Ketika Gelas Sudah Pecah

Esana Gulpinar
Sinopsis Gelas yang sudah pecah, begitulah perasaan seseorang ketika dibohongi, dan dikhianati ....

Bagikan Cerita ini :

Bab 1

“Jangan sentuh aku, Mas!” pekik Kiran membuat mataku membulat.

“Kenapa? Aku masih suamimu.”

“Maaf, Mas.” Ia berlalu begitu saja. Membuatku semakin geram dan kesal.

“Kenapa kamu berubah,” ucapku menahan langkahnya.

“Kenapa aku berubah? Kau sungguh ingin tau?” bukannya meminta maaf ia justru menatapku tanpa rasa takut.

“Katakan,” ucapku menahan gemuruh hebat di dada. Seberapa kesal pun aku padanya, hatiku menolak untuk menyakitinya.

“Tunggu di sini.” Wanita itu berlalu. Sedangkan aku, menunggu penjelasannya di sini. Di kamar ini, kamar yang menjadi saksi kebersamaan kita selama lima tahun terakhir.

Aku Aarav Syahreza. Pria matang usia tiga puluh lima tahun, pemilik perusahaan Aarav Group yang merupakan perusahaan paling besar di kota ini. Sedangkan wanita itu, dia Zanna Kirania-istriku. Wanita yang aku nikahi lima tahun lalu. Wanita yang belakangan bersikap aneh, dan terkesan menjaga jarak denganku.

Jangan tanya kenapa, karena aku pun tidak tahu jawabannya. Lebih baik kita lihat saja, apa yang akan ia jelaskan padaku nanti.

Tak berapa lama Kiran kembali masuk dengan dua buah gelas di tangannya. Dua-duanya terisi penuh dengan air putih. Wajah cantiknya berjalan mendekat ke arahku.

“Untuk apa air-air itu?” tanyaku dengan kening berkerut. Aku tidak merasa sedang meminta minum.

“Minum.” Ia menyodorkan satu gelas padaku.

“Aku tidak haus,” tolakku mentah-mentah. Apa-apaan dia? Tiba-tiba memberiku minum, padahal aku tidak sedang memintanya. Apa aku kelihatan sangat kehausan?

“Aku bilang minum,” tegasnya.

“Nggak!” Aku bersikukuh.

“Bukankah kamu meminta penjelasan?” tanyanya menatapku tajam.

“Ya, aku meminta penjelasan. Bukan minuman.”

“Minumlah, kamu akan mendapatkan penjelasannya setelah ini.” Ia kembali menyodorkan satu gelas untukku. Aku pun menerimanya.

Kutatap gelas di tangan dan wajahnya secara bergantian. Sikap Kiran kali ini memang sudah keterlaluan, apa dia sedang menguji kekuatan sabarku?

“Minum,” titahnya. Aku terus mengamati wajahnya, sekilas kutangkap senyum sinis dari bibir manisnya.

“Jangan-jangan dia mau meracuniku,” batinku curiga. Mengingat hubungan kami belakang memang kurang baik.

“Sini.” Aku menukar gelas di tanganku dengan gelas yang ada ditangannya.

“Takut diracun?” tanyanya sembari menerima uluran gelas dariku.

“Aku akan meminumnya,” ucapku tanpa menjawab ucapannya yang terkesan sarkas.

Segera kuteguk air dalam gelas itu. Habis setengahnya.

“Sudah. Sekarang, jelaskan. Kenapa kamu berubah?” tanyaku tak sabar.

“Bagaimana rasanya?” Bukannya menjawab, ia justru menanyakan rasa minuman yang tadi aku minum. Itu membuatku benar-benar kesal. Tapi aku tetap berusaha sabar menghadapinya.

“Manis,” jawabku datar. Entah minuman apa yang dia berikan padaku. Tadinya kusangka itu air putih.

“Bagaimana kondisi bibirmu?” tanyanya lagi.

Ya Tuhan … pertanyaan macam apa ini? Apa dia tidak bisa melihat, bahwa bibirku baik-baik saja.

“Kamu tidak bisa melihat? Tidak punya mata?” tanyaku geram.

“Bisakah kamu tinggal jawab saja pertanyaanku?”

“Apa kamu sedang mempermainkanku sekarang? Hah? Mana penjelasanmu? Jangan bertele-tele! Oh, atau ada laki-laki lain dalam hidup kamu? Hah? Jawab!” seruku naik pitam. Salah dia sendiri, untuk apa menguji kesabaranku seperti tadi?

“Tenanglah, Aarav. Aku bukan tipe wanita yang suka mendua. Tidak ada laki-laki lain dalam hidupku. Aku juga bukan wanita yang susah setia sepertimu,” tuturnya pelan. Singkat, tapi rasanya sangat menyakitkan.

Apa arti ucapannya itu. Apa dia sedang mencurigai aku selingkuh?

“Kau!” Hampir saja aku menamparnya. Namun segera kutahan gerakan tanganku dan menurunkannya.

“Lihat gelas ini, Aarav. Lihat gelas yang ada di tanganku.”

Aku melihatnya. Gelas di tangan Kiran yang beberapa saat kemudian jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Pecahannya berserakan kemana-mana.

“Apa maksudmu?” Aku tidak mengerti kenapa ia justru menjatuhkan gelas itu.

“Minum lah,” ucapnya dingin.

“Apa katamu?”

“Minum lah, air dari gelas yang aku jatuhkan tadi.”

“Apa kamu gila?”

“Kamu yang gila, Aarav!”

“Kiran, cukup! Hentikan omong kosong ini.”

“Kenapa? Kau minta penjelasan bukan? Lihat gelas itu. Lihat gelas yang sudah pecah itu. Bisakah kau merekatkan kembali seperti semula? Tidak bisa, kan? Sekarang, bisakah kau meminum air manis di dalamnya? Tentu saja tidak bisa.” Wanita itu berorasi di depanku.

“Aku tidak mengerti,” kataku jujur. Apa yang sebenarnya dia maksud.

“Tidak mengerti? Aku ini ibarat gelas pecah. Mas tau apa itu gelas pecah? Ya, sekeras apapun kamu ingin merekatkannya kembali, itu tidak akan pernah berhasil. Dengar, Mas. Jangan pernah berharap kamu bisa meminum air dari gelas pecah itu, tanpa membuat bibirmu terluka,” ucapnya membuatku terdiam.

“Satu lagi, jangan pernah bertanya kenapa aku berubah. Tapi tanya sama diri kamu sendiri, kenapa kamu merubahku? Di hari dimana kamu merenggut bahagiaku, jangan pernah bermimpi mendapatkan kenyamanan dariku.” Setelah mengatakannya, Kiran pergi meninggalkanku yang mematung kebingungan.

Gelas pecah?

Bersambung ….

Bab 2

“Jangan sentuh aku, Mas!”
“Jangan pernah berharap, kamu bisa meminum air dari gelas pecah itu tanpa membuat bibirmu terluka.”
“Di hari dimana kamu merenggut bahagiaku, jangan pernah bermimpi mendapatkan kenyamanan dariku.”

Ucapan Kiran terus terngiang-ngiang di telingaku. Setiap katanya, serasa ingin membuat kepalaku meledak.

“Sial!” Kulempar gelas yang tadi kuminum airnya mengenai kaca rias yang berdiri tegak di samping ranjang.

Ranjang besar dengan selimut tebal menggantung menjadi saksi bisu pertengkaranku dengan Kiran hari ini. Ranjang yang dulunya penuh kehangatan, entah kenapa begitu dingin. Bahkan busa yang seharusnya empuk, kini terasa seperti berduri.

Aku benci keadaan ini.

Gontai aku melangkahkan kakiku menuju balkon. Sepertinya aku membutuhkan angin segar untuk meredam panas di otakku.

Kabut tebal lah yang menyapaku pertama kali saat pintu balkon ini terbuka. Setelahnya mobil yang melaju kencang dari teras meninggalkan gerbang rumah ini membuatku menguatkan pegangan pada pagar balkon kamar ini. Sangat erat, hingga buku-buku di jariku memutih.

“Kiran ….” desisku pelan. Marah? Tentu saja. Geram? Jangan ditanya. Dia istriku, bagaimana bisa dia pergi dari rumah ini tanpa seijinku? Terlepas jika saat ini kondisinya kita sedang bertengkar.

“Arrrghh!” Kakiku menendang angin. Kesal.

Jika saja dia bukan istriku, jika saja aku tidak mengingat bahwa ia pernah membuatku bahagia. Aku ingin sekali meremukkan tulangnya, ia telah memperlakukan aku seperti laki-laki yang tidak berharga.

“Kenapa dia begitu membenciku? Kenapa dia semarah itu padaku? Apa yang dia bilang tadi? Aku merenggut kebahagiannya? Memangnya apa yang aku lakukan?” Otakku berpikir keras. Mengingat-ingat, apakah aku melakukan suatu kesalahan tapi tidak menyadarinya?

Tidak, tidak ada!

Sudah kuingat semuanya, tapi tetap saja. Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Lalu apa yang membuatnya begitu marah? Apa yang membuat dia seperti gelas pecah?

Dering ponsel di saku menginterupsi pikiranku. Tanganku merogoh kantong boxer dan mengeluarkan benda pipih hitam dari sana. Layarnya menyala, menampilkan nama Shelline Atmajaya di sana.

“Halo?” sapaku pada sosok cantik di seberang sana.

“Selamat pagi, Tuan. Perusahaan sedang ada masalah, banyak demo dari karyawan di kantor-kantor cabang. Mereka menuntut kenaikan gaji yang tidak masuk akal. Padahal selama ini kita sudah membayarkan gaji sesuai peraturan perundang-undangan di setiap daerah. Bonus yang diberikan juga tidak pernah telat,” jelas Shelline yang tidak lain adalah sekertaris pribadiku.

“Ini jam berapa Shelline? E-nam pagi. Apa mereka gila, berdemo sepagi ini?” ucapku kesal. Sudah kebutuhanku tidak tersalurkan, sekarang datang masalah yang entah bagaimana bisa terjadi.

“Maaf, Tuan. Saya juga tidak tau. Tapi ini darurat, bisa terjadi kekacauan dimana-mana jika demo itu tidak diredakan.”

“Hubungi Axel Graham. Minta dia urus semuanya,” tukasku cepat. Aku sedang tidak ingin diganggu dengan urusan perusahaan saat ini. Setidaknya, untuk pagi yang suram ini.

“Baik, Tuan.” Tak berselang lama, telepon pun terputus.

Axel Graham adalah tangan kiriku. Ia sangat bisa aku handalkan. Aku yakin, masalah ini akan sanggup dia selesaikan.

Kesunyian yang ada di rumah ini kembali menyeretku dalam ingatan tentang Kiran. Ah, aku harus cari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Mungkinkah Kiran marah karena aku sering sibuk, sampai akhirnya dia mencari perhatian dari laki-laki lain?

Tidak, tidak! Kiran bukan wanita rendahan seperti itu.

“Tapi bagaimana jika dia benar-benar selingkuh?” bisik batinku lagi.

Ponselku kembali berdering. Kesal aku mengangkat panggilan tanpa melihat nama yang tertera di layar.

“Ada apa lagi, Shelline?”

“Hahaha. Aku bukan Shelline.” Suara bariton yang tidak aku kenal tertawa di seberang telepon.

“Siapa kamu?”

“Dewa penyelamat,” jawabnya sembari cengengesan.

“Apa maksudmu? Jangan membuang-buang waktuku, atau aku akan mematahkan tulangmu.”

“Eitz … sabar. Aku punya kejutan untukmu. Biar kuberikan melalui email. Tuing! Terkirim. Silahkan nikmati kejutan yang aku berikan. Hahahaha!” Sambungan terputus.

Penasaran aku membuka notifikasi email yang ada. Membukanya, seketika mataku membulat. Di sana terpampang jelas, bagaimana Kiran bercumbu mesra dengan laki-laki lain. Foto ini ….

“Kiraaan …!”

Bersambung ….

Bab 3

“Jadi kamu tidur dengan laki-laki lain?” desisku sembari menggenggam erat ponsel di tangan.
“Kamu yang selingkuh, tapi aku yang kamu tuduh merebut kebahagianmu? Wow! Sungguh hebat,” tambahku bergumam.
“Kiran! Argghhhh!” Ponsel di tangan melayang mengenai bingkai foto pernikahan besar yang menggantung di kamar ini. Kacanya pecah, berserakan. Salah satu pecahannya terlempar menggores tangan kiriku.
Entah seberapa dalam, tapi yang jelas saat ini darah mengucur dari sana.
Pintu kamar diketuk, setelah mendapat izin dariku seorang wanita paruh baya masuk kamar ini.
“Ada apa?” tanyaku dingin.
“Tidak, Tuan. Saya hanya ingin memastikan kalau Tuan baik-baik saja. Karena tadi saya mendengar suara benda pecah yang berulang dari kamar ini,” jelas wanita itu takut-takut. Memang begitulah tabiatnya setiap kali aku sedang mengamuk besar.
“Tuan, tangannya berdarah,” tambahnya berjalan mendekat.
“Aku baik-baik saja. Hanya sedang mencari hiburan dengan benda-benda yang ada di sini. Bibi keluarlah. Aku ingin sendirian,” ucapku tegas. Tanpa berani membantah, wanita itu langsung pergi dari ruangan ini.
“Baik, Tuan.”
Setelah Bi Jum pergi dari ruangan ini, aku langsung mendudukkan tubuhku di ranjang. Menutup wajah dengan kedua tangan, kemudian mengusapnya kasar.
Sejak tadi bayangan foto Kiran yang asik bercumbu dengan pria asing itu terus saja berputar-putar di kepala.
“Akan aku berikan perhitungan untuk semua ini Kiran. Berani sekali kamu yang berhianat, tapi menuduhku yang tidak-tidak.” Tanganku mengepal untuk sesaat, kemudian segera bangkit untuk membersihkan diri dan memasang perban di lukaku.
***
Sibuk dengan pekerjaan menjadi pilihanku saat bermasalah dengan Kiran. Aku selalu berhasil melupakannya saat bekerja, tapi entah kenapa hari ini tidak. Sial!
Aku merindukannya.
Merindukan istriku yang ternyata sudah tidur dengan pria lain. Wanita yang telah menginjak harga diriku, kenapa aku harus merindukannya?
“Halo? Ada apa Shellin?” tanyaku begitu gagang telepon menempel di telinga.
“Karyawan baru, ada yang ingin bertemu dengan Tuan,” suara serak sekertarisku itu terdengar sedikit manja.
“Ada perlu apa dia menemuiku?”
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi dia bilang, dia punya ide brilian untuk kelancaran proyek kita yang sedang bermasalah.”
“Iyakah? Suruh dia masuk.”
“Baik, Tuan.”
Dalam hitungan detik, suara hak sepatu memenuhi ruang kerjaku. Bunyinya memacu adrenalinku lebih cepat.
Aku mengangkat wajah dan wanita itu berdiri tepat di depanku.
“Selamat siang, Tuan Aarav.”
Satu kata. Anggun. Ralat, tiga kata. Anggun, cantik, seksi. Itu adalah kalimat yang mendeskripsikan bagaimana wanita yang berdiri di depanku saat ini.
“Siang,” jawabku setenang mungkin. Bisa jatuh harga diriku jika sampai kelihatan mengagumi karyawan ini dalam sekali pandang.
Wanita itu tersenyum.
“Duduk lah.” Perintahku tegas.
“Baik, Tuan.”
“Siapa namamu?”
“Dyah Pitaloka. Biasa dipanggil Aloka,” jawabnya dengan gestur wajah yang menggemaskan.
“Oke Aloka. Boleh aku memanggilmu, Dyah? Kurasa panggilan itu jauh lebih indah untuk didengar. Lebih cantik,” tuturku sesekali mencuri pandang pada wajah ayunya.
“Tentu, Tuan. Saya juga merasa itu nama yang bagus.” Senyuman manis terukir di bibirnya.
“Baik, apa ide brilian yang kamu punya?”
Dyah tersenyum, dan mulai menjelaskan ide apa yang ia punya untuk kelancaran proyek terpentingku namun sedang mengalami kendala besar.
Dari tadi aku menyimak, setiap penjelasan yang keluar dari bibir merahnya membuatku terpana. Sangat pintar.
Aku heran, manusia sepintar ini kenapa bisa hanya menjadi karyawan biasa di kantor ini.
Kemudian … entah siapa yang memulai, aku dan Dyah sibuk beradu di atas kursiku. Saat keadaan makin memanas, tiba-tiba saja pintu terbuka dan memaksaku mendorong wanita itu menjauh dari tubuhku.
Dyah sibuk merapikan kemejanya yang kubuat berantakan. Sementara wajahku membeku melihat siapa yang masuk ke ruangan ini.
“Kiran ….”
Bersambung ….

Bab 4

“Mas Aarav! Kamu keterlaluan!” Tangan lembutnya menampar pipiku kuat. Meninggalkan jejak nyeri di sana.

“Apa-apaan kamu, Kiran. Berani sekali kamu menamparku di depan karyawanku sendiri? Di mana sopan santunmu? Kamu sama sekali tidak menjaga martabatku sebagai CEO di perusahaan ini,” ucapku emosi. Bisa-bisanya dia berlaku seperti ini. Tingkahnya ini bisa menjadi gosip di seantero perusahaan. Memalukan.

Aku melirik Dyah yang masih berdiri di tempatnya. Dia pun berlalu pergi.

“Karyawan plus plus maksudmu?” ujar Kiran sarkas. Dyah yang belum mencapai pintu pun berhenti. Menatap tak suka pada istriku, kemudian berlalu meninggalkan ruangan ini.

“Jaga ucapan kamu, Kiran.” Aku menahan emosi.

“Jaga ucapan kamu bilang? Kamu tuh, yang seharusnya jaga kelakuan. Tadinya aku ke sini untuk meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Ego sudah kuturunkan, tapi apa yang kamu lakukan? Menjijikkan sekali!” Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Memijit pangkal hidungnya, sedang matanya terus menekuri lantai.

“Mas, tanganmu kenapa diperban?” Ia berubah cemas. Saat tangan dengan jari yang lentik itu ingin menyentuh luka perbanku. Aku menepisnya cepat.

“Jangan sentuh!” Kujauhkan tanganku darinya.

“Kenapa, Mas? Aku khawatir liat tangan kamu. Apa salah?” Wajahnya memelas. Matanya terlihat berembun.

Aku muak melihat wajah ini, apalagi jika ingat dengan foto tadi pagi. Membuat sesuatu yang panas di hatiku semakin mendidih.

“Aku tidak butuh perhatian kamu.” Mataku tegas menatap manik matanya. Dengan harapan, ia percaya bahwa aku benar-benar tidak membutuhkannya.

“Kenapa? Karena wanita tadi? Sudah seberapa jauh kamu sama dia? Apakah kamu lebih memilih dia dibandingkan aku sebagai istrimu?” Matanya tajam menusuk relung hatiku. Tatapannya bukan seperti istriku, dulu Kiran selalu menatapku lembut tidak seperti sekarang ini.

“Kamu sama dia bahkan nggak ada bedanya,” ucapku tidak bisa menahan diri. Marah, cemburu, kesal. Entah apa namanya perasaan yang tercampur aduk seperti adonan bakwan ini.

“Apa kamu bilang?” Kiran menjatuhkan tas di tangannya. Terkejut? Aku tidak peduli.

“Ya, seperti yang kamu dengar dengan jelas.” Meliriknya sinis, kemudian kualihkan pandangan pada kaca jendela ruangan ini.

“Kamu nyamain aku sama dia?” Suaranya sudah mulai serak. Mungkin sebentar lagi menangis. Bisa apa memangnya perempuan kalau tidak menangis? Merasa paling disakiti, padahal dia lebih menyakiti.

Melihat aku bercumbu gitu aja dia udah seperti ini. Apa kabar aku yang melihat foto panas dirinya itu? AC ruangan ini saja tidak mampu mendinginkannya.

“Iya,” jawabku dengan ego yang masih bertahta.

“Nggak salah kamu, Mas? Aku, dan karyawan murahan itu?” Nadanya seperti orang yang terdzolimi. Padahal, dia sendiri wanita yang menjijikkan.

“Tutup mulut kamu, Kiran. Jangan berkata-kata seolah kamu ini wanita suci. Kamu sama kotornya seperti dia,” jari telunjukku menunjuk-nunjuk wajahnya. Kesal.

“Atas dasar apa kamu melabeliku seperti ini, Mas? Apa yang aku lakukan? Kamu yang salah, kamu yang marah, aku yang dituduh dan direndahkan.” Kaca-kaca di mata Kiran semakin jelas. Air bening yang biasanya membuatku iba, hari ini seperti tidak berlaku lagi. Yang ada aku semakin ilfill dengan dia.

“Atas dasar apa? Jangan tanya aku. Lebih baik kamu berkaca saja, sana. Biar sadar, kamu itu wanita seperti apa.” Aku berbalik, berjalan menjauh dari dia. Mendekatkan diri ke jendela, menatap keindahan kota di bawah sana.

Untuk beberapa saat kita terdiam. Yang terdengar hanya isak tangis Kiran. Sampai akhirnya, suara benda dibanting membuatku menoleh.

“Ngapain banting gelas lagi?” tanyaku begitu melihat gelas dia atas mejaku sudah berpindah ke lantai. Pecah berkeping-keping.

“Gelas yang kemarin aku bicarakan, sudah bukan pecah lagi Mas. Tapi hancur berkeping-keping. Sama seperti hati dan rasa percayaku padamu.” Setelah mengatakannya, Kiran pergi meninggalkan ruangan ini.

Lagi-lagi dia berbicara tentang gelas pecah. Apa, sih maksudnya? Heran.

Bersambung ….

Bab 5

“Aku pergi, Mas.”

Mataku membulat begitu sampai ke kamar dan melihat Kiran sudah siap dengan kopernya.

“Aina ikut bersamaku,” tambahnya lagi. Sembari menggenggam erat tangan putri kami yang berusia tiga tahun.

“Apa-apaan ini Kiran? Mau ke mana? Kenapa juga, harus membawa Aina. Dia masih terlalu kecil untuk kamu bawa jalan-jalan.” Aku mendekat. Berniat merebut Aina dari tangan Kiran. Tapi wanita itu dengan cepat menghindar, dan melangkah mundur.

“Memangnya siapa yang mau pergi jalan-jalan?” tanyanya dengan tatapan menantang. Aku tau Kiran akan marah padaku karena kejadian tadi siang, tapi aku sama sekali tidak menduga ia akan pergi dan membawa Aina seperti ini.

“Kalau bukan karena jalan-jalan, memangnya kamu akan kemana?” Alisku berkerut, sedang otakku sibuk menduga-duga.

Dia pergi ke rumah orangtuanya, atau ke rumah selingkuhannya?

“Bukan urusan kamu, Mas. Aku hanya ingin memberitahumu aku pergi, tapi tidak dengan keberadaanku selanjutnya. Aku akan segera mengurus perceraian kita, dan kamu tidak punya hak apapun atas aku lagi.” Ia menggendong Aina, satu tangannya meraih koper dan menyeretnya keluar.

“Tunggu!” cegahku saat ia sudah hampir mencapai pintu.

“Ada apa lagi, Mas Aarav? Bahtera kita cukuplah sampai di sini, aku sudah muak dengan semua tingkah kamu. Aku nggak mau hidup satu rumah dengan laki-laki yang tidak bisa menghargai sebuah komitmen.” Mulutnya masih saja berkata sinis. Kejadian di kantor tadi itu kecelakaan, bukan seperti dia dan selingkuhannya yang entah siapa itu.

“Kamu ….” Geram aku mendekatinya.

“Kenapa, Mas? Kamu ingin marah? Silahkan saja, aku sama sekali tidak peduli.”

Setelah mengatakannya ia berjalan keluar. Aku terdiam, menenangkan gejolak yang ada di hati. Setelah merasa tenang, aku menyusulnya ke luar.

“Nyonya … Nyonya mau ke mana?” Kudengar suara Bi Jum menyapa Kiran.

“Saya mau pergi, Bi. Saya sudah nggak nyaman lagi tinggal di rumah ini.”

“Loh, kenapa? Ada masalah sama Tuan Aarav? Aduh … jangan pergi dong, Nya. Rumah ini akan sepi jika tidak ada Nyonya.”

“Maaf ya, Bi. Tapi saya harus tetap pergi.” Kiran kembali berjalan menuju pintu keluar.

“Aku tidak mengijinkan kamu keluar dari rumah ini. Jangan lupa, kamu sedang berada di kediaman Aarav Syahreza. Tanpa ijinku orang tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Sudah kuberitahukan pada seluruh security agar mencegah kamu keluar dari rumah ini. Kebebasan aksesmu keluar masuk rumah ini, sudah aku cabut,” ucapku tegas. Hal itu sukses membuat mata Kiran melotot ke arahku.

“Kamu ini apa-apaan sih, Mas? Apa maksudmu melakukan semua ini?”

“Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, jangan pernah lupakan itu.”

“Kecuali aku. Aku tidak bisa kamu beli dengan uangmu itu! Cabut perintahmu, dan biarkan aku pergi.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Aku akan tetap pergi. Tidak peduli hidup atau mati, aku akan tetap keluar dari gerbang rumah ini.” Ia menatapku tajam. Tatapannya mengisyaratkan bahwa ia tidak takut dengan kematian yang aku tawarkan.

“Kamu tidak ingin mencabut tuntutannya? Oke! Aku akan tetap pergi dari sini.”

Tubuhku membeku melihat Kiran terus melangkah ke luar. Ia benar-benar tidak peduli dengan security yang siap berbuat apapun demi mencegahnya keluar. Aku harus melakukan sesuatu.

“Cici!” seruku memanggil pengasuh Aina. Sedang yang kupanggil mamanya segera berlari ke arahku.

“Iya, Tuan.” Ia berhenti dan berdiri tepat di sampingku.

“Ikut aku.”

“Ke mana Tuan?”

“Ikuti saja.”

Langkahku tegas menghampiri Aina yang sibuk berdebat dengan penjaga.

“Ambil Aina. Pisahkan dia dari Ibunya!” perintahku yang langsung ditanggapi dengan cepat. Hanya butuh waktu beberapa detik, Aina dan Kiran sudah terpisah.

“Mas, kamu mau apa?” Tubuh Kiran membeku saat aku mendekatinya. Menatap matanya dengan tatapan tajam. Tatapan yang mungkin terasa mencabik-cabik hatinya. Aku tidak peduli. Dia sudah keterlaluan hari ini.

“Mas … jangan mendekat.” Ia berjalan mundur. Tubuhnya menatap dinding kaca ruangan ini.

Tanpa persetujuannya, kubopong tubuh mungilnya dan membawanya masuk ke kamar kami.

“Mas, turunkan aku. Aku mau pergi!” Ia meraung. Memberontak ingin dilepaskan. Tapi apa daya? Tenaganya tidak lebih besar dariku.

“Diam! Kiran ….”

Bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ketika Gelas Sudah Pecah

Esana Gulpinar

Bab 1

“Jangan sentuh aku, Mas!” pekik Kiran membuat mataku membulat.

“Kenapa? Aku masih suamimu.”

“Maaf, Mas.” Ia berlalu begitu saja. Membuatku semakin geram dan kesal.

“Kenapa kamu berubah,” ucapku menahan langkahnya.

“Kenapa aku berubah? Kau sungguh ingin tau?” bukannya meminta maaf ia justru menatapku tanpa rasa takut.

“Katakan,” ucapku menahan gemuruh hebat di dada. Seberapa kesal pun aku padanya, hatiku menolak untuk menyakitinya.

“Tunggu di sini.” Wanita itu berlalu. Sedangkan aku, menunggu penjelasannya di sini. Di kamar ini, kamar yang menjadi saksi kebersamaan kita selama lima tahun terakhir.

Aku Aarav Syahreza. Pria matang usia tiga puluh lima tahun, pemilik perusahaan Aarav Group yang merupakan perusahaan paling besar di kota ini. Sedangkan wanita itu, dia Zanna Kirania-istriku. Wanita yang aku nikahi lima tahun lalu. Wanita yang belakangan bersikap aneh, dan terkesan menjaga jarak denganku.

Jangan tanya kenapa, karena aku pun tidak tahu jawabannya. Lebih baik kita lihat saja, apa yang akan ia jelaskan padaku nanti.

Tak berapa lama Kiran kembali masuk dengan dua buah gelas di tangannya. Dua-duanya terisi penuh dengan air putih. Wajah cantiknya berjalan mendekat ke arahku.

“Untuk apa air-air itu?” tanyaku dengan kening berkerut. Aku tidak merasa sedang meminta minum.

“Minum.” Ia menyodorkan satu gelas padaku.

“Aku tidak haus,” tolakku mentah-mentah. Apa-apaan dia? Tiba-tiba memberiku minum, padahal aku tidak sedang memintanya. Apa aku kelihatan sangat kehausan?

“Aku bilang minum,” tegasnya.

“Nggak!” Aku bersikukuh.

“Bukankah kamu meminta penjelasan?” tanyanya menatapku tajam.

“Ya, aku meminta penjelasan. Bukan minuman.”

“Minumlah, kamu akan mendapatkan penjelasannya setelah ini.” Ia kembali menyodorkan satu gelas untukku. Aku pun menerimanya.

Kutatap gelas di tangan dan wajahnya secara bergantian. Sikap Kiran kali ini memang sudah keterlaluan, apa dia sedang menguji kekuatan sabarku?

“Minum,” titahnya. Aku terus mengamati wajahnya, sekilas kutangkap senyum sinis dari bibir manisnya.

“Jangan-jangan dia mau meracuniku,” batinku curiga. Mengingat hubungan kami belakang memang kurang baik.

“Sini.” Aku menukar gelas di tanganku dengan gelas yang ada ditangannya.

“Takut diracun?” tanyanya sembari menerima uluran gelas dariku.

“Aku akan meminumnya,” ucapku tanpa menjawab ucapannya yang terkesan sarkas.

Segera kuteguk air dalam gelas itu. Habis setengahnya.

“Sudah. Sekarang, jelaskan. Kenapa kamu berubah?” tanyaku tak sabar.

“Bagaimana rasanya?” Bukannya menjawab, ia justru menanyakan rasa minuman yang tadi aku minum. Itu membuatku benar-benar kesal. Tapi aku tetap berusaha sabar menghadapinya.

“Manis,” jawabku datar. Entah minuman apa yang dia berikan padaku. Tadinya kusangka itu air putih.

“Bagaimana kondisi bibirmu?” tanyanya lagi.

Ya Tuhan … pertanyaan macam apa ini? Apa dia tidak bisa melihat, bahwa bibirku baik-baik saja.

“Kamu tidak bisa melihat? Tidak punya mata?” tanyaku geram.

“Bisakah kamu tinggal jawab saja pertanyaanku?”

“Apa kamu sedang mempermainkanku sekarang? Hah? Mana penjelasanmu? Jangan bertele-tele! Oh, atau ada laki-laki lain dalam hidup kamu? Hah? Jawab!” seruku naik pitam. Salah dia sendiri, untuk apa menguji kesabaranku seperti tadi?

“Tenanglah, Aarav. Aku bukan tipe wanita yang suka mendua. Tidak ada laki-laki lain dalam hidupku. Aku juga bukan wanita yang susah setia sepertimu,” tuturnya pelan. Singkat, tapi rasanya sangat menyakitkan.

Apa arti ucapannya itu. Apa dia sedang mencurigai aku selingkuh?

“Kau!” Hampir saja aku menamparnya. Namun segera kutahan gerakan tanganku dan menurunkannya.

“Lihat gelas ini, Aarav. Lihat gelas yang ada di tanganku.”

Aku melihatnya. Gelas di tangan Kiran yang beberapa saat kemudian jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Pecahannya berserakan kemana-mana.

“Apa maksudmu?” Aku tidak mengerti kenapa ia justru menjatuhkan gelas itu.

“Minum lah,” ucapnya dingin.

“Apa katamu?”

“Minum lah, air dari gelas yang aku jatuhkan tadi.”

“Apa kamu gila?”

“Kamu yang gila, Aarav!”

“Kiran, cukup! Hentikan omong kosong ini.”

“Kenapa? Kau minta penjelasan bukan? Lihat gelas itu. Lihat gelas yang sudah pecah itu. Bisakah kau merekatkan kembali seperti semula? Tidak bisa, kan? Sekarang, bisakah kau meminum air manis di dalamnya? Tentu saja tidak bisa.” Wanita itu berorasi di depanku.

“Aku tidak mengerti,” kataku jujur. Apa yang sebenarnya dia maksud.

“Tidak mengerti? Aku ini ibarat gelas pecah. Mas tau apa itu gelas pecah? Ya, sekeras apapun kamu ingin merekatkannya kembali, itu tidak akan pernah berhasil. Dengar, Mas. Jangan pernah berharap kamu bisa meminum air dari gelas pecah itu, tanpa membuat bibirmu terluka,” ucapnya membuatku terdiam.

“Satu lagi, jangan pernah bertanya kenapa aku berubah. Tapi tanya sama diri kamu sendiri, kenapa kamu merubahku? Di hari dimana kamu merenggut bahagiaku, jangan pernah bermimpi mendapatkan kenyamanan dariku.” Setelah mengatakannya, Kiran pergi meninggalkanku yang mematung kebingungan.

Gelas pecah?

Bersambung ….

Bab 2

“Jangan sentuh aku, Mas!”
“Jangan pernah berharap, kamu bisa meminum air dari gelas pecah itu tanpa membuat bibirmu terluka.”
“Di hari dimana kamu merenggut bahagiaku, jangan pernah bermimpi mendapatkan kenyamanan dariku.”

Ucapan Kiran terus terngiang-ngiang di telingaku. Setiap katanya, serasa ingin membuat kepalaku meledak.

“Sial!” Kulempar gelas yang tadi kuminum airnya mengenai kaca rias yang berdiri tegak di samping ranjang.

Ranjang besar dengan selimut tebal menggantung menjadi saksi bisu pertengkaranku dengan Kiran hari ini. Ranjang yang dulunya penuh kehangatan, entah kenapa begitu dingin. Bahkan busa yang seharusnya empuk, kini terasa seperti berduri.

Aku benci keadaan ini.

Gontai aku melangkahkan kakiku menuju balkon. Sepertinya aku membutuhkan angin segar untuk meredam panas di otakku.

Kabut tebal lah yang menyapaku pertama kali saat pintu balkon ini terbuka. Setelahnya mobil yang melaju kencang dari teras meninggalkan gerbang rumah ini membuatku menguatkan pegangan pada pagar balkon kamar ini. Sangat erat, hingga buku-buku di jariku memutih.

“Kiran ….” desisku pelan. Marah? Tentu saja. Geram? Jangan ditanya. Dia istriku, bagaimana bisa dia pergi dari rumah ini tanpa seijinku? Terlepas jika saat ini kondisinya kita sedang bertengkar.

“Arrrghh!” Kakiku menendang angin. Kesal.

Jika saja dia bukan istriku, jika saja aku tidak mengingat bahwa ia pernah membuatku bahagia. Aku ingin sekali meremukkan tulangnya, ia telah memperlakukan aku seperti laki-laki yang tidak berharga.

“Kenapa dia begitu membenciku? Kenapa dia semarah itu padaku? Apa yang dia bilang tadi? Aku merenggut kebahagiannya? Memangnya apa yang aku lakukan?” Otakku berpikir keras. Mengingat-ingat, apakah aku melakukan suatu kesalahan tapi tidak menyadarinya?

Tidak, tidak ada!

Sudah kuingat semuanya, tapi tetap saja. Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Lalu apa yang membuatnya begitu marah? Apa yang membuat dia seperti gelas pecah?

Dering ponsel di saku menginterupsi pikiranku. Tanganku merogoh kantong boxer dan mengeluarkan benda pipih hitam dari sana. Layarnya menyala, menampilkan nama Shelline Atmajaya di sana.

“Halo?” sapaku pada sosok cantik di seberang sana.

“Selamat pagi, Tuan. Perusahaan sedang ada masalah, banyak demo dari karyawan di kantor-kantor cabang. Mereka menuntut kenaikan gaji yang tidak masuk akal. Padahal selama ini kita sudah membayarkan gaji sesuai peraturan perundang-undangan di setiap daerah. Bonus yang diberikan juga tidak pernah telat,” jelas Shelline yang tidak lain adalah sekertaris pribadiku.

“Ini jam berapa Shelline? E-nam pagi. Apa mereka gila, berdemo sepagi ini?” ucapku kesal. Sudah kebutuhanku tidak tersalurkan, sekarang datang masalah yang entah bagaimana bisa terjadi.

“Maaf, Tuan. Saya juga tidak tau. Tapi ini darurat, bisa terjadi kekacauan dimana-mana jika demo itu tidak diredakan.”

“Hubungi Axel Graham. Minta dia urus semuanya,” tukasku cepat. Aku sedang tidak ingin diganggu dengan urusan perusahaan saat ini. Setidaknya, untuk pagi yang suram ini.

“Baik, Tuan.” Tak berselang lama, telepon pun terputus.

Axel Graham adalah tangan kiriku. Ia sangat bisa aku handalkan. Aku yakin, masalah ini akan sanggup dia selesaikan.

Kesunyian yang ada di rumah ini kembali menyeretku dalam ingatan tentang Kiran. Ah, aku harus cari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Mungkinkah Kiran marah karena aku sering sibuk, sampai akhirnya dia mencari perhatian dari laki-laki lain?

Tidak, tidak! Kiran bukan wanita rendahan seperti itu.

“Tapi bagaimana jika dia benar-benar selingkuh?” bisik batinku lagi.

Ponselku kembali berdering. Kesal aku mengangkat panggilan tanpa melihat nama yang tertera di layar.

“Ada apa lagi, Shelline?”

“Hahaha. Aku bukan Shelline.” Suara bariton yang tidak aku kenal tertawa di seberang telepon.

“Siapa kamu?”

“Dewa penyelamat,” jawabnya sembari cengengesan.

“Apa maksudmu? Jangan membuang-buang waktuku, atau aku akan mematahkan tulangmu.”

“Eitz … sabar. Aku punya kejutan untukmu. Biar kuberikan melalui email. Tuing! Terkirim. Silahkan nikmati kejutan yang aku berikan. Hahahaha!” Sambungan terputus.

Penasaran aku membuka notifikasi email yang ada. Membukanya, seketika mataku membulat. Di sana terpampang jelas, bagaimana Kiran bercumbu mesra dengan laki-laki lain. Foto ini ….

“Kiraaan …!”

Bersambung ….

Bab 3

“Jadi kamu tidur dengan laki-laki lain?” desisku sembari menggenggam erat ponsel di tangan.
“Kamu yang selingkuh, tapi aku yang kamu tuduh merebut kebahagianmu? Wow! Sungguh hebat,” tambahku bergumam.
“Kiran! Argghhhh!” Ponsel di tangan melayang mengenai bingkai foto pernikahan besar yang menggantung di kamar ini. Kacanya pecah, berserakan. Salah satu pecahannya terlempar menggores tangan kiriku.
Entah seberapa dalam, tapi yang jelas saat ini darah mengucur dari sana.
Pintu kamar diketuk, setelah mendapat izin dariku seorang wanita paruh baya masuk kamar ini.
“Ada apa?” tanyaku dingin.
“Tidak, Tuan. Saya hanya ingin memastikan kalau Tuan baik-baik saja. Karena tadi saya mendengar suara benda pecah yang berulang dari kamar ini,” jelas wanita itu takut-takut. Memang begitulah tabiatnya setiap kali aku sedang mengamuk besar.
“Tuan, tangannya berdarah,” tambahnya berjalan mendekat.
“Aku baik-baik saja. Hanya sedang mencari hiburan dengan benda-benda yang ada di sini. Bibi keluarlah. Aku ingin sendirian,” ucapku tegas. Tanpa berani membantah, wanita itu langsung pergi dari ruangan ini.
“Baik, Tuan.”
Setelah Bi Jum pergi dari ruangan ini, aku langsung mendudukkan tubuhku di ranjang. Menutup wajah dengan kedua tangan, kemudian mengusapnya kasar.
Sejak tadi bayangan foto Kiran yang asik bercumbu dengan pria asing itu terus saja berputar-putar di kepala.
“Akan aku berikan perhitungan untuk semua ini Kiran. Berani sekali kamu yang berhianat, tapi menuduhku yang tidak-tidak.” Tanganku mengepal untuk sesaat, kemudian segera bangkit untuk membersihkan diri dan memasang perban di lukaku.
***
Sibuk dengan pekerjaan menjadi pilihanku saat bermasalah dengan Kiran. Aku selalu berhasil melupakannya saat bekerja, tapi entah kenapa hari ini tidak. Sial!
Aku merindukannya.
Merindukan istriku yang ternyata sudah tidur dengan pria lain. Wanita yang telah menginjak harga diriku, kenapa aku harus merindukannya?
“Halo? Ada apa Shellin?” tanyaku begitu gagang telepon menempel di telinga.
“Karyawan baru, ada yang ingin bertemu dengan Tuan,” suara serak sekertarisku itu terdengar sedikit manja.
“Ada perlu apa dia menemuiku?”
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi dia bilang, dia punya ide brilian untuk kelancaran proyek kita yang sedang bermasalah.”
“Iyakah? Suruh dia masuk.”
“Baik, Tuan.”
Dalam hitungan detik, suara hak sepatu memenuhi ruang kerjaku. Bunyinya memacu adrenalinku lebih cepat.
Aku mengangkat wajah dan wanita itu berdiri tepat di depanku.
“Selamat siang, Tuan Aarav.”
Satu kata. Anggun. Ralat, tiga kata. Anggun, cantik, seksi. Itu adalah kalimat yang mendeskripsikan bagaimana wanita yang berdiri di depanku saat ini.
“Siang,” jawabku setenang mungkin. Bisa jatuh harga diriku jika sampai kelihatan mengagumi karyawan ini dalam sekali pandang.
Wanita itu tersenyum.
“Duduk lah.” Perintahku tegas.
“Baik, Tuan.”
“Siapa namamu?”
“Dyah Pitaloka. Biasa dipanggil Aloka,” jawabnya dengan gestur wajah yang menggemaskan.
“Oke Aloka. Boleh aku memanggilmu, Dyah? Kurasa panggilan itu jauh lebih indah untuk didengar. Lebih cantik,” tuturku sesekali mencuri pandang pada wajah ayunya.
“Tentu, Tuan. Saya juga merasa itu nama yang bagus.” Senyuman manis terukir di bibirnya.
“Baik, apa ide brilian yang kamu punya?”
Dyah tersenyum, dan mulai menjelaskan ide apa yang ia punya untuk kelancaran proyek terpentingku namun sedang mengalami kendala besar.
Dari tadi aku menyimak, setiap penjelasan yang keluar dari bibir merahnya membuatku terpana. Sangat pintar.
Aku heran, manusia sepintar ini kenapa bisa hanya menjadi karyawan biasa di kantor ini.
Kemudian … entah siapa yang memulai, aku dan Dyah sibuk beradu di atas kursiku. Saat keadaan makin memanas, tiba-tiba saja pintu terbuka dan memaksaku mendorong wanita itu menjauh dari tubuhku.
Dyah sibuk merapikan kemejanya yang kubuat berantakan. Sementara wajahku membeku melihat siapa yang masuk ke ruangan ini.
“Kiran ….”
Bersambung ….

Bab 4

“Mas Aarav! Kamu keterlaluan!” Tangan lembutnya menampar pipiku kuat. Meninggalkan jejak nyeri di sana.

“Apa-apaan kamu, Kiran. Berani sekali kamu menamparku di depan karyawanku sendiri? Di mana sopan santunmu? Kamu sama sekali tidak menjaga martabatku sebagai CEO di perusahaan ini,” ucapku emosi. Bisa-bisanya dia berlaku seperti ini. Tingkahnya ini bisa menjadi gosip di seantero perusahaan. Memalukan.

Aku melirik Dyah yang masih berdiri di tempatnya. Dia pun berlalu pergi.

“Karyawan plus plus maksudmu?” ujar Kiran sarkas. Dyah yang belum mencapai pintu pun berhenti. Menatap tak suka pada istriku, kemudian berlalu meninggalkan ruangan ini.

“Jaga ucapan kamu, Kiran.” Aku menahan emosi.

“Jaga ucapan kamu bilang? Kamu tuh, yang seharusnya jaga kelakuan. Tadinya aku ke sini untuk meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Ego sudah kuturunkan, tapi apa yang kamu lakukan? Menjijikkan sekali!” Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Memijit pangkal hidungnya, sedang matanya terus menekuri lantai.

“Mas, tanganmu kenapa diperban?” Ia berubah cemas. Saat tangan dengan jari yang lentik itu ingin menyentuh luka perbanku. Aku menepisnya cepat.

“Jangan sentuh!” Kujauhkan tanganku darinya.

“Kenapa, Mas? Aku khawatir liat tangan kamu. Apa salah?” Wajahnya memelas. Matanya terlihat berembun.

Aku muak melihat wajah ini, apalagi jika ingat dengan foto tadi pagi. Membuat sesuatu yang panas di hatiku semakin mendidih.

“Aku tidak butuh perhatian kamu.” Mataku tegas menatap manik matanya. Dengan harapan, ia percaya bahwa aku benar-benar tidak membutuhkannya.

“Kenapa? Karena wanita tadi? Sudah seberapa jauh kamu sama dia? Apakah kamu lebih memilih dia dibandingkan aku sebagai istrimu?” Matanya tajam menusuk relung hatiku. Tatapannya bukan seperti istriku, dulu Kiran selalu menatapku lembut tidak seperti sekarang ini.

“Kamu sama dia bahkan nggak ada bedanya,” ucapku tidak bisa menahan diri. Marah, cemburu, kesal. Entah apa namanya perasaan yang tercampur aduk seperti adonan bakwan ini.

“Apa kamu bilang?” Kiran menjatuhkan tas di tangannya. Terkejut? Aku tidak peduli.

“Ya, seperti yang kamu dengar dengan jelas.” Meliriknya sinis, kemudian kualihkan pandangan pada kaca jendela ruangan ini.

“Kamu nyamain aku sama dia?” Suaranya sudah mulai serak. Mungkin sebentar lagi menangis. Bisa apa memangnya perempuan kalau tidak menangis? Merasa paling disakiti, padahal dia lebih menyakiti.

Melihat aku bercumbu gitu aja dia udah seperti ini. Apa kabar aku yang melihat foto panas dirinya itu? AC ruangan ini saja tidak mampu mendinginkannya.

“Iya,” jawabku dengan ego yang masih bertahta.

“Nggak salah kamu, Mas? Aku, dan karyawan murahan itu?” Nadanya seperti orang yang terdzolimi. Padahal, dia sendiri wanita yang menjijikkan.

“Tutup mulut kamu, Kiran. Jangan berkata-kata seolah kamu ini wanita suci. Kamu sama kotornya seperti dia,” jari telunjukku menunjuk-nunjuk wajahnya. Kesal.

“Atas dasar apa kamu melabeliku seperti ini, Mas? Apa yang aku lakukan? Kamu yang salah, kamu yang marah, aku yang dituduh dan direndahkan.” Kaca-kaca di mata Kiran semakin jelas. Air bening yang biasanya membuatku iba, hari ini seperti tidak berlaku lagi. Yang ada aku semakin ilfill dengan dia.

“Atas dasar apa? Jangan tanya aku. Lebih baik kamu berkaca saja, sana. Biar sadar, kamu itu wanita seperti apa.” Aku berbalik, berjalan menjauh dari dia. Mendekatkan diri ke jendela, menatap keindahan kota di bawah sana.

Untuk beberapa saat kita terdiam. Yang terdengar hanya isak tangis Kiran. Sampai akhirnya, suara benda dibanting membuatku menoleh.

“Ngapain banting gelas lagi?” tanyaku begitu melihat gelas dia atas mejaku sudah berpindah ke lantai. Pecah berkeping-keping.

“Gelas yang kemarin aku bicarakan, sudah bukan pecah lagi Mas. Tapi hancur berkeping-keping. Sama seperti hati dan rasa percayaku padamu.” Setelah mengatakannya, Kiran pergi meninggalkan ruangan ini.

Lagi-lagi dia berbicara tentang gelas pecah. Apa, sih maksudnya? Heran.

Bersambung ….

Bab 5

“Aku pergi, Mas.”

Mataku membulat begitu sampai ke kamar dan melihat Kiran sudah siap dengan kopernya.

“Aina ikut bersamaku,” tambahnya lagi. Sembari menggenggam erat tangan putri kami yang berusia tiga tahun.

“Apa-apaan ini Kiran? Mau ke mana? Kenapa juga, harus membawa Aina. Dia masih terlalu kecil untuk kamu bawa jalan-jalan.” Aku mendekat. Berniat merebut Aina dari tangan Kiran. Tapi wanita itu dengan cepat menghindar, dan melangkah mundur.

“Memangnya siapa yang mau pergi jalan-jalan?” tanyanya dengan tatapan menantang. Aku tau Kiran akan marah padaku karena kejadian tadi siang, tapi aku sama sekali tidak menduga ia akan pergi dan membawa Aina seperti ini.

“Kalau bukan karena jalan-jalan, memangnya kamu akan kemana?” Alisku berkerut, sedang otakku sibuk menduga-duga.

Dia pergi ke rumah orangtuanya, atau ke rumah selingkuhannya?

“Bukan urusan kamu, Mas. Aku hanya ingin memberitahumu aku pergi, tapi tidak dengan keberadaanku selanjutnya. Aku akan segera mengurus perceraian kita, dan kamu tidak punya hak apapun atas aku lagi.” Ia menggendong Aina, satu tangannya meraih koper dan menyeretnya keluar.

“Tunggu!” cegahku saat ia sudah hampir mencapai pintu.

“Ada apa lagi, Mas Aarav? Bahtera kita cukuplah sampai di sini, aku sudah muak dengan semua tingkah kamu. Aku nggak mau hidup satu rumah dengan laki-laki yang tidak bisa menghargai sebuah komitmen.” Mulutnya masih saja berkata sinis. Kejadian di kantor tadi itu kecelakaan, bukan seperti dia dan selingkuhannya yang entah siapa itu.

“Kamu ….” Geram aku mendekatinya.

“Kenapa, Mas? Kamu ingin marah? Silahkan saja, aku sama sekali tidak peduli.”

Setelah mengatakannya ia berjalan keluar. Aku terdiam, menenangkan gejolak yang ada di hati. Setelah merasa tenang, aku menyusulnya ke luar.

“Nyonya … Nyonya mau ke mana?” Kudengar suara Bi Jum menyapa Kiran.

“Saya mau pergi, Bi. Saya sudah nggak nyaman lagi tinggal di rumah ini.”

“Loh, kenapa? Ada masalah sama Tuan Aarav? Aduh … jangan pergi dong, Nya. Rumah ini akan sepi jika tidak ada Nyonya.”

“Maaf ya, Bi. Tapi saya harus tetap pergi.” Kiran kembali berjalan menuju pintu keluar.

“Aku tidak mengijinkan kamu keluar dari rumah ini. Jangan lupa, kamu sedang berada di kediaman Aarav Syahreza. Tanpa ijinku orang tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Sudah kuberitahukan pada seluruh security agar mencegah kamu keluar dari rumah ini. Kebebasan aksesmu keluar masuk rumah ini, sudah aku cabut,” ucapku tegas. Hal itu sukses membuat mata Kiran melotot ke arahku.

“Kamu ini apa-apaan sih, Mas? Apa maksudmu melakukan semua ini?”

“Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, jangan pernah lupakan itu.”

“Kecuali aku. Aku tidak bisa kamu beli dengan uangmu itu! Cabut perintahmu, dan biarkan aku pergi.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Aku akan tetap pergi. Tidak peduli hidup atau mati, aku akan tetap keluar dari gerbang rumah ini.” Ia menatapku tajam. Tatapannya mengisyaratkan bahwa ia tidak takut dengan kematian yang aku tawarkan.

“Kamu tidak ingin mencabut tuntutannya? Oke! Aku akan tetap pergi dari sini.”

Tubuhku membeku melihat Kiran terus melangkah ke luar. Ia benar-benar tidak peduli dengan security yang siap berbuat apapun demi mencegahnya keluar. Aku harus melakukan sesuatu.

“Cici!” seruku memanggil pengasuh Aina. Sedang yang kupanggil mamanya segera berlari ke arahku.

“Iya, Tuan.” Ia berhenti dan berdiri tepat di sampingku.

“Ikut aku.”

“Ke mana Tuan?”

“Ikuti saja.”

Langkahku tegas menghampiri Aina yang sibuk berdebat dengan penjaga.

“Ambil Aina. Pisahkan dia dari Ibunya!” perintahku yang langsung ditanggapi dengan cepat. Hanya butuh waktu beberapa detik, Aina dan Kiran sudah terpisah.

“Mas, kamu mau apa?” Tubuh Kiran membeku saat aku mendekatinya. Menatap matanya dengan tatapan tajam. Tatapan yang mungkin terasa mencabik-cabik hatinya. Aku tidak peduli. Dia sudah keterlaluan hari ini.

“Mas … jangan mendekat.” Ia berjalan mundur. Tubuhnya menatap dinding kaca ruangan ini.

Tanpa persetujuannya, kubopong tubuh mungilnya dan membawanya masuk ke kamar kami.

“Mas, turunkan aku. Aku mau pergi!” Ia meraung. Memberontak ingin dilepaskan. Tapi apa daya? Tenaganya tidak lebih besar dariku.

“Diam! Kiran ….”

Bersambung ….

Tertarik Dengan Buku : Ketika Gelas Sudah Pecah ?

Ketika Gelas Sudah Pecah

Esana Gulpinar