Mayat di Pinggir Sungai

Diposting pada

Bab 1

Desa kami kembali digemparkan dengan penemuan anak perempuan, yang meninggal dengan cara mengerikan.

Jika kemarin seorang anak perempuan, ditemukan meninggal dengan keadaan tubuh yang penuh dengan luka sayatan, serta bekas darah di bagian kemaluannya. Kini ditemukan mayat dengan bekas cekikan di lehernya.

Siang ini, kami yang sedang shalat berjamaah di masjid digegerkan oleh suara Mang Udin yang tergopoh-gopoh dari arah sungai.

“Pak! Pak! Pak Mustafa!”

Aku yang baru saja selesai mengucap salam jadi lari terbirit-birit keluar masjid. Pak ustadz dan beberapa orang lainnya mulai mengikuti di belakang.

“Pak! Itu!”

“Tenang, Mang Udin. Tarik napas, kemudian keluarkan. Tarik napas, keluarkan,” ucapku menenangkan.

Mang Udin mengikuti instruksi yang aku berikan. Beberapa kali ia menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya kasar. Sesekali juga kulihat ia mengurut dadanya. Mungkin karena sesak setelah berlari jauh.

“Ada mayat, Pak!” serunya kencang.

Sontak jama’ah yang hadir mulai berbisik-bisik. Beberapa malah sampai berteriak histeris.

“Apa! Mayat? Di mana, Pak? Di mana!” Tukiman berteriak paling kencang. Putrinya memang hilang sejak semalam.

Wajar jika ia terlihat ketakutan, apalagi desa ini sedang dilanda teror pemerkosaan pada anak-anak kecil.

“Di mana mayatnya, Mang?” tanya Amin.

“Iya Mang, mana mayatnya!” timpal beberapa orang. Jama’ah yang hadir mulai heboh berkasak-kusuk.

“Manusia Sial*n! Kali ini, anak siapa lagi yang jadi korbannya?” maki Irfan. Ia memang orang paling kasar di desa ini.

“Mayatnya di pinggir sungai Pak. Saya sangat takut, jadinya lari ke mari,” jawab Mang Udin gemetar.

Pelaku tidak hanya merenggut kehormatannya saja, namun tanpa rasa segan juga membunuhnya dengan cara yang sadis. Itulah yang membuat warga semakin geram.

Sejauh ini sudah lima anak warga kami yang meninggal. Mayatnya selalu dalam kondisi yang mengerikan, dan mereka selalu ditemukan di sungai.

Mang Udin adalah orang yang menemukannya, karena memang hanya dia yang sering pergi ke sungai.

“Sebaiknya kita langsung saja pergi ke sungai. Kita lihat mayat siapa di sana.” Pak Ustadz mengarahkan.

“Anak kita, Pak! Hiks hiks.” Surti menangis, ia adalah istri dari Tukiman.

“Tenang, Bu. Kita berdoa saja, bahwa mayat itu bukan mayat Intan, anak kita.” Tukiman menenangkan istrinya.

Aku bisa mendengar, karena mereka berjalan di sampingku.

Kami bergegas pergi ke sungai, melihat mayat siapa lagi yang ditemukan. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sungai, karena jaraknya yang memang cukup jauh.

Sampai di sungai, Tukiman dan Surti adalah orang yang berlari paling depan. Dua anak manusia itu dilanda ketakutan. Kami masih berjalan pelan mengikuti dari belakang.

Tak lama kemudian, terdengar teriakan dan tangis yang terdengar bersahut-sahutan.

“Intan!”

“Ya Allah! Ini anak kami, Pak!”

“Intan!”

“Intan!”

Satu rombongan langsung berhenti mematung di tebing. Melihat pemandangan menyayat hati dari sepasang suami istri dan anaknya.

“Intan!” Kulihat Surti pingsan setelah menangisi anaknya.

“Astagfirullah, ayo ayo. Kita bantu Tukiman mengangkat istrinya. Yang lain bantu urus mayat anaknya!” seruku yang langsung disambut dengan orang-orang yang berlari ke arah keluarga duka itu.

***

Bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *