Istriku Tidak Halal

Diposting pada

Bab 1

Sepuluh tahun pernikahan ini aku jalani, hari ini seolah ada bongkahan batu besar menghantam pondasi rumah tangga kami.

Istriku, kembang desa yang aku nikahi sepuluh tahun silam ternyata bukan istriku. Pernikahan kami tidak sah secara agama.

“Hey, Rahman. Saat kamu menikah dengan Si Rani, siapa yang jadi walinya?” tanya Deri, ketika kami sedang berkumpul di rumah Pak Riyan. Orang yang sedang memiliki hajat di desa ini.

“Ya, bapaknya lah. Memangnya siapa lagi. Ada-ada saja pertanyaanmu ini,” ucapku percaya diri.

“Astaga!” sahut Mbak Ratih. Wanita paruh baya yang sedang menata minuman tidak jauh dari kami itu memekik sambil menatapku.

“Kenapa Mbak? Kok seperti terkejut begitu,” tanyaku tidak bisa menahan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.

“Kamu nikahi Rani, dan bapaknya yang jadi walinya?” tanya Mbak Ratih.

Aku mengangguk. Sedikit heran melihat reaksinya yang begitu terkejut.

“Ya Allah, Rahman. Apa kamu enggak nanya-nanya dulu waktu nikahin Si Rani itu. Pernikahan kalian itu haram, enggak sah!” serunya sambil menatap prihatin ke arahku.

“Dulu, kami kan nikahnya di kota, Mbak. Bapaknya yang datang ke tempat kami di kota. Lagipula yang aku tahu Rani itu dari keluarga yang baik-baik. Kami nikah juga sesuai prosedur yang diajarkan Islam. Ada mempelai pria, mempelai wanita, saksi, wali nikah perempuan, ijab dan qobul. Bagaimana bisa Mbak bilang, kalau kami nikahnya enggak sah. Jangan ngawur ya, kalau ngomong tuh di pikir dulu!” seruku penuh emosi.

Siapa sih, yang engga marah jika pernikahannya dianggap tidak sah. Padahal kami juga sudah tahu bagaimana syarat sah dalam pernikahan.

“Rahman, si Rani itu anak haram! Jelas saja pernikahan kalian enggak sah. Anak perempuan yang lahir di luar pernikahan itu ikutnya wali hakim. Sekalipun ayah biologisnya adalah ayahnya sendiri. Tetap saja pernikahan kalian enggak sah, karena yang jadi wali Rani saat pernikahan itu bapaknya, bukan wali hakim. Ngeyel kalau dikasih tahu orang tua. Mana mungkin, Mbak bakal ngawur kalau masalah yang seperti ini.” Mbak Ratih ngotot.

“Dari mana Mbak bisa tahu kalau Rani itu anak haram. Jangan nyebarin fitnah, dosa. Lagian istriku itu anaknya baik dan pendiam. Salah apa dia sama kamu Mbak, sampai tega memfitnah keluarganya,” ucapku meraih segelas minuman. Langsung kutenggak hingga tandas. Tenggorokanku mendadak kering mendengar ucapan Mbak Ratih.

Wanita yang usianya sudah menginjak umur lima puluh tahun itu. Aku lebih suka memanggilnya Mbak, meskipun usia kami terpaut dua puluh tahun.

“Lebih baik sekarang kamu ikut Mbak dulu. Akan Mbak jelaskan, nggak enak kalau di sini. Maaf, tadi Mbak kelepasan. Saking terkejutnya,” ucap Mbak Ratih. Saat perdebatan kami semakin memanas.

Aku diam, hatiku masih panas dengan tuduhannya. Penikahanku dan Rani ia katakan tidak sah. Lalu, yang aku lakukan dengan Rani setiap malam adalah haram?

Ya Tuhan, apa ini benar? Tapi bagaimana bisa.

Kepalaku mendadak pening, ditambah tatapan penuh tanya, dari orang-orang yang ikut membantu di acara hajatan Pak Riyan. Beberapa orang malah sudah sibuk mencibir.

Begitulah manusia, tanpa tahu duduk perkaranya dengan jelas. Tapi sudah sibuk mencibir.

“Wah, kalian berarti berzina selama ini. Nauzubillah!” Bu Mirna menyahut.

“Jangan nuduh dulu Bu Mirna. Kasihan Pak Rahman. Belum tentu yang di bicarakan sama Bu Ratih itu benar.” Yuda membela. Hatiku sedikit tenang karena ucapan bijak yang dia lontarkan.

“Ayo Rahman, ikut aku. Akan aku jelaskan kenapa aku bicara seperti tadi. Ini juga demi kebaikanmu sendiri,” ajak mbak Ratih.

“Kamu memang harus menjelaskannya Mbak. Mbak juga harus buat klarifikasi. Apa yang Mbak lakukan itu sudah membuat nama baik istriku tercoreng. Aku tidak bisa terima,” ucapku masih sangat kesal.

“Tapi_”

“Ayo.” Aku langsung pergi meninggalkan rumah Pak Riyan. Tidak membiarkan Mbak Ratih menyelesaikan ucapannya. Bisa-bisa dia akan semakin membuat keluargaku merasa malu.

Sebentar aku menengok ke belakang, memastikan dia mengikutiku. Dia harus bertanggung jawab untuk kekacauan yang ia lakukan hari ini.

***

Bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *