Rahasia di Rumah Maduku

Rahasia di Rumah Maduku

Diposting pada

Bab 1

Kabar duka datang dari rumah maduku. Sudah satu bulan, suamiku yang juga suaminya tidak pulang dan memilih tinggal di kediaman istri keduanya. Kini pulang-pulang tinggallah nama.
“Mpok! Mpok!” Teriak Mak Sumi, tetanggaku sebelah rumah.
“Ada apa Mak, teriak-teriak begitu. Masih pagi ini,” jawabku sedikit kesal. Takut kalau suaranya sampai membangunkan Aliya.
Aku sedang menjemur pakaian yang baru saja kucuci. Jika Aliya sampai bangun, maka pekerjaan ini akan tertunda entah sampai kapan.
“Maaf, maaf. Tapi ini urgent Mpok! Urgent! Penting banget!” Tambahnya tak kalah heboh.
“Iye iye. Ada apa Mak, memangnya ada yang lebih penting dari rejeki nomplok?” Aku bergurau.
“Ya jelas ada. Banyak yang lebih penting dari sekedar duit,” ucap Mak Sumi. Lagaknya ia mulai akan berceramah. Aku segera mencegah dengan menanyakan tujuannya heboh pagi-pagi.
“Itu Mpok, si anu ….” Mak Sumi tergagap. Ia mendadak pucat. Aku mulai memasang wajah tidak tenang.
“Anu apa Mak, jangan gagap begitu. Aku enggak paham.”
“Anu, Mpok. Anuuu.”
“Iya, anu apa Mak? Anu siapa, kenapa?” Aku mulai tidak sabar.
Mak Sumi terdiam, dia berkali-kali menarik napas dalam. Setelah merasa tenang, dia melanjutkan ucapannya.
“Anu Mpok, anuu. Suamimu ….” Mak Sumi diam lagi.
“Suamiku? Ada apa sama Mas Farhan, Mak? Ada apa, cepat kasih tau aku. Jangan bikin penasaran gitu to.” Mendadak aku jadi khawatir sama Mas Farhan.
Laki-l*ki yang pernah sangat aku cintai, tapi tega menduakanku dengan sahabatku sendiri, saat aku sedang koma setelah melahirkan Aliya.
Aku hampir meregang nyawa di rumah sakit karena melahirkan anaknya. Eh, dia malah nyambal terong di rumah.
“Ya Allah, itu Mpok. Maafkan suamimu itu, karena sekarang dia sudah berpulang. Baru saja tadi fajar aku mendapatkan kabarnya,” ucap Mak Sumi. Ia bernapas lega setelah berhasil mengatakannya. Meski masih sedikit ngos-ngosan.
‘Astaqfirullah hal adzim, innalilahi wa innailaihi roji’un.’ batinku.
“Ah, yang bener Mak. Sepertinya dia itu sehat-sehat saja. Orang kemarin aku masih sempet lihat dia lagi uwu uwuan sama bini barunya.” Aku masih tidak percaya. Karena kemarin aku masih melihatnya beradegan romantis sama si Ami, bini barunya itu.
“Bener Ati, baru tadi pagi aku mendengarnya dari pamanmu. Waktu aku lagi nyangkul di ladang. Aku saja kaget, malah semalem aku masih lihat si Farhan suamimu itu, minum di warungnya Bang Somat,” jelas Mak Sumi. Sepertinya ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Aku ingin memastikannya, tapi tiba-tiba rombongan ibu-ibu membawa baskom mengalihkan perhatianku.
“Ibu-ibu, kalian mau pada kemana!?” seruku, membuat ibu-ibu itu berhenti.
“Eh, Hayati! Kenapa kamu masih santai-santai! Si Farhan, suamimu itu meninggal.”
Deg!
Jantungku seperti meloncat keluar. Suamiku, Mas Farhan. Ia meninggal, benarkah?
Ibu-ibu tadi sudah berlalu pergi. Mak Sumi juga pamit mau melayat.
“Ya sudah Hayati, kamu yang sabar ya. Aku pamit dulu, mau melayat,” ucap Mak Sumi. Aku hanya diam, kemudian mengangguk.
Langkahku gontai masuk ke dalam rumah. Mas Farhan yang meninggal, tapi aku yang seperti kehilangan nyawa.
Cucian yang belum selesai kujemur aku tinggal begitu saja, biar saja nanti aku jemur lagi.
Sampai di dalam rumah, gawai yang aku letakkan di samping televisi tidak berhenti berbunyi.
Aku mendekatinya, kemudian meraih benda pipih itu di tangan.
Banyak sekali panggilan tidak terjawab dari ibu mertuaku, ada juga beberapa panggilan dari Aminah. Sahabatku yang kini telah menjadi maduku.
“Halo.” Aku angkat telepon dari ibu mertuaku.
“Halo, Hayati. Cepatlah datang ke rumah Aminah. Maafkanlah anak Ibu, Nduk. Suamimu, Nak Farhan sudah berpulang ke Rahmatullah.” Ibu mertuaku berucap dengan suara sengau.
Aku diam, masih belum siap berkata-kata.
“Nduk, kamu masih di sana?” tanya mertuaku. Karena ucapannya belum juga kujawab.
“Masih, Bu.” Aku berhasil menggerakkan lidahku yang terasa kelu.
“Cepat ke sini, Nduk. Ibu tunggu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sambungan terputus. Ternyata benar, Mas Farhan telah berpulang.
***
Next?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *