Novel Yang Telah Lama Pergi – Tere Liye

Diposting pada

KAMU sudah gila!”

Itulah kalimat yang terakhir kali Al Mas’ud ingat sebelum día pingsan beberapa saat lalu.
Sekarang, matanya terbuka, mengerjap-ngerjap. Terang? Seberkas cahaya matahari menembus celah kecil di dinding. Sudah siang? Berapa lama dia pingsan? Beringsut hendak duduk. Mengeluh pelan, tubuhnya terasa sakit. Ada memar di lengan, juga lebam di paha, punggung.

Mas’ud menoleh ke kiri, ke kanan, gerakannya terhenti oleh sekat. Dia berada di dalam ruangan kecil, seperti kerangkeng. Lembap, bau amis tercium. Lantai tempat dia duduk terasa bergoyang. Suara debur ombak…. Kepalanya berpikir cepat, tidak salah lagi, dia berada di dalam kapal yang berlayar. Seseorang melintas di depan kerangkeng, dengan pakaian khas pelaut, berantakan, rambut awut-awutan. Wajah orang itu melongok ke dalam kerangkeng.

“yang ini sudah siuman!” Berteriak memberi tahu, memukul-mukul kerangkeng, membuat suara bising.Dua pelaut lain di dekat pintu bergegas melangkah mendekat. Ikut memeriksa, dua wajah baru yang terlihat sama galaknya ikut menatap Mas’ud.

“Bawa dia ke depan!”

Kunci-kunci besar dikeluarkan. Pintu kerangkeng berderak dibuka, salah satu pelaut menarik tangannya, “Keluar, Bodoh!” Mas’ud mengadu, kepalanya terantuk pintu kerangkeng. “Cepat!” Yang lain membentak.
“Dia berjalan seperti ibu-ibu tua.” Yang lain menimpali. Terkekeh. Mas’ud berjalan limbung di lorong kapal. Melewati lantai basah. Melewati kerangkeng lain-yang kosong. Terus maju. Kapal ini cukup besar, dengan palka besar di perutnya. Dia menaiki anak tangga. Suara debur ombak terdengar semakin kencang, juga sorak-sorai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *