberitahukan perlakuan buruk yang baru saja aku dapatkan.

[Boleh, ‘kok Mas. Mereka juga baik. Kamu hati-hati ya Sayang]

Kubalas pesannya cepat. Aku tidak mau kalau ia cemas sepanjang jalan. Mas Zeeshan tidak perlu tahu apa yang wanita itu perbuat.

Setelah memastikan tidak ada balasan pesan dari Mas Zeeshan. Aku melangkah masuk. Di pintu utama sudah ada dua penjaga yang siap menyambut kedatangan semua orang.

“Selamat pagi Nyonya, silahkan.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sapaan dari satpam. Di dalam aku langsung disambut dengan tatapan aneh orang-orang. Tapi itu hanya sementara, setelahnya mereka kembali tak acuh. Seolah-olah aku tidak pernah ada diantara mereka.

“Avika!” sapaku pada adik dari Mas Zeeshan. Aku mengenalnya, karena ia hadir cukup lama di pernikahanku dengan Mas Zeeshan.

“Siapa?” Ia menatapku aneh. Seolah ia tidak pernah bertemu denganku sebelumnya.

“Aida. Apa kamu lupa? Kita ngobrol cukup lama di hari pernikahanku,” kataku berbinar. Berharap ia hanya lupa karena memang sudah satu tahun tidak berjumpa.

Awalnya kupikir begitu, tapi ternyata ….

Ini sungguh terlalu menyakitkan.

“Aku tahu kamu Aida. Istri Mas Zeeshan. Maksudku, siapa kamu berani-beraninya datang dan bersikap sok akrab denganku.” Ia menenggak minuman di tangannya.

“Hari itu kamu bilang, kalau kamu sudah menganggapku seperti saudara kandungmu. Kamu anggap aku seperti kakakmu juga. Kamu masih ingat, ‘kan?” tanyaku lagi. Hatiku masih cukup tangguh jika akhirnya kenyataan tidak seperti yang aku pikirkan.

“Saudara kandung? Hah. Bod*h sekali kamu mempercayainya. Aku tidak pernah serius dengan ucapanku hari itu. Lagipula, siapa, ‘sih yang mau punya kakak ipar miskin seperti kamu. Entah apa yang menutup mata Mas Zeeshan sampai tertarik dengan wanita seperti kamu?” Avika ketus.

Ternyata Avika juga tidak pernah menerimaku sebagai istri Mas Zeeshan.

“Avika, jadi dia itu istri saudaramu? Kamu datang ke perniakahannya?”

“Ya, mau bagaimana lagi. Kalau aku nggak datang, Mas Zeeshan tidak akan mengakui aku sebagai adiknya lagi. Jadi, ya terpaksa, deh. Datang ke pernikahan Mas Zeeshan dengan wanita kampungan ini.”

“Aku sih nggak datang. Mendengar calon istrinya keluarga miskin aja, tubuhku sudah gatal-gatal. Jadi enggak, deh. Enakan juga tidur di rumah.”

Mereka begitu sombong dengan harta yang mereka miliki. Merasa bangga dengan pencapaian yang mereka dapatkan saat ini. Sampai-sampai menghina nasib orang lain.

‘Apa ini benar-benar keluar Mas Zeeshan. Kenapa wataknya sangat jauh berbeda dengan suamiku itu. Nyaris berbeda 180 derajat.’

“Aida, mendingan kamu pulang saja deh. Di sini nggak ada yang mau nerima keberadaan kamu. Cuss, gih. Bikin gerah.”

“Aku akan pergi kalau Mas Zeeshan sudah datang ke sini. Ia yang akan menjemput dan membawaku pulang dari sini. Lagipula aku datang ke sini juga diundang oleh Kakek Iskender. Jadi, kamu tidak berhak mengusirku,” jawabku tegas. Mereka harus menghargaiku, karena aku memiliki hak yang sama seperti mereka.

“Belagu sekali dia Avika. Kasih pelajaran saja,” ucap wanita yang tidak aku kenal. Mungkin ia dan Avika sepupuan.

“Tenang saja. Wanita miskin seperti dia, biar aku tunjukkan di mana tempatnya berada.” Adik iparku tersenyum sinis.

Setelah menatapku tajam, Avika pergi entah kemana. Ia masuk lebih dalam ke rumah ini. Aku tidak tahu karena ini untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah Kakek Iskender.

“Lozer!” Wanita yang sejak tadi berbicara dengan Avika mendorongku. Aku nyaris tersungkur.

‘Sabar Aida. Sabar. Kamu belum bertemu dengan Kakek. Jadi, jangan terpancing keributan apapun. Sabar dulu, sabar.’

Aku terus menenangkan diri karena tidak mau menghancurkan suasana reuni keluarga yang bahkan belum dimulai.

Dibutuhkan ketabahan hati agar tidak terpancing emosi. Aku ikut membaur, di sana aku melihat Avika berbicara serius dengan seseorang. Setelah berbicara, ia sempat melirikku dengan tatapan yang menakutkan.

‘Apa yang akan Avika lakukan padaku. Aku harus siapakan mental dan tenaga untuk menghadapi semuanya.’

Bab 3 : Orang Kampung

“Perhatian, Tuan Besar Iskender segera memasuki ruangan.” Suara di microphone kudengar tegas.

Seluruh pasang mata tertuju pada sebuah meja makan besar. Di sana duduk seorang kakek yang mereka sebut sebagai Tuan Besar Iskender.

Perawakan tinggi besar, mirip seperti aktor Bollywood dengan bulu-bulu halus di sekitar wajahnya. Aku sempat terkesima, ia terlihat sebagai sosok Kakek yang berwibawa.

Namun, kekaguman itu berakhir setelah tahu ia memiliki sikap yang kurang baik.

“Hei, kamu!” serunya. Seluruh ruangan seketika bungkam.

Semua pasang mata menatap ke arahku. Di sana aku sadari bahwa akulah yang dia panggil.

“Aku?” tanyaku memastikan.

“Untuk apa kamu datang ke sini? Ini adalah reuni keluargaku. Keluarga besar Tuan Iskender. Bukan tempat mengemis bagi gembel seperti kamu!” teriaknya dari kursi besar di ruangan itu.

Ekspresi wajahku pasti berubah. Untuk pertama kalinya aku datang ke sini, tapi sudah dihina untuk kesekian kalinya.

“Hahahaha!” Gelak tawa orang-orang membuat telingaku semakin panas.

“Bener sekali Kek, tadi sudah aku usir. Eh, dianya nekat tetap di sini. Katanya, sih mau ketemu sama Kakek. Hahaha!” celetuk Devika.

Gadis itu benar-benar berbeda. Sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang aku lihat saat ia datang di pernikahanku dengan Mas Zeeshan. Saat itu ia begitu manis dan lembut. Hari ini aku melihat wajah aslinya.

“Lagipula, siap, ‘sih dia. Kalau Kakek saja tidak mengenalnya. Kenapa dia datang ke sini.”

“Iya Benar, baru kali ini aku melihat ada orang miskin yang bergabung dalam acara reuni ini. Apa diantara kalian ada yang mau mengadakan santunan di sini?” timpal salah seorang dari orang-orang berpakaian glamour itu.

“Kakek, apa Kakek juga lupa padaku? Aku adalah Aida, istri Mas Zeeshan. Saat itu Kakek juga hadir di pernikahan kami. Kakek bahkan terlihat sangat bahagia,” ucapku membuat orang-orang menatapku aneh. Kulihat Kakek juga memalingkan wajahnya tidak peduli.

“Istri Zeeshan? Oh, jadi yang orang kampung itu? Heran deh sama Zeeshan. Dia itu tampan dan mapan, ‘kok mau-mau aja, ‘sih nikah sama perempuan miskin seperti kamu,” cibir seorang gadis dengan pakaian mewah yang melekat di tubuhnya. Ia cantik, kulitnya putih bersih, sayang perilakunya tidak secantik wajah dan pakaiannya.

“Zeeshan? Dia istrinya? Lah, ‘kok lebih mirip bumi dan langit daripada sepasang suami istri,” tambah seseorang.

Aku berpikir, apakah di ruangan ini hanya terisi oleh orang-orang yang arogan, karena merasa lebih baik dengan harta yang mereka miliki.

“Hahaha. Jadi, Zeeshan menolak menikah denganku demi wanita seperti dirimu. Kasihan sekali dia. Menolak permata demi batu sungai.” Wanita cantik dan gaunnya yang berwarna merah terang itu berjalan ke arahku.

“Siapa, namamu?” tanyanya.

“Aida Zeeshan Iskender,” jawabku pelan. Tapi tegas.

“Hei, lihatlah. Dia bahkan menyebut dirinya sebagai bagian dari keluarga Iskender. Apa ia tidak melihat penampilannya lebih dulu sebelum pergi ke tempat ini? Hahaha.” Tawanya begitu renyah. Tidak sadar jika apa yang ia lakukan itu menyakiti hati orang lain.

“Namanya gembel, orang miskin, anak bapa! Mana mungkin ada kaca di rumahnya. Ngacanya pasti di air empang. Lihat aja, bajunya yang buluk itu bahkan terlihat kotor sekali. Apa dia juga tidak mencuci pakaiannya sebelum datang ke sini.”

“Pakaianku kotor karena ulah wanita itu!” Aku menunjuk orang yang tadi mendorongku di halaman. Karena ulahnya pakaianku bisa sekotor ini. Sudah kubersihkan di kamar mandi pun tetap tidak bisa bersih.

Plak!

Bab 4 : Tukang Fitnah Teriak Tukang Fitnah

 

“Astaga!” Mereka membekap mulut masing-masing. Namun kekagetan itu hanya sesaat, kemudian yang kudengar hanya bisik-bisik mencemooh.

Nyeri kurasakan di sekitar pipi. Wanita yang kuketahui bernama Albina itu menamparku.

“Berani sekali kamu memfitnah suamiku. Kenal sama kamu saja, tidak. Untuk apa dia mendorongmu. Gadis kampung*n!” teriaknya berang.

Ia hampir menaparku lagi, tapi seseorang menghentikannya.

“Sudah, sudah. Hentikan pertengkaran kalian. Sebentar lagi acara makan akan segera dimulai. Lebih baik kita segera merapat ke meja makan.”

“Yakin, mau ngajak gembel seperti dia duduk bersama di meja makan? Aku, ‘sih ogah ya. Bisa-bisa nafsu makanku hilang lagi. Malah yang ada aku bisa muntah-muntah di sana.”

“Nggak usah lebay, deh kamu,” ucapku kesal. Sesabar-sabarnya aku, ternyata tetap tidak sabar menghadapi orang-orang seperti mereka.

“Sudah berani menjawab, ya sekarang. Kenapa? Enggak terima dibilang miskin. Pakaian kamu aja nggak lebih bagus dari gelandangan di luaran sana. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian keluarga Iskender. Halu ketinggian!”

Sedari tadi mereka sibuk mencaci pakaian yang aku pakai. Modelnya memang biasa saja. Tapi aku yakin mereka akan pingsan saat tahu berapa harga pakaian yang aku kenakan.

“Sudah, sudah. Ayo kita ke meja makan sekarang.” Ajak orang yang sejak tadi melerai perdebatan kami.

Wanita yang bernama Albina itu pun pergi sambil berdecak sebal. Aku hanya menghela napas panjang. Segala perbuatan mereka masih sanggup aku tahan. Jika mereka berlaku lebih buruk lagi, aku pastikan mereka akan membayar semuanya.

***

“Salam Kakek.” Avika mencium punggung tangan pria yang jika aku taksir usianya sudah 80 tahun. Meski di usia setua itu, ia masih tetap terlihat sehat dan bugar.

“Salam cucuku, di mana Kakakmu?” tanya Kakek lembut.

“Kakak. Emmm, ia bilang akan sedikit terlambat.”

Bagaimana Devika tahu kalau Mas Zeeshan akan terlambat hari ini. Apa Mas Zeeshan mengabarinya lebih dulu. Mungkin begitu, karena Mas Zeeshan tidak pernah tahu kalau Avika bersikap buruk padaku.

Sudahlah, aku ikuti saja permainan apa yang akan mereka mainkan.

“Salam, Kakek.” Aku menyapa Kakek Iskender. Ia menatapku datar, kemudian mengalihkan pandangannya pada orang lain.

“Salam, Kakek.” Orang itu adalah Albina.

Kakek Iskender tersenyum ke arahnya. Ia bahkan mengusap kepala Albina begitu lembut. Sepertinya keberadaanku di sini memang tidak dianggap oleh yang punya rumah.

‘Mas Zeeshan mana, ya. Kok belum sampai juga. Mungkin setelah Mas Zeeshan ada di sini perlakuan mereka akan berbeda. Mereka akan memperlakukanku diriku layaknya manusia.

“Albina, sekarang kamu semakin cantik. Kakek bangga sama kamu. Selama satu tahun ini kamu berubah banyak, pintar dan semakin kaya raya.” Puji Kakek Iskender.

“Ah, Kakek bisa saja. Ini semua juga berkat Kakek. Makanya aku bisa sesukses ini sekarang.” Albina malu-malu. Rona merah terpancar di wajahnya.

Ada rasa iri yang tumbuh di hatiku. Bukankah aku dan Albina sama-sama menantunya. Hanya karena wanita itu memakai pakaian yang terlihat mewah, Kakek memperlakukannya dengan baik.

Padahal, harga pakaian yang Albina kenakan tidak lebih mahal dari baju yang aku kenakan. Aku jadi ragu kalau mereka benar-benar konglomerat tingkat atas. Harga pakaianku saja tidak tahu. Malah mengoloknya, mengatakan kalau pakaian yang aku pakai bahkan tidak lebih baik dari gelandangan di kota ini.

Bodoh sekali.

Mungkin mereka tidak update dengan fashion terbaru saat ini. Sehingga mengira ini pakaian murahan.

“Kamu memang luar biasa Albina. Anakku Ethan pasti beruntung memiliki istri secantik kamu. Bukannya seperti Zeeshan. Malang sekali nasibnya. Salah dia tidak mendengarkan perkataan Kakek waktu itu.”

“Hahahaha!”

Semua orang tergelak mendengar ucapan Kakek.

“Auh!”

Bab 5 : Jangan Bermimpi Aku Akan Berlutut

Orang asing itu mendorong tubuhku. Aku yang tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini tidak dapat menghindari tumpahan kopi dari tangan pelayan.

“Maaf, Mbak. Maaf.” Pelayan itu menatapku ketakutan.

“Tidak apa-apa. Orang yang mendorongku yang salah. Dialah yang harus minta maaf,” kataku dengan nada cukup tinggi.

Sengaja kutinggikan suara agar orang minim sopan santun itu mendengarnya. Sesuai dugaan, ia langsung marah-marah saat mendengar perkataanku.

“Cih! Aku minta maaf padamu? Jangan mimpi!” bentaknya kasar. Ternyata dia seorang pria. Aku heran, jika dengan wanita asing seperti diriku saja dia berani bertingkah kurang ajar. Tidak terbayang bagaimana ia memperlakukan istrinya di rumah.

“Kamu bersalah. Jadi sudah seharusnya kamu minta maaf, ‘kan?” Aku menatapnya tajam. Sejak aku datang ke tempat ini aku sudah dihina. Jadi untuk apa aku merasa takut di tempat ini.

“Hahaha! Sadar tempat, dong. Kamu tidak tahu siapa aku? Hah! Aku adalah cucu kesayangan Kakek Iskender. Kamu berani melawanku?” tanyanya sambil bergaya dengan congkak.

“Aku tidak peduli siapapun kamu. Kalau kamu bersalah, kamu wajib minta maaf,” tegasku tanpa melepaskan pandanganku darinya.

“Wah, berani sekali kamu. Memangnya kamu ini siapa berani-beraninya nyuruh aku minta maaf sama kamu. Sultan? Ratu? Atau konglomerat unggul? Kamu mau jawab iya sekalipun, semua orang yang ada di sini tidak akan mempercayainya.”

Kesombongan sepertinya sudah mendarah daging dalam diri orang itu. Apa masalah dia denganku, sampai bersikap seperti ini.

“Hei! Untuk apa menatapku seperti itu? Mau aku colok matamu yang jelek itu!” serunya kesal.

Enak saja mau nyolok mataku. Kalau dia sampai berani melakukannya, akan aku pastikan tangannya patah jadi beberapa bagian.

“Kakek, kenapa tidak diusir saja, ‘sih orang seperti dia. Keberadaannya membuat acara reuni keluarga yang biasanya harmonis jadi kacau sejak awal.” Ia menatap Kakek Iskender.

“Iya, Kek. Kenapa tidak diusir saja. Bikin gerah. Atau nggak kasih saja tuh dia makanan. Biar cepet pergi dari sini.” Devika menimpali.

Kakek Iskender tampak sedang memikirkan permintaan dua cucunya. Aku hanya diam menunggu reaksinya akan seperti apa.

Kupikir dia akan mengusirku. Jadi aku akan meninggalkan tempat ini tanpa menunggu Mas Zeeshan datang.

Tapi ternyata aku salah. Kakek yang sudah berumur itu berjalan ke arahku. Wajahnya masih sama seperti saat menatapku tadi. Datar. Bahkan sekarang jauh lebih datar dari sebelumnya.

Andai dia mengaca. Ekspresi seperti itu membuat wajahnya berubah jadi sangat jelek sekali. Aku hampir terkikik geli melihat wajahnya seperti itu.

‘Hahaha. Orang kaya memangnya begini-begini amat, ya. Perasaan aku punya teman yang jauh lebih dari keluarga Iskender nggak seperti ini tuh. Mereka cenderung ramah, serta sopan pada sesama.’

“Nak, kamu istri cucuku Zeeshan?” tanyanya lembut.

Apa aku tidak salah dengar? Ia lembut sekali. Jauh lebih lembut saat berbicara dengan Albani. Tapi kenapa ia berubah sedrastis itu yaa.

“Iya, Kek,” jawabku singkat. Sudah malas hatiku berbasa-basi dengan keluarga ini.

“Kamu datang ke sini untuk reuni keluarga, ‘kan?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.

“Makan-makan juga, ‘kan di sini?” tambahnya.

Aku merasa sedikit aneh dengan pertanyaannya. Seolah aku datang ke sini hanya untuk numpang makan saja.

“Emmm ….”

“Sudahlah, akui saja. Jika kamu ingin makan makanan yang tersaji di meja makan ini. Kamu harus berlutut di kaki cucu kesayanganku. Dengan begitu aku akan memberikan makanan gratis untukmu.”

“Hahahaha!”

“Aku tidak akan pernah berlutut di kaki siapapun,” jawabku tegas.

“Baik, mari kita lihat,” tantang Kakek Iskender.

“Silahkan.”

‘Aku sudah sebisa mungkin menekan emosiku. Tapi mereka lah yang terus-menerus menabuh genderang perang. Aku tidak ada pilihan lain selain melawan.’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Runtuhnya Dinding Keangkuhan

Esana Gulpinar

Bab 1 : Sambutan Menyakitkan

Kediaman Iskender,

 

03-April-2018

 

Satu tahun aku menjalani pernikahan ini. Kupikir aku sudah bahagia. Suami tampan, kaya, berpendidikan, dengan pekerjaan yang ‘wah’.

Baru saja aku menginjakkan kaki ke dalam gerbang rumah mewah yang orang sebut sebagai kediaman Tuan Besar Iskender. Pernyataan tidak enak sudah menyapa telingaku.

“Kamu siapa?” tanya seorang wanita yang terlihat seumuran denganku. Ada balita manis dalam gendongannya.

“Gembel, ‘kok bisa, sih masuk ke tempat ini. Memangnya ada diantara keluarga kita yang seperti dia?” tambahnya sambil menatap ke arah wanita yang berdiri di sampingnya. Wanita itu terlihat lebih tua, mungkin ibunya?

“Mungkin dia pembantu kali, Sayang. Sudah jangan dipedulikan, lihat saja penampilannya bahkan nggak lebih baik dari pembantu di rumah kita.”

“Nggak mungkin, lah Mah. Pembantu di rumah ini, ‘kan cuma Saripah. Jangan-jangan dia pengemis. Kita usir saja yuk, Mah.”

Nyeri dikatakan seperti itu. Apa hanya karena pakaian yang aku kenakan, mereka sampai berlaku seperti itu.

“Saya Aida. Istri Mas Zeeshan,” ucapku akhirnya.

“Istri Zeeshan? Jangan ngaco, deh kamu! Mana mungkin Zeeshan mau nikah sama wanita kampungan seperti kamu!”

“Kampungan? Apa ada yang salah denganku, sampai kamu katakan kampungan?” Jujur aku bukan wanita yang memiliki kesabaran berlebih. Dikatakan seperti ini rasanya ingin aku sobek-sobek saja mulutnya.

Tapi … lagi-lagi norma dan etika membuatku menahan diri. Apalagi ini adalah untuk pertama kalinya Mas Zeeshan mengajakku datang ke reuni keluarga. Aku tidak ingin membuatnya malu hanya karena pertengkaran ini.

“Masih nanya kesalahan kamu? Lihatlah dirimu, pakaian yang kamu pakai itu sangat kampungan. Tidak mungkin kamu adalah istri Zeeshan.”

“Aku memang istri Mas Zeeshan. Terserah, kamu mau percaya atau tidak,” ucapku sambil melenggang pergi.

Namun, wanita itu seolah tidak terima aku tinggalkan begitu saja.

“Tunggu!” serunya dingin. Sontak langkahku pun terhenti.

“Kamu tidak diijinkan untuk masuk ke dalam.” Ia mendekat. Tidak ada lagi balita mungil dalam gendongannya. Ternyata anak kecil yang manis itu ikut dengan neneknya.

“Kenapa?”

“Karena wanita miskin tidak diterima di dalam keluarga ini. Lebih baik kamu pergi sekarang, karena di dalam pun kamu juga tidak akan diterima.” Ia tersenyum sinis. Wajah yang sebenarnya cantik itu seolah tertutup oleh kesombongan yang terpancar jelas.

“Aku istri Mas Zeeshan. Kenapa tidak boleh masuk.” Keributan antara aku dan wanita yang tidak aku kenal ini mengundang perhatian orang yang ada di halaman.

“Ada apa ini, Sayang?” tanya seorang pria. “Loh, ‘kok ada gembel di sini?” tambahnya sambil mencebik ke arahku.

“Ngakunya, ‘sih istri Zeeshan. Apa benar, desas-desus yang aku dengar kalau istri dari Zeeshan Iskender itu miskin. Nggak nyangka, seleranya bisa turun serendah ini.” Hatiku semakin membara mendengar ucapannya. Tapi aku harus sabar lebih dulu, pemenang selalu muncul belakangan.

“Ohhh. Jadi dia orang miskin. Kasihan sekali. Datang ke sini pasti hanya agar bisa makan enak.” Pria itu ternyata sama saja. Perkataannya sangat menyakitkan. Seolah dirinya itu sangat kaya raya.

“Memangnya kenapa kalau aku ini orang miskin? Entah aku miskin atau kaya, bukankah sama saja. Aku tetap menjadi bagian dari keluarga besar Iskender.”

“Wah wah wah …. Orang seperti kamu masih merasa menjadi bagian dari keluarga Iskender? Cih! Ngaca!” Pria itu mendorongku hingga terjatuh.

“Hahahaha!”

“Hahahaha!”

Mereka tertawa puas. Seolah-olah bahagia melihat tubuhku terjerembab ke tanah. Aku tidak menyangka, hanya karena pakaian yang aku kenakan. Mereka bisa merendahkanku sampai seperti ini.

“Elbina, sepertinya acara sudah akan dimulai. Kita masuk aja, yuk. Nggak ada gunanya juga ngurusin wanita ini.”

“Iya, Mas.”

Dua pasang suami istri itu akhirnya pergi. Meninggalkan diriku dengan setitik luka dalam hati. Sang Ibu yang menggendong cucunya juga menyusul masuk.

Selama ini aku memang meminta Mas Zeeshan untuk merahasiakan bahwa aku adalah seorang pemilik perusahaan. Aku tidak mau kalau keluarganya menerimaku hanya karena uang.

Aku bangkit. Beberapa bagain dari pakaianku sedikit kotor. Sekalipun halaman ini ditumbuhi rumput yang hijau, tapi tetap mampu membuat pakaianku kotor karena aku terjatuh cukup keras.

‘Apa hanya mereka berdua saja yang kejam dan memandang harta benda. Atau di dalam masih ada kejutan lain yang lebih mengerikan?’

Apapun itu. Lebih baik aku ikuti saja dulu permainan mereka. Setidaknya, sampai kesabaran di hatiku mencapai ambang batas.

Sampai jumpa di Bab selanjutnya yahh

Bab 2 : Siapkan Mental Baja

[Aida, kamu dibolehkan masuk, ‘kan? Mas baru mau otw balik ke sana. Kamu diperlakukan dengan baik, ‘kan?]

Aku tersenyum miris setelah membaca pesan dari Mas Zeeshan. Tidak tega kalau harus memberitahukan perlakuan buruk yang baru saja aku dapatkan.

[Boleh, ‘kok Mas. Mereka juga baik. Kamu hati-hati ya Sayang]

Kubalas pesannya cepat. Aku tidak mau kalau ia cemas sepanjang jalan. Mas Zeeshan tidak perlu tahu apa yang wanita itu perbuat.

Setelah memastikan tidak ada balasan pesan dari Mas Zeeshan. Aku melangkah masuk. Di pintu utama sudah ada dua penjaga yang siap menyambut kedatangan semua orang.

“Selamat pagi Nyonya, silahkan.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sapaan dari satpam. Di dalam aku langsung disambut dengan tatapan aneh orang-orang. Tapi itu hanya sementara, setelahnya mereka kembali tak acuh. Seolah-olah aku tidak pernah ada diantara mereka.

“Avika!” sapaku pada adik dari Mas Zeeshan. Aku mengenalnya, karena ia hadir cukup lama di pernikahanku dengan Mas Zeeshan.

“Siapa?” Ia menatapku aneh. Seolah ia tidak pernah bertemu denganku sebelumnya.

“Aida. Apa kamu lupa? Kita ngobrol cukup lama di hari pernikahanku,” kataku berbinar. Berharap ia hanya lupa karena memang sudah satu tahun tidak berjumpa.

Awalnya kupikir begitu, tapi ternyata ….

Ini sungguh terlalu menyakitkan.

“Aku tahu kamu Aida. Istri Mas Zeeshan. Maksudku, siapa kamu berani-beraninya datang dan bersikap sok akrab denganku.” Ia menenggak minuman di tangannya.

“Hari itu kamu bilang, kalau kamu sudah menganggapku seperti saudara kandungmu. Kamu anggap aku seperti kakakmu juga. Kamu masih ingat, ‘kan?” tanyaku lagi. Hatiku masih cukup tangguh jika akhirnya kenyataan tidak seperti yang aku pikirkan.

“Saudara kandung? Hah. Bod*h sekali kamu mempercayainya. Aku tidak pernah serius dengan ucapanku hari itu. Lagipula, siapa, ‘sih yang mau punya kakak ipar miskin seperti kamu. Entah apa yang menutup mata Mas Zeeshan sampai tertarik dengan wanita seperti kamu?” Avika ketus.

Ternyata Avika juga tidak pernah menerimaku sebagai istri Mas Zeeshan.

“Avika, jadi dia itu istri saudaramu? Kamu datang ke perniakahannya?”

“Ya, mau bagaimana lagi. Kalau aku nggak datang, Mas Zeeshan tidak akan mengakui aku sebagai adiknya lagi. Jadi, ya terpaksa, deh. Datang ke pernikahan Mas Zeeshan dengan wanita kampungan ini.”

“Aku sih nggak datang. Mendengar calon istrinya keluarga miskin aja, tubuhku sudah gatal-gatal. Jadi enggak, deh. Enakan juga tidur di rumah.”

Mereka begitu sombong dengan harta yang mereka miliki. Merasa bangga dengan pencapaian yang mereka dapatkan saat ini. Sampai-sampai menghina nasib orang lain.

‘Apa ini benar-benar keluar Mas Zeeshan. Kenapa wataknya sangat jauh berbeda dengan suamiku itu. Nyaris berbeda 180 derajat.’

“Aida, mendingan kamu pulang saja deh. Di sini nggak ada yang mau nerima keberadaan kamu. Cuss, gih. Bikin gerah.”

“Aku akan pergi kalau Mas Zeeshan sudah datang ke sini. Ia yang akan menjemput dan membawaku pulang dari sini. Lagipula aku datang ke sini juga diundang oleh Kakek Iskender. Jadi, kamu tidak berhak mengusirku,” jawabku tegas. Mereka harus menghargaiku, karena aku memiliki hak yang sama seperti mereka.

“Belagu sekali dia Avika. Kasih pelajaran saja,” ucap wanita yang tidak aku kenal. Mungkin ia dan Avika sepupuan.

“Tenang saja. Wanita miskin seperti dia, biar aku tunjukkan di mana tempatnya berada.” Adik iparku tersenyum sinis.

Setelah menatapku tajam, Avika pergi entah kemana. Ia masuk lebih dalam ke rumah ini. Aku tidak tahu karena ini untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah Kakek Iskender.

“Lozer!” Wanita yang sejak tadi berbicara dengan Avika mendorongku. Aku nyaris tersungkur.

‘Sabar Aida. Sabar. Kamu belum bertemu dengan Kakek. Jadi, jangan terpancing keributan apapun. Sabar dulu, sabar.’

Aku terus menenangkan diri karena tidak mau menghancurkan suasana reuni keluarga yang bahkan belum dimulai.

Dibutuhkan ketabahan hati agar tidak terpancing emosi. Aku ikut membaur, di sana aku melihat Avika berbicara serius dengan seseorang. Setelah berbicara, ia sempat melirikku dengan tatapan yang menakutkan.

‘Apa yang akan Avika lakukan padaku. Aku harus siapakan mental dan tenaga untuk menghadapi semuanya.’

Bab 3 : Orang Kampung

“Perhatian, Tuan Besar Iskender segera memasuki ruangan.” Suara di microphone kudengar tegas.

Seluruh pasang mata tertuju pada sebuah meja makan besar. Di sana duduk seorang kakek yang mereka sebut sebagai Tuan Besar Iskender.

Perawakan tinggi besar, mirip seperti aktor Bollywood dengan bulu-bulu halus di sekitar wajahnya. Aku sempat terkesima, ia terlihat sebagai sosok Kakek yang berwibawa.

Namun, kekaguman itu berakhir setelah tahu ia memiliki sikap yang kurang baik.

“Hei, kamu!” serunya. Seluruh ruangan seketika bungkam.

Semua pasang mata menatap ke arahku. Di sana aku sadari bahwa akulah yang dia panggil.

“Aku?” tanyaku memastikan.

“Untuk apa kamu datang ke sini? Ini adalah reuni keluargaku. Keluarga besar Tuan Iskender. Bukan tempat mengemis bagi gembel seperti kamu!” teriaknya dari kursi besar di ruangan itu.

Ekspresi wajahku pasti berubah. Untuk pertama kalinya aku datang ke sini, tapi sudah dihina untuk kesekian kalinya.

“Hahahaha!” Gelak tawa orang-orang membuat telingaku semakin panas.

“Bener sekali Kek, tadi sudah aku usir. Eh, dianya nekat tetap di sini. Katanya, sih mau ketemu sama Kakek. Hahaha!” celetuk Devika.

Gadis itu benar-benar berbeda. Sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang aku lihat saat ia datang di pernikahanku dengan Mas Zeeshan. Saat itu ia begitu manis dan lembut. Hari ini aku melihat wajah aslinya.

“Lagipula, siap, ‘sih dia. Kalau Kakek saja tidak mengenalnya. Kenapa dia datang ke sini.”

“Iya Benar, baru kali ini aku melihat ada orang miskin yang bergabung dalam acara reuni ini. Apa diantara kalian ada yang mau mengadakan santunan di sini?” timpal salah seorang dari orang-orang berpakaian glamour itu.

“Kakek, apa Kakek juga lupa padaku? Aku adalah Aida, istri Mas Zeeshan. Saat itu Kakek juga hadir di pernikahan kami. Kakek bahkan terlihat sangat bahagia,” ucapku membuat orang-orang menatapku aneh. Kulihat Kakek juga memalingkan wajahnya tidak peduli.

“Istri Zeeshan? Oh, jadi yang orang kampung itu? Heran deh sama Zeeshan. Dia itu tampan dan mapan, ‘kok mau-mau aja, ‘sih nikah sama perempuan miskin seperti kamu,” cibir seorang gadis dengan pakaian mewah yang melekat di tubuhnya. Ia cantik, kulitnya putih bersih, sayang perilakunya tidak secantik wajah dan pakaiannya.

“Zeeshan? Dia istrinya? Lah, ‘kok lebih mirip bumi dan langit daripada sepasang suami istri,” tambah seseorang.

Aku berpikir, apakah di ruangan ini hanya terisi oleh orang-orang yang arogan, karena merasa lebih baik dengan harta yang mereka miliki.

“Hahaha. Jadi, Zeeshan menolak menikah denganku demi wanita seperti dirimu. Kasihan sekali dia. Menolak permata demi batu sungai.” Wanita cantik dan gaunnya yang berwarna merah terang itu berjalan ke arahku.

“Siapa, namamu?” tanyanya.

“Aida Zeeshan Iskender,” jawabku pelan. Tapi tegas.

“Hei, lihatlah. Dia bahkan menyebut dirinya sebagai bagian dari keluarga Iskender. Apa ia tidak melihat penampilannya lebih dulu sebelum pergi ke tempat ini? Hahaha.” Tawanya begitu renyah. Tidak sadar jika apa yang ia lakukan itu menyakiti hati orang lain.

“Namanya gembel, orang miskin, anak bapa! Mana mungkin ada kaca di rumahnya. Ngacanya pasti di air empang. Lihat aja, bajunya yang buluk itu bahkan terlihat kotor sekali. Apa dia juga tidak mencuci pakaiannya sebelum datang ke sini.”

“Pakaianku kotor karena ulah wanita itu!” Aku menunjuk orang yang tadi mendorongku di halaman. Karena ulahnya pakaianku bisa sekotor ini. Sudah kubersihkan di kamar mandi pun tetap tidak bisa bersih.

Plak!

Bab 4 : Tukang Fitnah Teriak Tukang Fitnah

 

“Astaga!” Mereka membekap mulut masing-masing. Namun kekagetan itu hanya sesaat, kemudian yang kudengar hanya bisik-bisik mencemooh.

Nyeri kurasakan di sekitar pipi. Wanita yang kuketahui bernama Albina itu menamparku.

“Berani sekali kamu memfitnah suamiku. Kenal sama kamu saja, tidak. Untuk apa dia mendorongmu. Gadis kampung*n!” teriaknya berang.

Ia hampir menaparku lagi, tapi seseorang menghentikannya.

“Sudah, sudah. Hentikan pertengkaran kalian. Sebentar lagi acara makan akan segera dimulai. Lebih baik kita segera merapat ke meja makan.”

“Yakin, mau ngajak gembel seperti dia duduk bersama di meja makan? Aku, ‘sih ogah ya. Bisa-bisa nafsu makanku hilang lagi. Malah yang ada aku bisa muntah-muntah di sana.”

“Nggak usah lebay, deh kamu,” ucapku kesal. Sesabar-sabarnya aku, ternyata tetap tidak sabar menghadapi orang-orang seperti mereka.

“Sudah berani menjawab, ya sekarang. Kenapa? Enggak terima dibilang miskin. Pakaian kamu aja nggak lebih bagus dari gelandangan di luaran sana. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian keluarga Iskender. Halu ketinggian!”

Sedari tadi mereka sibuk mencaci pakaian yang aku pakai. Modelnya memang biasa saja. Tapi aku yakin mereka akan pingsan saat tahu berapa harga pakaian yang aku kenakan.

“Sudah, sudah. Ayo kita ke meja makan sekarang.” Ajak orang yang sejak tadi melerai perdebatan kami.

Wanita yang bernama Albina itu pun pergi sambil berdecak sebal. Aku hanya menghela napas panjang. Segala perbuatan mereka masih sanggup aku tahan. Jika mereka berlaku lebih buruk lagi, aku pastikan mereka akan membayar semuanya.

***

“Salam Kakek.” Avika mencium punggung tangan pria yang jika aku taksir usianya sudah 80 tahun. Meski di usia setua itu, ia masih tetap terlihat sehat dan bugar.

“Salam cucuku, di mana Kakakmu?” tanya Kakek lembut.

“Kakak. Emmm, ia bilang akan sedikit terlambat.”

Bagaimana Devika tahu kalau Mas Zeeshan akan terlambat hari ini. Apa Mas Zeeshan mengabarinya lebih dulu. Mungkin begitu, karena Mas Zeeshan tidak pernah tahu kalau Avika bersikap buruk padaku.

Sudahlah, aku ikuti saja permainan apa yang akan mereka mainkan.

“Salam, Kakek.” Aku menyapa Kakek Iskender. Ia menatapku datar, kemudian mengalihkan pandangannya pada orang lain.

“Salam, Kakek.” Orang itu adalah Albina.

Kakek Iskender tersenyum ke arahnya. Ia bahkan mengusap kepala Albina begitu lembut. Sepertinya keberadaanku di sini memang tidak dianggap oleh yang punya rumah.

‘Mas Zeeshan mana, ya. Kok belum sampai juga. Mungkin setelah Mas Zeeshan ada di sini perlakuan mereka akan berbeda. Mereka akan memperlakukanku diriku layaknya manusia.

“Albina, sekarang kamu semakin cantik. Kakek bangga sama kamu. Selama satu tahun ini kamu berubah banyak, pintar dan semakin kaya raya.” Puji Kakek Iskender.

“Ah, Kakek bisa saja. Ini semua juga berkat Kakek. Makanya aku bisa sesukses ini sekarang.” Albina malu-malu. Rona merah terpancar di wajahnya.

Ada rasa iri yang tumbuh di hatiku. Bukankah aku dan Albina sama-sama menantunya. Hanya karena wanita itu memakai pakaian yang terlihat mewah, Kakek memperlakukannya dengan baik.

Padahal, harga pakaian yang Albina kenakan tidak lebih mahal dari baju yang aku kenakan. Aku jadi ragu kalau mereka benar-benar konglomerat tingkat atas. Harga pakaianku saja tidak tahu. Malah mengoloknya, mengatakan kalau pakaian yang aku pakai bahkan tidak lebih baik dari gelandangan di kota ini.

Bodoh sekali.

Mungkin mereka tidak update dengan fashion terbaru saat ini. Sehingga mengira ini pakaian murahan.

“Kamu memang luar biasa Albina. Anakku Ethan pasti beruntung memiliki istri secantik kamu. Bukannya seperti Zeeshan. Malang sekali nasibnya. Salah dia tidak mendengarkan perkataan Kakek waktu itu.”

“Hahahaha!”

Semua orang tergelak mendengar ucapan Kakek.

“Auh!”

Bab 5 : Jangan Bermimpi Aku Akan Berlutut

Orang asing itu mendorong tubuhku. Aku yang tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini tidak dapat menghindari tumpahan kopi dari tangan pelayan.

“Maaf, Mbak. Maaf.” Pelayan itu menatapku ketakutan.

“Tidak apa-apa. Orang yang mendorongku yang salah. Dialah yang harus minta maaf,” kataku dengan nada cukup tinggi.

Sengaja kutinggikan suara agar orang minim sopan santun itu mendengarnya. Sesuai dugaan, ia langsung marah-marah saat mendengar perkataanku.

“Cih! Aku minta maaf padamu? Jangan mimpi!” bentaknya kasar. Ternyata dia seorang pria. Aku heran, jika dengan wanita asing seperti diriku saja dia berani bertingkah kurang ajar. Tidak terbayang bagaimana ia memperlakukan istrinya di rumah.

“Kamu bersalah. Jadi sudah seharusnya kamu minta maaf, ‘kan?” Aku menatapnya tajam. Sejak aku datang ke tempat ini aku sudah dihina. Jadi untuk apa aku merasa takut di tempat ini.

“Hahaha! Sadar tempat, dong. Kamu tidak tahu siapa aku? Hah! Aku adalah cucu kesayangan Kakek Iskender. Kamu berani melawanku?” tanyanya sambil bergaya dengan congkak.

“Aku tidak peduli siapapun kamu. Kalau kamu bersalah, kamu wajib minta maaf,” tegasku tanpa melepaskan pandanganku darinya.

“Wah, berani sekali kamu. Memangnya kamu ini siapa berani-beraninya nyuruh aku minta maaf sama kamu. Sultan? Ratu? Atau konglomerat unggul? Kamu mau jawab iya sekalipun, semua orang yang ada di sini tidak akan mempercayainya.”

Kesombongan sepertinya sudah mendarah daging dalam diri orang itu. Apa masalah dia denganku, sampai bersikap seperti ini.

“Hei! Untuk apa menatapku seperti itu? Mau aku colok matamu yang jelek itu!” serunya kesal.

Enak saja mau nyolok mataku. Kalau dia sampai berani melakukannya, akan aku pastikan tangannya patah jadi beberapa bagian.

“Kakek, kenapa tidak diusir saja, ‘sih orang seperti dia. Keberadaannya membuat acara reuni keluarga yang biasanya harmonis jadi kacau sejak awal.” Ia menatap Kakek Iskender.

“Iya, Kek. Kenapa tidak diusir saja. Bikin gerah. Atau nggak kasih saja tuh dia makanan. Biar cepet pergi dari sini.” Devika menimpali.

Kakek Iskender tampak sedang memikirkan permintaan dua cucunya. Aku hanya diam menunggu reaksinya akan seperti apa.

Kupikir dia akan mengusirku. Jadi aku akan meninggalkan tempat ini tanpa menunggu Mas Zeeshan datang.

Tapi ternyata aku salah. Kakek yang sudah berumur itu berjalan ke arahku. Wajahnya masih sama seperti saat menatapku tadi. Datar. Bahkan sekarang jauh lebih datar dari sebelumnya.

Andai dia mengaca. Ekspresi seperti itu membuat wajahnya berubah jadi sangat jelek sekali. Aku hampir terkikik geli melihat wajahnya seperti itu.

‘Hahaha. Orang kaya memangnya begini-begini amat, ya. Perasaan aku punya teman yang jauh lebih dari keluarga Iskender nggak seperti ini tuh. Mereka cenderung ramah, serta sopan pada sesama.’

“Nak, kamu istri cucuku Zeeshan?” tanyanya lembut.

Apa aku tidak salah dengar? Ia lembut sekali. Jauh lebih lembut saat berbicara dengan Albani. Tapi kenapa ia berubah sedrastis itu yaa.

“Iya, Kek,” jawabku singkat. Sudah malas hatiku berbasa-basi dengan keluarga ini.

“Kamu datang ke sini untuk reuni keluarga, ‘kan?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.

“Makan-makan juga, ‘kan di sini?” tambahnya.

Aku merasa sedikit aneh dengan pertanyaannya. Seolah aku datang ke sini hanya untuk numpang makan saja.

“Emmm ….”

“Sudahlah, akui saja. Jika kamu ingin makan makanan yang tersaji di meja makan ini. Kamu harus berlutut di kaki cucu kesayanganku. Dengan begitu aku akan memberikan makanan gratis untukmu.”

“Hahahaha!”

“Aku tidak akan pernah berlutut di kaki siapapun,” jawabku tegas.

“Baik, mari kita lihat,” tantang Kakek Iskender.

“Silahkan.”

‘Aku sudah sebisa mungkin menekan emosiku. Tapi mereka lah yang terus-menerus menabuh genderang perang. Aku tidak ada pilihan lain selain melawan.’

Tertarik Dengan Buku : Runtuhnya Dinding Keangkuhan ?

Runtuhnya Dinding Keangkuhan

Esana Gulpinar