Nafkah Batin Sewaan

Diposting pada

[Perjanjian Pembawa Petaka]

 

‘Mas ….’

‘Aku capek sayang. Kamu istirahat aja yaa.’

‘Iya, Mas.’

 

“Bagaimana, video ini cukup untuk menjadi bukti, kan?” tanya Abraham pada sekertarisnya, Elea.

Wanita itu menatapnya datar. Tatapan yang menyangsikan kesungguhan seorang Abraham Wijaya yang sangat ingin menikahinya.

“Apa kamu masih ragu? Ini adalah rekaman cctv di kamarku dan Aina. Aku sudah tidak menyentuhnya selama 6 bulan. Jadi, bisakah aku menikahimu?” Abraham menatappenuh harap,binar di matanya jelas menginginkannya.

Hatinya gusar saat Elea tidak kunjung memberikan kepastian. Wanita di hadapannya masih diam dam menatap penuh ragu.

“Kenapa kamu tidak ceraikan dia saja?” pertanyaan itu membuat hati seorang Abraham tertohok dalam.

Kenapa ia tidak menceraikan Aina?

‘Aku ingin memiliki keduanya, Aina istri yang baik. Dia pengertian, hanya saja … Elea lebih menggoda. Sialnya aku jatuh cinta,’ batin pria itu tak tenang. Ia merasa harus berhasil membujuk Elea untuk mau menikah dengannya.

“Kalau dia masih bisa mengurus keperluanku yang lain, kenapa aku harus menceraikannya? Wanita itu bisa menjadi bank berjalan untukku.” Abraham beralasan. Bunggah begitu melihat wanita yang belakangan memenuhi imajinasinya tersenyum. Ia sangat yakin hari ini Elea akan memberikan persetujuannya, pada akhirnya ia akan memiliki wanita itu juga istri pertamanya, Aina.

“Aku akan setuju menikah denganmu, asalkan kamu tidak akan pernah menyentuhnya lagi. Kamu boleh untuk tidak bercerai, tapi aku tidak akan setuju jika kamu masih menyentuhnya.” Elea mengajukan syarat ke duanya, setelah dulu ia meminta agar ia tidak lagi menyentuh Aina selama 6 bulan sebagai bentuk keseriusan cinta.

“Oke. Aku tidak akan menyentuh Aina lagi. Selamanya.”

“Oke. Satu lagi, jika pernikahan kita terbongkar, kamu harus menceraikan Aina.”

“Baiklah Sayang, sekarang kamu akan menikah denganku?” Pria itu menguluran tangannya.

Elea mengangguk tersipu.

 

Elea Kusuma Dewi. Gadis 21 tahun yang diam-diam menaruh hati pada atasannya. Hari-hari yang ia lewati bersama Abraham Wijaya membuatnya semakin jatuh cinta.

Cinta itu membutakan mata hatinya, ia tidak peduli dengan status Abraham yang sudah memiliki seorang istri.

‘Egois.’

Ia tidak akan peduli jika orang menyebutnya begitu. Bukankah cinta itu anugrah dari Tuhan? Lalu kenapa ia harus menanggalkan perasaan itu hanya karena ia hadir belakangan?

Ia mencintai Abraham, ia akan mendapatkan mimpinya itu. Hari ini semuanya terkabul saat pria yang setiap hari ia hujani dengan perhatian, kelembutan, dan cinta menyebutkan namnya di hadapan penghulu.

Kata ‘sah’ menjadi bukti cintanya telah disucikan. Malam ini akan menjadi malam yang paling ia tunggu. Bahagia bersama seorang yang ia cintai. Tanpa peduli dengan perasaan istri pertama yang mungkin akan tersakiti oleh keberadaannya.

Sementara jauh dari tempat dua insan yang sedang memadu kasih. Duduk seorang wanita di teras rumah. Sudah sejak sore tadi ia terus berdiam diri di sana. Untuk apa?

Menunggu.

Berulang kali ia menengok layar handphone yang tetap saja padam, tanpa ada notifikasi yang menyebabkan layarnya menyala. Wanita itu menununggu sang suami yang seharusnya saat ini sudah pulang. Tapi sudah dua jam ia dudukdi banku itu, matanya tetap tidak menangkap lampu sen mobil sang suami menyinari halaman.

Lamunan terhenti. Benda pipih itu akhirnya memancarkan cahayanya.

[Sayang, aku tidak pulang hari ini. Tiba-tiba saja ada urusan mendadak ke luar kota. Kamu baik-baik di rumah, ya. Jangan lupa makan, jaga kesehatan. I love you ….]

Pesan dari Abraham, suaminya.

Menyedihkan, tapi ia memilih tersenyum dan mendoakan kebaikan pada suaminya. Ia masuk ke dalam rumah tanpa curiga. Wanita itu adalah ….

Aina Mahadewi Wijaya.

Katakan, ini kisah cinta atau keegoisan? Sayang atau keserakahan? Apakah ini sebuah keadilan yang pantas untuk diterima.

Temukan jawabannya hanya di Noda Asmara.

 

 

Cekidot! Jangan lupa follow dan subcribe untuk mendapatkan notifikasi update.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *