Cidera Hati Sang Pecinta

Cidera Hati Sang Pecinta

Esana Gulpinar
“Aaaa!” Wanita itu terus menerus memukul perutnya. Menyampingkan rasa sakit yang ia terima. Karena yang ia pikirkan adalah janin dalam kandungannya tidak boleh lahir. “Astaga Ibu! Apa yang Ibu lakukan?” seru Romeo yang melihat aksi gila istrinya. Pria itu langsung merengkuh wanita itu, memeluknya, memberikan ketenangan. Usahanya berhasil, wanita yang .... Penasaran? Kuy, langsung baca yahh. Jangan lupa Subscribe 😉

Bagikan Cerita ini :

Selamat datang, teman-teman. Terima kasih telah mampir di cerita baru saya. Semoga suka. Jangan lupa follow, rate, subscribe, tab love, dan coment yaaa …. Selamat membaca!

Bab 1

Kisah ini ditulis atas permintaan pemiliknya. Kisah menyakitkan dari seorang penderita Bipolar, Danu Sudirja. Laki-laki bernasib malang yang tinggal di Pulau Emas, Sumatera.

Anak bungsu dari pasangan Romeo dan Julie. Anak yang tidak pernah diharapkan ibunya lahir ke dunia ini. Anak yang sudah berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan sejak masih ada dalam kandungan.

Ia sudah diperlakukan tidak adil sejak ia dinyatakan ada. Tapi Tuhan sepertinya enggan merenggutnya kembali. Tuhan terus melindunginya sampai ia lahir, tumbuh dan besar hingga detik ini.

Deritanya tak pernah berakhir. Siksaan masa kecil, bulying, dan segala hal buruk yang terjadi dalam hidupnya membuat ia memiliki semua ini. Bipolar dan kanker otak. Ia hidup menderita dengan dua penyakit itu, saat itulah ia berpikir tujuannya sudah dekat. Kematiannya sudah tiba, mimpinya sudah tercapai. Ia merasa bebas. Segala kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil.

Danu terlalu bahagia. Ia lupa bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya. Secara jelas, detail, dan tidak bisa dirubah. Tanggal kematiannya sudah ditentukan sejak ia masih berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya.

Hari itu ….

Julie Wicaksono. Seorang ibu hamil yang sudah memiliki empat orang anak. Kini ia sangat benci dengan janin yang ada dalam kandungannya. Ia tidak ingin anak itu lahir, ia tidak suka hamil, ia tidak mau punya anak lagi!

“Aaaa!” Wanita itu terus menerus memukul perutnya. Menyampingkan rasa sakit yang ia terima. Karena yang ia pikirkan adalah janin dalam kandungannya tidak boleh lahir.

“Astaga Ibu! Apa yang Ibu lakukan?” seru Romeo yang melihat aksi gila istrinya. Pria itu langsung merengkuh wanita itu, memeluknya, memberikan ketenangan. Usahanya berhasil, wanita yang telah melahirkan anak-anaknya itu tidak histeris seperti tadi.

Pria itu terus menciumi kening istrinya, sampai ia menyadari ada sesuatu yang basah di bawah sana. Darah, cairan merah segar mengalir sampai ujung kaki Julie. Pria itu panik, ia langsung membopong tubuh istrinya yang ternyata sudah tidak sadarkan diri.

Tidak ada yang bisa Romeo lakukan, pria itu hanya bisa menatap cemas wajah istrinya ditengah padatnya jalan raya. Mendadak ia merasa jarak antara rumahnya dengan rumah sakit terasa begitu jauh. Padahal biasanya mereka akan sampai dalam lima belas menit. Entah kenapa, saat ini lima belas menit adalah waktu yang sangat lama baginya.

Suster dan beberapa petugas kesehatan langsung membantunya. Memindahkan tubuh lemas itu ke atas brankar. Memasukkannya ke ruang gawat darurat untuk segera ditangani oleh dokter.

Romeo mondar mandir di depan ruangan istrinya. Ia merapal banyak doa agar istrinya diselamatkan, juga bayi yang ada dalam kandungan. Pria itu ingin dua nyawa yang ia sayangi selamat tanpa kurang suatu apapun.

“Bagaimana, Dokter?” serbunya begitu Dokter keluar dari ruangan menakutkan itu.

“Tuhan memberkatimu, istrimu dan bayinya berhasil diselamatkan.”

“Alhamdulillah ….” Romeo terduduk. Laki-laki yang baru saja menjadi seorang muslim itu bersyukhur mendengar berita baik yang dokter katakan. “Apa saya bisa menjenguknya, Dok?” tambahnya.

“Ya. Tentu.”



“Terima kasih, Dok. Terima kasih.” Romeo masuk dengan semangat. Ia harap istrinya akan bahagia mendengar berita ini. Ia yakin Julie pasti sangat menyesal. Ia tahu istrinya itu wanita yang sangat penyayang. Tidak mungkin ia akan membunuh darah dagingnya sendiri.

Saat ia masuk, istrinya masih tertidur sangat lelap. Wajahnya tetap cantik seperti saat pertama kali ia melihatnya. Julie, satu-satunya wanita yang berhasil membuat hatinya jatuh cinta. Wanita terbaik, paling manis, dan yang pasti ia adalah ibu dari kelima anaknya. Pria itu terlalu larut memandangi wajah sang istri, hingga ia pun terlelap karena lelah.

“Ehmm.”

Romeo terbangun ketika inderanya merasakan tangan istrinya bergerak.

“Sayang, kamu sudah bangun?” tanyanya sambil mengucek mata.

“Hmmm.” Hanya itu jawaban yang Julie berikan.

“Kamu selamat, Sayang. Aku sangat bahagia. Kamu jangan sedih, karena anak kita juga berhasil diselamatkan. Sekarang kamu istirahat, supaya cepat pulih seperti sedia kala. Jangan bersedih, i love you Sayang.” Romeo mengecup kening istrinya. Sementara wanita itu hanya menatapnya datar.

Hari terus berlalu dan berubah menjadi minggu, minngggu menjadi bulan, Sampai akhirnya tibalah masa kelahiran bayi yang ada dalam kandungan Julie. Wanita itu gagal menggugurkan janinnya, karena setelah kejadian hari itu. Romeo terus menjaga dirinya secara intensif. Tidak ada kesempatan baginya untuk mengulangi aksi gilanya yang hampir merenggut nyawanya juga anaknya.

Matahari masih di ufuk timur, saat wanita pemilik perut besar itu mengalami kontraksi yang sangat hebat. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh suaminya. Layaknya orang akan melahirkan lainnya, ia terus menjerit kesakitan.

“Oeeek! Oeeek! Oeeek!” Binar di mata Romeo begitu jelas. Pria itu sangat bahagia mendapati kelahiran putranya.

Wajah tampan, kulit putih, hidung mancung. Putranya ini benar-benar telah mewarisi semua ketampanannya. Mulai hari ini, anak itu akan dikenal dengan nama DANU SUDIRJA.

Bab 2

“Aaaaa!”

 

Usianya masih empat tahun, saat ibunya memukuli tubuhnya dengan sebilah rotan. Si kecil Danu menjerit, kesakitan, dia menangis. Sepertinya sang ibu masih belum berhasil move on dari impian masalalu. Di mana ia hanya ingin memiliki empat anak saja. Tidak lebih.

 

Danu menerima semua itu dengan lapang dada. Ia sangat menyayangi ibunya, ia yakin ibunya juga sangat menyayanginya. Hanya saja ia tidak tahu, kenapa ibunya terus memukulnya. Ia yakin, suatu hari nanti. Ibunya akan menyayanginya.

Ayahnya sibuk bekerja, membanting tulang demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Si kecil itu tidak terurus. Pakaiannya kumal, wajah belepotan, rambut berantakan juga kotor. Tidak ada yang peduli padanya, semua kakaknya sibuk dengan urusan mereka sendiri.

 

“Aaaaa! Sakit, Bu!” Danu terus menjerit, tangisnya semakin terdengar memilukan. Entah ada di mana orang-orang. Punggungnya merah dan berdarah, jika tidak ada yang menyelamatkannya. Anak kecil itu akan tiada.

 

Tetapi bukankah saat seseorang itu ditakdirkan untuk terus hidup, maka Tuhan tidak akan membiarkannya mati begitu saja?

 

“Julie!”

 

“Hentikan! Tolong, hentikan!” Romeo tergopoh-gopoh. Ia baru saja pulang bekerja saat mendapati putra bungsunya terkapar di atas tanah.

 

Prang!

 

Romeo merebut rotan yang ada di tangan istrinya. Membuangnya sembarangan, merengkuh putranya ke dalam pelukan. Laki-laki itu menciumi kening putranya, ia sangat menyayanginya.

 

“Jika kamu tidak menginginkannya, ya sudah. Tapi kamu tidak harus menyiksanya. Biarkan dia hidup sesuai takdir yang telah dituliskan.” Romeo dingin. Ia membawa anaknya menjauh, mengobati lukanya. Membiarkan istrinya menangis tersedu. Sendirian.

 

Dark. Satu kata yang cocok untuk keluarganya. Kasih sayang yang aneh, bagaimana bisa seseorang menyayangi dengan cara menyakiti? Bisakah itu dianggap seperti itu. Cinta, kasih sayang? Benarkah sikap seperti itu adalah esensi esensi lain dari cinta?

 

Yang benar saja?

 

Anak yang malang. Kelahirannya tidak diharapkan. Hingga ia pun merasa benci dengan dirinya, hidupnya. Ia benci dilahirkan. Hari terus berlalu, Danu kian sibuk dengan dirinya sendiri.

 

Di halaman rumahnya, bocah usia enam tahun itu bermain sedirian. Berbicara sendiri, karena memang tidak ada siapapun di sana. Ia benar-benar sendirian. Itu ia lakukan setiap kali pulang sekolah.

 

Langit masih cerah seperti biasa, matahari menerangi dan menghangatkan penduduk bumi. Hembusan anginnya juga masih seperti biasanya, saat seorang wanita datang menghampiri Danu. Bocah kecil yang sejak tadi sibuk bermain sendirian.

 

“Hallo, Danu,” sapanya.

 

“Hallo.” Anak itu menatapnya kosong.

 

“Kamu lagi apa?” Wanita itu bertanya lagi.

 

“Ini.” Danu menunjukkan benda-benda di tangannya.

 

“Ibu di mana?”

 

“Ada di dalam. Memasak.”

 

“Oh, jadi kamu main sendirian.”

 

“Iya.”

 

“Kakak temenin, ya.”

 

Wanita cantik yang sangat baik hati, namanya Meyra. Ia tinggal dekat dengan rumah Danu. Danu menganggap Meyra sebagai malaikat baik yang Tuhan kirimkan untuknya. Wanita itu datang, mengajaknya berbicara, bermain, memandikannya. Memakaikannya pakaian-pakaian yang baik. Setiap bersamanya Danu adalah bocah yang bersih sekaligus wangi.

 

Meyra memberikan kasih sayang pada bocah kecil itu. Memeluknya seperti seorang ibu, menciumnya. Entah sejak kapan Meyra mulai menaruh perhatian pada Danu. Ia sering datang membawakan beberapa makanan yang ia beli di pasar untuk Danu. Ya, bocah kecil itu.

 

Anak itu mulai tahu caranya tersenyum. Melebarkan bibirnya, memamerkan deretan giginya yang rapih. Bahagia, mungkin itu yang dirasakan. Bagi seorang anak, ditemani bermain sudah menjadi bahagia yang sangat luar biasa. Memang sesederhana itu impian seorang bocah.

 

Pertemuan itu indah, tapi segala sesuatu yang indah juga menyakitkan. Itu sudah menjadi ketentuan. Tidak akan berubah.

 

Meyra pergi, ia dan suaminya pindah rumah. Danu tidak bisa lagi melihatnya, apalagi merasakan kasih sayangnya. Bocah kecil itu merasakan kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Tapi dengan ikhlas ia melepaskan dan menerima takdirnya. Takdir aneh yang harus ia jalani.

 

“Kakak mau kemana?” tanya Danu begitu melihat Meyra berada di dalam mobil bersama anak dan suaminya.

 

“Hay, Danu. Kakak mau pindah rumah. Ini untukmu.” Meyra memberikan beberapa mainan juga makanan ringan untuk bocah kecil itu.

 

“Pindah rumah. Jadi rumah yang di sini enggak ditempati lagi?” Bocah itu polos. Sepolos tatapan takut di matanya.

 

“Iya, Sayang. Kakak tidak akan tinggal di sini lagi.”

 

“Ohh. Baik-baik di rumah baru ya Kakak.”

 

“Kamu juga, ya. Kakak pergi dulu. Dahhh, Danu!” Meyra melambaikan tangannya. Danu membalas lambaian tangan itu sampai akhirnya bayangan Meyra menghilang di belokan.

 

“Aku akan kembali seperti dulu lagi,” gumamnya sedih.

 

Ia kembali seperti Danu yang dulu, setidaknya itu yang ada dalam pandangannya. Itu yang dia rasakan.

Bab 3

Hari berjalan sangat cepat. Entah sejak kapan ibunya mulai membuka hati untuknya, memberikan kasih sayang layaknya ibu yang lain. Hari ini ibunya mengajaknya pergi ke rumah nenek. Ia merasa senang sekali.

“Danu! Ayo mandi, kamu mau ikut Ibu apa enggak?” Ibunya datang dari belakang. Di pundaknya ada sepasang pakaian bersih milik Danu. Wanita itu menatap gemas putra kecilnya.

 

“Ke mana? Danu masih ingin main, Bu.” Bibirnya mengerucut. Merasa sebal karena aktivitas bermainnya harus dihentikan.

 

“Udah ikut aja. Atau kamu mau di rumah sendirian?” Goda sang Ibu. “Ikut apa enggak?” tambahnya.

 

Bocah itu kebingungan. Rasanya berat sekali jika harus meninggalkan mainannya. Tapi di sisi lain ia sangat ingin ikut ibunya pergi.

 

“Enggak mau mandi, aku mau lanjut main saja,” ucapnya acuh. Ia melanjutkan acaranya yang sempat terhenti karena ibunya.

 

“Bener, enggak mau ikut? Padahal Ibu mau masak pempek dan tekwan di rumah nenek, loh. Ya sudah, Ibu pergi dulu yaa.” Julie masuk ke dalam. Meletakkan pakaian anaknya di atas kursi, kemudian kembali keluar seolah bersiap-siap akan pergi.

 

“Ibu, tunggu! Aku mau mandi, aku mau ikut ke rumah nenek.” Danu bersemangat. Anak itu berlari ke arah ibunya, dengan sigap wanita itu menangkap tubuh Danu kemudian menggendongnya. Membawanya masuk ke dalam, memandikannya.

 

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya ia berhasil merapikan putranya. Ia menggendong Danu, kemudian medudukkannya di boncengan sepeda. Wanita itu mengkayuh sepedanya pelan, sesekali tangannya mengecek pegangan tangan Danu. Ia tidak mau jika sampai anaknya tertidur dan jatuh dari sepeda.

 

Dari jauh ia sudah melihat rumah ibunya. Ia memang akan membuat pempek dan tekwan di sana. Danu pasti akan sangat senang jika memakan masakan buatannya. Anaknya itu tidak pernah tidak menghabiskan makanan yang ia berikan. Itu membuatnya sangat senang.

 

“Mana pempeknya, Bu.” Danu langsung menagih begitu sampai di rumah nenek. Julie tersenyum melihat anaknya sangat bersemangat.

 

“Tunggu dulu, kita baru saja sampai Sayang. Ibu harus masak dulu, kamu duduk tungguin ibu ya. Nanti kalau sudah matang, Ibu ambilkan yang banyak buat kamu.” Julie mengacak lembut rambut puteranya.

 

“Hmmm.”

 

Ibunya sudah membaur bersama Nenek. Ia bosan jika hanya duduk dan bermain sendirian. Rasa penasarannya sebagai seorang anak membawa kakinya melangkah keluar. Berjalan-jalan di sekitaran komplek neneknya tinggal. Di sana ia melihat anak-anak sebayanya sedang bermain sepak bola.

 

Ia mendekat, ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan. Anak-anak itu berhenti. Berkumpul sambil memakan buah pisang yang dibawa oleh salah satu anak dari rumah. Acara makan pisang yang menyenangkan terhenti begitu salah satu diantaranya menatap aneh pada sosok Danu.

 

“Hey, kenapa tubuhnya putih sekali!” seru seorang anak sambil menunjuk-nunjuk wajah Danu.

 

Semua anak menatapnya heran. Danu terlihat seperti mahluk asing di mata mereka. Mata sipit, kulit putih. Itu sangat berbeda dengan kulit orang-orang yang tinggal di daerahnya.

 

Kumpulan anak itu mengoloknya, melemparinya dengan kulit pisang. Menghina, karena ia beragama muslim tapi ia lahir dari etnis yang mayoritas memeluk agama non muslim.

 

Jiwa Danu terluka, ia kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang anak. Orang-orang menganggapnya aneh. Keturunan jin, dan semua hal buruk yang tidak mampu ia utarakan.

 

Hati bocah kecil itu terluka, ia berlari meninggalkan kerumunan. Kakinya terus menjauh menuju rumah neneknya. Ingin menangis, tapi air matanya seolah enggan untuk jatuh. Akhirnya ia hanya bisa terdiam dan mengubur kejadian buruk itu dalam-dalam.

 

“Danu, kamu dari mana saja, Nak? Ibu mencarimu, Sayang.” Ibunya datang. Ia merasakan telapak tangan ibunya menangkup lembut kedua pipinya.

 

Danu menggeleng, hal itu membuat Julie heran. Anaknya tiba-tiba datang dengan wajah murung. Tanpa ia tahu apa sebab putranya jadi seperti itu. Mungkin dia merasa bosan, begitu pikirnya.

 

“Kamu pasti habis jalan-jalan yaa. Pempeknya udah mateng, kamu mau makan sekarang?”

 

“Iya, Ibu.”

 

Nafsu makannya hilang. Di matanya pempek itu tidak menarik lagi, ia memaksakan diri untuk tetap memakannya. Tetap saja perutnya enggan menerima. Akan tetapi demi melihat wajah ibunya yang sudah susah payah memasak makanan itu, ia tidak tega jika harus membuangnya. Ia terlalu menyayangi ibunya, lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri.

 

Ia menelan semuanya, meski rasanya seperti duri yang ia paksa masuk melalui kerongkongan. Dengan susah payah, ia berhasil menghabisannya. Apa yang ia alami tadi, berhasil mengambil sebagian besar rasa percaya yang ia miliki.

 

Danu Sudirja, anak itu menelan kesedihannya sendirian. Semuanya.

_______________

Bagaimana dengan bab ini? Suka?
Berikan pendapatmu di kolom komen yahh ….

Tinggalkan jejak dong ….
Caranya? Mudah banget. Cukup like, komen, subscribe, rate cerita ini yaa. Jika kalian suka. Share cerita ini yuk!

Thank you.

Bab 4

Entah apa yang ada di pikiran Danu kala itu. Ia masih duduk di banku kelas lima SD saat dirinya terjebak dalam pergaulan yang tidak sesuai dengan usianya. Sepulang sekolah ia akan pergi ke sebuah warung internet yang tidak jauh dari rumahnya.

 

Untuk apa? Yang jelas bukan untuk belajar. Apalagi browsing rumus matematika?

 

Berhari-hari, minggu, mungkin bulan. Ia selalu mendatangi warung internet untuk mengakses video video dark. Sama seperti hari ini, ia mendatangi tempat itu dengan penuh semangat. Hanya bermodal uang yang cukup untuk menyewa satu bilik komputer selama satu jam, Danu duduk di sana.

 

Seperti biasa ia akan membuka situs yang selama ini menjadi candu baginya. Dalam sekejap ia sudah berselancar dalam dunia gelap yang tidak seharusnya dimasuki oleh anak seusia dirinya. Anak itu, sepertinya ia sedang lepas dari pengawasan kedua orangtuanya. Tidak seharusnya ia mengakses internet sendirian. Karena sekali terjerumus, seseorang akan kesulitan untuk keluar dari lembah menakutkan.

 

“Hey, Danu?” Itu suara Arif. Dia adalah pemuda yang menjaga warung internet ini.

 

“Iya, Kak?” Cepat cepat danu me-minimize tampilan layar komputer di depannya.

 

“Pasti baru pulang sekolah, terus langsung main ke sini, ya?” Arif masuk, kemudian duduk di samping Danu.

 

“Iya, Kak. Tahu aja. Hehehe.”

 

“Loh, siapa dulu ….”

 

“Iya dah, Kak.” Hanya cengiran yang Danu berikan. Batinnya ketar-ketir jika sampai ketahuan mengakses video terlarang. Ia akan merasa sangat malu.

 

“Nonton apa kamu, Dan? Kakak boleh ikutan lihat enggak?” Sepertinya Arif memang menaruh kecurigaan pada Danu. Jika tidak, mana mungkin ia akan mau tahu dengan apa yang ditonton anak itu.

 

“Jangan dong, Kak. Ini tontonan anak-anak.” Danu mencegah. Tangannya ingin menutup halaman yang baru saja ia akses. Akan tetapi mouse sudah berada dalam genggaman tangan Arif. Pemuda itu dengan cepat menutup semua akses di sana. Menatap iba pada anak di sampingnya.

 

“Danu, siapa yang mengajarimu?” tanya Arif lembut.

 

“Emmm.” Anak itu menunduk takut.

 

“Katakan.” Pemuda itu tetap menanyainya dengan nada pelan. Karena tidak kunjung ada jawaban dari Danu. Ia pun menjelaskan sesuatu yang memang harus Danu ketahui.

 

“Danu, video seperti ini belum pantas diakses oleh anak seumuran kamu. Kakak bukannya ngelarang kamu ngelakuin sesuatu, tapi kakak ngelakuin ini karena kakak peduli sama kamu. Video seperti ini hanya akan membuat psikis kamu terganggu, ia akan membawa dampak buruk untuk dirimu. Sekali lagi, kakak tidak bermaksud melarang ataupun ikut campur dengan urusan di hidupmu. Kakak seperti ini, karena kakak peduli sama kamu. Kamu paham maksud kakak?” Arif menatap mata anak di depannya. Sedang yang ditatap hanya mengangguk pelan.

 

“Nih, dari pada kamu di sini menonton video yang tidak bermanfaat. Lebih baik kamu main game saja. Nih, Kakak tunjukkin.” Arif menunjukkan game yang sedang trend pada masa itu. Danu menyimaknya, cukup sekali. Jemarinya sudah gatal ingin memainkannya sendiri.

 

“Kamu suka?”

 

“Iya, Kak. Suka.”

 

Sejak hari itu, Danu tidak pernah lagi mengakses video yang dilarang. Ia lebih tertarik dengan dunia game yang bisa membuatnya bahagia.

 

Anak itu tumbuh semakin besar. Ia masuk ke sekolah menengah atas di salah satu sekolah di kotanya. Sekolah yang sangat besar, ia bertemu banyak orang di sana. Berbagai macam kepribadian ia temui, kemudian ….

 

Sama seperti anak-anak lainnya, ia mulai mengenal yang namanya jatuh cinta.

 

Cinta pertamanya jatuh pada seorang gadis cantik bernama Sella. Gadis manis berkepribadian unik, berbeda dengan yang lain. Pesona seorang Sella menjeratnya dalam sebuah ikatan. Orang-orang menyebutnya pacaran. Hubungan mereka kandas saat Sella beserta keluarganya pindah rumah. Sakit, tapi Danu memilih untuk melepaskan.

 

Begitu juga dengan yang kedua. Reina, gadis yang ia temui setiap kali pergi ke perpustakaan. Gadis yang tidak pernah lepas dengan kacamatanya itu ternyata dijodohkan oleh orangtuanya. Mau tidak mau hubungan mereka kandas. Di sana, Danu memilih ikhlas dan melepaskan.

 

Kini yang ke tiga. Ia duduk di banku SMK saat jatuh hati dengan wanita gamers di jagat maya. Lagi-lagi hubungannya kandas saat kekasihnya yang bernama Naila masih menaruh rasa terhadap mantannya. Danu memilih melepaskan.

 

Setelah sekian lama, ia kembali jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Bella. Hubungan yang sangat dalam, namun kembali kandas saat si gadis berselingkuh lantaran malu diolok-olok memiliki kekasih seperti dirinya.

 

Orang-orang menganggap Danu aneh. Karena ia selalu berpikir dengan sudut pandang yang berbeda.

 

Danu kecewa, ia terluka. Tapi ia selalu memilih untuk ikhlas dan melepaskan. Ia benci kehidupan. Ia menutup dirinya, membentuk labirin rumit yang hanya ada dia di dalamnya. Orang lain tidak akan paham, apalagi sampai memasuki labirin itu.

 

Dunia imajinasi yang ia buat semakin kuat dari hari ke hari. Ia merasa senang dengan kehidupan seperti itu. Menyakiti dirinya sendiri, menyayat, membenturkan kepala ke dinding, minum obat.

 

Danu adalah sosok Self-injury sejati. Ia larut di dalamnya selama satu tahun lebih. Sampai seseorang datang ke dalam hidupnya.

 

Dia ….

… Aluna.

Bab 5

Danu menatap nanar buku bersampul gelap dengan gambar keris terlilit mawar di tangannya. Buku itu baru saja ia terima beberapa jam yang lalu. Ia sudah selesai membacanya. Tubuhnya limbung, pria itu hancur bersama hilangnya sesosok sukma.

 

Aluna ….

 

Benar, buku itu ditulis oleh Aluna. Mantan kekasihnya.

 

“Dia telah pergi ….” gumamnya nyaris tanpa suara.

 

Pria dua puluh lima tahun itu terduduk lesu. Tangannya meninju lantai dengan tenaga penuh. Darah mengalir diantara buku-buku jarinya yang memutih.

 

Marah?

 

Untuk apa dia harus marah? Sedangkan selama ini ia sendiri yang menginginkan gadis itu pergi. Ia tidak layak marah. Lagi pula saat ini, di sampingnya ada seorang gadis yang menjadi kekasihnya setelah Aluna.

 

Namanya Aliya. Meskipun gadis itu buta dan bisu, tapi Danu sangat mencintainya. Ia sangat mencintai Aliya ….

… bukan Aluna.

 

***

 

Tiga tahun yang lalu ….

 

[Hay!]

 

[Kakak, kamu harus tanggung jawab!]

 

Sebuah pesan masuk ke dalam akun messenger-nya. Ia sedang asik-asiknya main game sampai akhirnya ia membuka pesan yang datang dari salah satu friendlistnya di facebook. Aluna.

 

Dia adalah sosok yang belakangan meramaikan kolom komentar di akun miliknya. Gadis pemilik akun itu rajin sekali meninggalkan komentar di setiap postingannya.

 

Danu sangat heran, ia sempat berpikir pemilik akun itu adalah seorang gadis gila. Tante-tante kesepian, mungkin?

 

Entah mendapat dorongan dari mana ia akhirnya merespon pesan dari Aluna.

 

[What?]

 

[Tanggung jawab?]

 

[Memangnya aku ngapain kamu?]

 

Lama sekali ia menunggu. Pesan itu tidak kunjung dibalas. Itu wajar, karena lampu hijau di akunnya sedang tidak menyala.

 

Baru saja ia akan meletakkan handphonenya. Sebuah notifikasi kembali berbunyi.

 

[Ya, Kakak harus tanggung jawab]

 

[Karena Kakak, sudah membuat aku penasaran dengan cerita Kakak.]

 

[Btw, Kakak bisa bales chat ini. Itu artinya, Kakak bohong, dong. Kakak punya messenger ‘kan?]

 

Pria itu tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum. Tahu saja gadis itu, kalau dia sengaja mengatakan tidak memiliki messenger karena enggan menanggapi dirinya.

 

[Oalah. Kupikir aku harus tanggung jawab apa. Bukan, aku memang nggak punya messenger. Ini baru download, soalnya ada temen yang chat.]

 

[Ohhh.]

 

Hanya itu jawaban dari Aluna.

 

Dari sanalah kedekatan keduanya dimulai. Sampai suatu hari ….

 

[Kak, Aluna yang Kakak maksud, itu siapa?]

 

Aluna bergetar saat mengirimkan pesan itu. Pada dasarnya ia sudah cukup hapal kode dari laki-laki yang menyukainya. Karena hal ini sama sekali bukan yang pertama baginya.

 

[Sebutkan namamu, maka kau akan tahu jawabnya.]

 

Tebakannya sangat tepat. Sosok yang Danu maksud tidak lain adalah dirinya sendiri. Ketika pesan itu masuk, Aluna sedang pergi bersama temannya. Sepanjang jalan mengendarai sepeda motor tubuhnya gemetar. Sejak dulu ia selalu benci jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.

 

Aluna nyaman berteman dengan Danu, tapi untuk jadi pacar?

 

Itu terlalu tidak mungkin untuk dilakukan. Sangat jelas, mereka tidak akan bisa hidup bersama.

 

Aluna galau. Harusnya ia tidak perlu bermain truth or dare yang akhirnya berujung pertanyaan gila itu. Jika saja waktu bisa diputar? Sayangnya …

… tidak.

 

Aluna memilih untuk tidak membahas perihal rasa itu lagi. Ia abaikan begitu saja. Namun ia ingin tetap berteman dengan Danu. Jadi ia akan bersikap seperti biasanya. Karena ia tahu, saat ia menolak maka ia akan kehilangan teman. Saat ia terima, dan hubungan itu kandas. Maka semuanya akan sangat parah.

 

Karena saat ia memilih untuk membuka lembaran baru bersama Danu, maka ia akan menutup lembarannya saat bersama Delan.

 

Jika hubungannya bersama Danu kandas, ia akan kehilangan hal yang lebih besar. Ia akan hancur sama seperti sebelumnya.

 

[Kak, lagi apa?]

 

Itu adalah pesan yang ia kirimkan untuk Danu.

 

[Nulis surat.]

 

Begitu jawaban Danu.

 

[Surat cinta untuk Starla?]

 

[Bukan.]

 

[Terus?]

 

[Surat cinta untuk Aldan]

 

[Lah, ditulis doang tapi nggak dikirim.]

 

[Sudah dikirim, sudah dibaca, tapi belum dibales.]

 

Kepala Aluna mendadak pusing. Apa yang harus ia katakan pada Danu. Ia benar-benar belum siap untuk menjalin sebuah hubungan. Luka hatinya, ia tidak sanggup jika harus mengalami luka yang sama. Meski terkadang ia merasa, ia menaruh perasaan yang sama.

 

[Mungkin dia ingin kamu menunggu.]

 

Akhirnya itu jawaban yang ia berikan. Diam-diam ia mencaritahu kapan Danu lahir. Di beberapa akun facebook yang ia temukan. Pria itu ternyata lahir tanggan 28 Maret. Jika dihitung dari hari ini, maka ia akan ulang tahun satu minggu lagi.

 

Aluna memberi kesempatan untuk dirinya berpikir sampai tanggal 28 Maret. Jika sampai detik itu ia tidak bisa menerima Danu. Maka ia akan memutuskan tali silahturahim yang sudah terjalin.

 

Aluna Sahardaya. Gadis yang tidak pernah percaya hubungan cinta yang lahir dari sosial media. Gadis yang selama ini selalu bertanya-tanya kenapa teman-temannya mau saja berkenalan di facebook, ketemuan, lalu jatuh cinta?

 

Sekarang, akankah dia menjalin hubungan dengan pria itu?

 

Sosok yang bahkan tidak pernah ia lihat wajahnya.

_______________

Komen yuk. Bagaimana part ini menurut kalian?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cidera Hati Sang Pecinta

Cidera Hati Sang Pecinta

Esana Gulpinar

Selamat datang, teman-teman. Terima kasih telah mampir di cerita baru saya. Semoga suka. Jangan lupa follow, rate, subscribe, tab love, dan coment yaaa …. Selamat membaca!

Bab 1

Kisah ini ditulis atas permintaan pemiliknya. Kisah menyakitkan dari seorang penderita Bipolar, Danu Sudirja. Laki-laki bernasib malang yang tinggal di Pulau Emas, Sumatera.

Anak bungsu dari pasangan Romeo dan Julie. Anak yang tidak pernah diharapkan ibunya lahir ke dunia ini. Anak yang sudah berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan sejak masih ada dalam kandungan.

Ia sudah diperlakukan tidak adil sejak ia dinyatakan ada. Tapi Tuhan sepertinya enggan merenggutnya kembali. Tuhan terus melindunginya sampai ia lahir, tumbuh dan besar hingga detik ini.

Deritanya tak pernah berakhir. Siksaan masa kecil, bulying, dan segala hal buruk yang terjadi dalam hidupnya membuat ia memiliki semua ini. Bipolar dan kanker otak. Ia hidup menderita dengan dua penyakit itu, saat itulah ia berpikir tujuannya sudah dekat. Kematiannya sudah tiba, mimpinya sudah tercapai. Ia merasa bebas. Segala kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil.

Danu terlalu bahagia. Ia lupa bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya. Secara jelas, detail, dan tidak bisa dirubah. Tanggal kematiannya sudah ditentukan sejak ia masih berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya.

Hari itu ….

Julie Wicaksono. Seorang ibu hamil yang sudah memiliki empat orang anak. Kini ia sangat benci dengan janin yang ada dalam kandungannya. Ia tidak ingin anak itu lahir, ia tidak suka hamil, ia tidak mau punya anak lagi!

“Aaaa!” Wanita itu terus menerus memukul perutnya. Menyampingkan rasa sakit yang ia terima. Karena yang ia pikirkan adalah janin dalam kandungannya tidak boleh lahir.

“Astaga Ibu! Apa yang Ibu lakukan?” seru Romeo yang melihat aksi gila istrinya. Pria itu langsung merengkuh wanita itu, memeluknya, memberikan ketenangan. Usahanya berhasil, wanita yang telah melahirkan anak-anaknya itu tidak histeris seperti tadi.

Pria itu terus menciumi kening istrinya, sampai ia menyadari ada sesuatu yang basah di bawah sana. Darah, cairan merah segar mengalir sampai ujung kaki Julie. Pria itu panik, ia langsung membopong tubuh istrinya yang ternyata sudah tidak sadarkan diri.

Tidak ada yang bisa Romeo lakukan, pria itu hanya bisa menatap cemas wajah istrinya ditengah padatnya jalan raya. Mendadak ia merasa jarak antara rumahnya dengan rumah sakit terasa begitu jauh. Padahal biasanya mereka akan sampai dalam lima belas menit. Entah kenapa, saat ini lima belas menit adalah waktu yang sangat lama baginya.

Suster dan beberapa petugas kesehatan langsung membantunya. Memindahkan tubuh lemas itu ke atas brankar. Memasukkannya ke ruang gawat darurat untuk segera ditangani oleh dokter.

Romeo mondar mandir di depan ruangan istrinya. Ia merapal banyak doa agar istrinya diselamatkan, juga bayi yang ada dalam kandungan. Pria itu ingin dua nyawa yang ia sayangi selamat tanpa kurang suatu apapun.

“Bagaimana, Dokter?” serbunya begitu Dokter keluar dari ruangan menakutkan itu.

“Tuhan memberkatimu, istrimu dan bayinya berhasil diselamatkan.”

“Alhamdulillah ….” Romeo terduduk. Laki-laki yang baru saja menjadi seorang muslim itu bersyukhur mendengar berita baik yang dokter katakan. “Apa saya bisa menjenguknya, Dok?” tambahnya.

“Ya. Tentu.”

“Terima kasih, Dok. Terima kasih.” Romeo masuk dengan semangat. Ia harap istrinya akan bahagia mendengar berita ini. Ia yakin Julie pasti sangat menyesal. Ia tahu istrinya itu wanita yang sangat penyayang. Tidak mungkin ia akan membunuh darah dagingnya sendiri.

Saat ia masuk, istrinya masih tertidur sangat lelap. Wajahnya tetap cantik seperti saat pertama kali ia melihatnya. Julie, satu-satunya wanita yang berhasil membuat hatinya jatuh cinta. Wanita terbaik, paling manis, dan yang pasti ia adalah ibu dari kelima anaknya. Pria itu terlalu larut memandangi wajah sang istri, hingga ia pun terlelap karena lelah.

“Ehmm.”

Romeo terbangun ketika inderanya merasakan tangan istrinya bergerak.

“Sayang, kamu sudah bangun?” tanyanya sambil mengucek mata.

“Hmmm.” Hanya itu jawaban yang Julie berikan.

“Kamu selamat, Sayang. Aku sangat bahagia. Kamu jangan sedih, karena anak kita juga berhasil diselamatkan. Sekarang kamu istirahat, supaya cepat pulih seperti sedia kala. Jangan bersedih, i love you Sayang.” Romeo mengecup kening istrinya. Sementara wanita itu hanya menatapnya datar.

Hari terus berlalu dan berubah menjadi minggu, minngggu menjadi bulan, Sampai akhirnya tibalah masa kelahiran bayi yang ada dalam kandungan Julie. Wanita itu gagal menggugurkan janinnya, karena setelah kejadian hari itu. Romeo terus menjaga dirinya secara intensif. Tidak ada kesempatan baginya untuk mengulangi aksi gilanya yang hampir merenggut nyawanya juga anaknya.

Matahari masih di ufuk timur, saat wanita pemilik perut besar itu mengalami kontraksi yang sangat hebat. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh suaminya. Layaknya orang akan melahirkan lainnya, ia terus menjerit kesakitan.

“Oeeek! Oeeek! Oeeek!” Binar di mata Romeo begitu jelas. Pria itu sangat bahagia mendapati kelahiran putranya.

Wajah tampan, kulit putih, hidung mancung. Putranya ini benar-benar telah mewarisi semua ketampanannya. Mulai hari ini, anak itu akan dikenal dengan nama DANU SUDIRJA.

Bab 2

“Aaaaa!”

 

Usianya masih empat tahun, saat ibunya memukuli tubuhnya dengan sebilah rotan. Si kecil Danu menjerit, kesakitan, dia menangis. Sepertinya sang ibu masih belum berhasil move on dari impian masalalu. Di mana ia hanya ingin memiliki empat anak saja. Tidak lebih.

 

Danu menerima semua itu dengan lapang dada. Ia sangat menyayangi ibunya, ia yakin ibunya juga sangat menyayanginya. Hanya saja ia tidak tahu, kenapa ibunya terus memukulnya. Ia yakin, suatu hari nanti. Ibunya akan menyayanginya.

Ayahnya sibuk bekerja, membanting tulang demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Si kecil itu tidak terurus. Pakaiannya kumal, wajah belepotan, rambut berantakan juga kotor. Tidak ada yang peduli padanya, semua kakaknya sibuk dengan urusan mereka sendiri.

 

“Aaaaa! Sakit, Bu!” Danu terus menjerit, tangisnya semakin terdengar memilukan. Entah ada di mana orang-orang. Punggungnya merah dan berdarah, jika tidak ada yang menyelamatkannya. Anak kecil itu akan tiada.

 

Tetapi bukankah saat seseorang itu ditakdirkan untuk terus hidup, maka Tuhan tidak akan membiarkannya mati begitu saja?

 

“Julie!”

 

“Hentikan! Tolong, hentikan!” Romeo tergopoh-gopoh. Ia baru saja pulang bekerja saat mendapati putra bungsunya terkapar di atas tanah.

 

Prang!

 

Romeo merebut rotan yang ada di tangan istrinya. Membuangnya sembarangan, merengkuh putranya ke dalam pelukan. Laki-laki itu menciumi kening putranya, ia sangat menyayanginya.

 

“Jika kamu tidak menginginkannya, ya sudah. Tapi kamu tidak harus menyiksanya. Biarkan dia hidup sesuai takdir yang telah dituliskan.” Romeo dingin. Ia membawa anaknya menjauh, mengobati lukanya. Membiarkan istrinya menangis tersedu. Sendirian.

 

Dark. Satu kata yang cocok untuk keluarganya. Kasih sayang yang aneh, bagaimana bisa seseorang menyayangi dengan cara menyakiti? Bisakah itu dianggap seperti itu. Cinta, kasih sayang? Benarkah sikap seperti itu adalah esensi esensi lain dari cinta?

 

Yang benar saja?

 

Anak yang malang. Kelahirannya tidak diharapkan. Hingga ia pun merasa benci dengan dirinya, hidupnya. Ia benci dilahirkan. Hari terus berlalu, Danu kian sibuk dengan dirinya sendiri.

 

Di halaman rumahnya, bocah usia enam tahun itu bermain sedirian. Berbicara sendiri, karena memang tidak ada siapapun di sana. Ia benar-benar sendirian. Itu ia lakukan setiap kali pulang sekolah.

 

Langit masih cerah seperti biasa, matahari menerangi dan menghangatkan penduduk bumi. Hembusan anginnya juga masih seperti biasanya, saat seorang wanita datang menghampiri Danu. Bocah kecil yang sejak tadi sibuk bermain sendirian.

 

“Hallo, Danu,” sapanya.

 

“Hallo.” Anak itu menatapnya kosong.

 

“Kamu lagi apa?” Wanita itu bertanya lagi.

 

“Ini.” Danu menunjukkan benda-benda di tangannya.

 

“Ibu di mana?”

 

“Ada di dalam. Memasak.”

 

“Oh, jadi kamu main sendirian.”

 

“Iya.”

 

“Kakak temenin, ya.”

 

Wanita cantik yang sangat baik hati, namanya Meyra. Ia tinggal dekat dengan rumah Danu. Danu menganggap Meyra sebagai malaikat baik yang Tuhan kirimkan untuknya. Wanita itu datang, mengajaknya berbicara, bermain, memandikannya. Memakaikannya pakaian-pakaian yang baik. Setiap bersamanya Danu adalah bocah yang bersih sekaligus wangi.

 

Meyra memberikan kasih sayang pada bocah kecil itu. Memeluknya seperti seorang ibu, menciumnya. Entah sejak kapan Meyra mulai menaruh perhatian pada Danu. Ia sering datang membawakan beberapa makanan yang ia beli di pasar untuk Danu. Ya, bocah kecil itu.

 

Anak itu mulai tahu caranya tersenyum. Melebarkan bibirnya, memamerkan deretan giginya yang rapih. Bahagia, mungkin itu yang dirasakan. Bagi seorang anak, ditemani bermain sudah menjadi bahagia yang sangat luar biasa. Memang sesederhana itu impian seorang bocah.

 

Pertemuan itu indah, tapi segala sesuatu yang indah juga menyakitkan. Itu sudah menjadi ketentuan. Tidak akan berubah.

 

Meyra pergi, ia dan suaminya pindah rumah. Danu tidak bisa lagi melihatnya, apalagi merasakan kasih sayangnya. Bocah kecil itu merasakan kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Tapi dengan ikhlas ia melepaskan dan menerima takdirnya. Takdir aneh yang harus ia jalani.

 

“Kakak mau kemana?” tanya Danu begitu melihat Meyra berada di dalam mobil bersama anak dan suaminya.

 

“Hay, Danu. Kakak mau pindah rumah. Ini untukmu.” Meyra memberikan beberapa mainan juga makanan ringan untuk bocah kecil itu.

 

“Pindah rumah. Jadi rumah yang di sini enggak ditempati lagi?” Bocah itu polos. Sepolos tatapan takut di matanya.

 

“Iya, Sayang. Kakak tidak akan tinggal di sini lagi.”

 

“Ohh. Baik-baik di rumah baru ya Kakak.”

 

“Kamu juga, ya. Kakak pergi dulu. Dahhh, Danu!” Meyra melambaikan tangannya. Danu membalas lambaian tangan itu sampai akhirnya bayangan Meyra menghilang di belokan.

 

“Aku akan kembali seperti dulu lagi,” gumamnya sedih.

 

Ia kembali seperti Danu yang dulu, setidaknya itu yang ada dalam pandangannya. Itu yang dia rasakan.

Bab 3

Hari berjalan sangat cepat. Entah sejak kapan ibunya mulai membuka hati untuknya, memberikan kasih sayang layaknya ibu yang lain. Hari ini ibunya mengajaknya pergi ke rumah nenek. Ia merasa senang sekali.

“Danu! Ayo mandi, kamu mau ikut Ibu apa enggak?” Ibunya datang dari belakang. Di pundaknya ada sepasang pakaian bersih milik Danu. Wanita itu menatap gemas putra kecilnya.

 

“Ke mana? Danu masih ingin main, Bu.” Bibirnya mengerucut. Merasa sebal karena aktivitas bermainnya harus dihentikan.

 

“Udah ikut aja. Atau kamu mau di rumah sendirian?” Goda sang Ibu. “Ikut apa enggak?” tambahnya.

 

Bocah itu kebingungan. Rasanya berat sekali jika harus meninggalkan mainannya. Tapi di sisi lain ia sangat ingin ikut ibunya pergi.

 

“Enggak mau mandi, aku mau lanjut main saja,” ucapnya acuh. Ia melanjutkan acaranya yang sempat terhenti karena ibunya.

 

“Bener, enggak mau ikut? Padahal Ibu mau masak pempek dan tekwan di rumah nenek, loh. Ya sudah, Ibu pergi dulu yaa.” Julie masuk ke dalam. Meletakkan pakaian anaknya di atas kursi, kemudian kembali keluar seolah bersiap-siap akan pergi.

 

“Ibu, tunggu! Aku mau mandi, aku mau ikut ke rumah nenek.” Danu bersemangat. Anak itu berlari ke arah ibunya, dengan sigap wanita itu menangkap tubuh Danu kemudian menggendongnya. Membawanya masuk ke dalam, memandikannya.

 

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya ia berhasil merapikan putranya. Ia menggendong Danu, kemudian medudukkannya di boncengan sepeda. Wanita itu mengkayuh sepedanya pelan, sesekali tangannya mengecek pegangan tangan Danu. Ia tidak mau jika sampai anaknya tertidur dan jatuh dari sepeda.

 

Dari jauh ia sudah melihat rumah ibunya. Ia memang akan membuat pempek dan tekwan di sana. Danu pasti akan sangat senang jika memakan masakan buatannya. Anaknya itu tidak pernah tidak menghabiskan makanan yang ia berikan. Itu membuatnya sangat senang.

 

“Mana pempeknya, Bu.” Danu langsung menagih begitu sampai di rumah nenek. Julie tersenyum melihat anaknya sangat bersemangat.

 

“Tunggu dulu, kita baru saja sampai Sayang. Ibu harus masak dulu, kamu duduk tungguin ibu ya. Nanti kalau sudah matang, Ibu ambilkan yang banyak buat kamu.” Julie mengacak lembut rambut puteranya.

 

“Hmmm.”

 

Ibunya sudah membaur bersama Nenek. Ia bosan jika hanya duduk dan bermain sendirian. Rasa penasarannya sebagai seorang anak membawa kakinya melangkah keluar. Berjalan-jalan di sekitaran komplek neneknya tinggal. Di sana ia melihat anak-anak sebayanya sedang bermain sepak bola.

 

Ia mendekat, ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan. Anak-anak itu berhenti. Berkumpul sambil memakan buah pisang yang dibawa oleh salah satu anak dari rumah. Acara makan pisang yang menyenangkan terhenti begitu salah satu diantaranya menatap aneh pada sosok Danu.

 

“Hey, kenapa tubuhnya putih sekali!” seru seorang anak sambil menunjuk-nunjuk wajah Danu.

 

Semua anak menatapnya heran. Danu terlihat seperti mahluk asing di mata mereka. Mata sipit, kulit putih. Itu sangat berbeda dengan kulit orang-orang yang tinggal di daerahnya.

 

Kumpulan anak itu mengoloknya, melemparinya dengan kulit pisang. Menghina, karena ia beragama muslim tapi ia lahir dari etnis yang mayoritas memeluk agama non muslim.

 

Jiwa Danu terluka, ia kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang anak. Orang-orang menganggapnya aneh. Keturunan jin, dan semua hal buruk yang tidak mampu ia utarakan.

 

Hati bocah kecil itu terluka, ia berlari meninggalkan kerumunan. Kakinya terus menjauh menuju rumah neneknya. Ingin menangis, tapi air matanya seolah enggan untuk jatuh. Akhirnya ia hanya bisa terdiam dan mengubur kejadian buruk itu dalam-dalam.

 

“Danu, kamu dari mana saja, Nak? Ibu mencarimu, Sayang.” Ibunya datang. Ia merasakan telapak tangan ibunya menangkup lembut kedua pipinya.

 

Danu menggeleng, hal itu membuat Julie heran. Anaknya tiba-tiba datang dengan wajah murung. Tanpa ia tahu apa sebab putranya jadi seperti itu. Mungkin dia merasa bosan, begitu pikirnya.

 

“Kamu pasti habis jalan-jalan yaa. Pempeknya udah mateng, kamu mau makan sekarang?”

 

“Iya, Ibu.”

 

Nafsu makannya hilang. Di matanya pempek itu tidak menarik lagi, ia memaksakan diri untuk tetap memakannya. Tetap saja perutnya enggan menerima. Akan tetapi demi melihat wajah ibunya yang sudah susah payah memasak makanan itu, ia tidak tega jika harus membuangnya. Ia terlalu menyayangi ibunya, lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri.

 

Ia menelan semuanya, meski rasanya seperti duri yang ia paksa masuk melalui kerongkongan. Dengan susah payah, ia berhasil menghabisannya. Apa yang ia alami tadi, berhasil mengambil sebagian besar rasa percaya yang ia miliki.

 

Danu Sudirja, anak itu menelan kesedihannya sendirian. Semuanya.

_______________

Bagaimana dengan bab ini? Suka?
Berikan pendapatmu di kolom komen yahh ….

Tinggalkan jejak dong ….
Caranya? Mudah banget. Cukup like, komen, subscribe, rate cerita ini yaa. Jika kalian suka. Share cerita ini yuk!

Thank you.

Bab 4

Entah apa yang ada di pikiran Danu kala itu. Ia masih duduk di banku kelas lima SD saat dirinya terjebak dalam pergaulan yang tidak sesuai dengan usianya. Sepulang sekolah ia akan pergi ke sebuah warung internet yang tidak jauh dari rumahnya.

 

Untuk apa? Yang jelas bukan untuk belajar. Apalagi browsing rumus matematika?

 

Berhari-hari, minggu, mungkin bulan. Ia selalu mendatangi warung internet untuk mengakses video video dark. Sama seperti hari ini, ia mendatangi tempat itu dengan penuh semangat. Hanya bermodal uang yang cukup untuk menyewa satu bilik komputer selama satu jam, Danu duduk di sana.

 

Seperti biasa ia akan membuka situs yang selama ini menjadi candu baginya. Dalam sekejap ia sudah berselancar dalam dunia gelap yang tidak seharusnya dimasuki oleh anak seusia dirinya. Anak itu, sepertinya ia sedang lepas dari pengawasan kedua orangtuanya. Tidak seharusnya ia mengakses internet sendirian. Karena sekali terjerumus, seseorang akan kesulitan untuk keluar dari lembah menakutkan.

 

“Hey, Danu?” Itu suara Arif. Dia adalah pemuda yang menjaga warung internet ini.

 

“Iya, Kak?” Cepat cepat danu me-minimize tampilan layar komputer di depannya.

 

“Pasti baru pulang sekolah, terus langsung main ke sini, ya?” Arif masuk, kemudian duduk di samping Danu.

 

“Iya, Kak. Tahu aja. Hehehe.”

 

“Loh, siapa dulu ….”

 

“Iya dah, Kak.” Hanya cengiran yang Danu berikan. Batinnya ketar-ketir jika sampai ketahuan mengakses video terlarang. Ia akan merasa sangat malu.

 

“Nonton apa kamu, Dan? Kakak boleh ikutan lihat enggak?” Sepertinya Arif memang menaruh kecurigaan pada Danu. Jika tidak, mana mungkin ia akan mau tahu dengan apa yang ditonton anak itu.

 

“Jangan dong, Kak. Ini tontonan anak-anak.” Danu mencegah. Tangannya ingin menutup halaman yang baru saja ia akses. Akan tetapi mouse sudah berada dalam genggaman tangan Arif. Pemuda itu dengan cepat menutup semua akses di sana. Menatap iba pada anak di sampingnya.

 

“Danu, siapa yang mengajarimu?” tanya Arif lembut.

 

“Emmm.” Anak itu menunduk takut.

 

“Katakan.” Pemuda itu tetap menanyainya dengan nada pelan. Karena tidak kunjung ada jawaban dari Danu. Ia pun menjelaskan sesuatu yang memang harus Danu ketahui.

 

“Danu, video seperti ini belum pantas diakses oleh anak seumuran kamu. Kakak bukannya ngelarang kamu ngelakuin sesuatu, tapi kakak ngelakuin ini karena kakak peduli sama kamu. Video seperti ini hanya akan membuat psikis kamu terganggu, ia akan membawa dampak buruk untuk dirimu. Sekali lagi, kakak tidak bermaksud melarang ataupun ikut campur dengan urusan di hidupmu. Kakak seperti ini, karena kakak peduli sama kamu. Kamu paham maksud kakak?” Arif menatap mata anak di depannya. Sedang yang ditatap hanya mengangguk pelan.

 

“Nih, dari pada kamu di sini menonton video yang tidak bermanfaat. Lebih baik kamu main game saja. Nih, Kakak tunjukkin.” Arif menunjukkan game yang sedang trend pada masa itu. Danu menyimaknya, cukup sekali. Jemarinya sudah gatal ingin memainkannya sendiri.

 

“Kamu suka?”

 

“Iya, Kak. Suka.”

 

Sejak hari itu, Danu tidak pernah lagi mengakses video yang dilarang. Ia lebih tertarik dengan dunia game yang bisa membuatnya bahagia.

 

Anak itu tumbuh semakin besar. Ia masuk ke sekolah menengah atas di salah satu sekolah di kotanya. Sekolah yang sangat besar, ia bertemu banyak orang di sana. Berbagai macam kepribadian ia temui, kemudian ….

 

Sama seperti anak-anak lainnya, ia mulai mengenal yang namanya jatuh cinta.

 

Cinta pertamanya jatuh pada seorang gadis cantik bernama Sella. Gadis manis berkepribadian unik, berbeda dengan yang lain. Pesona seorang Sella menjeratnya dalam sebuah ikatan. Orang-orang menyebutnya pacaran. Hubungan mereka kandas saat Sella beserta keluarganya pindah rumah. Sakit, tapi Danu memilih untuk melepaskan.

 

Begitu juga dengan yang kedua. Reina, gadis yang ia temui setiap kali pergi ke perpustakaan. Gadis yang tidak pernah lepas dengan kacamatanya itu ternyata dijodohkan oleh orangtuanya. Mau tidak mau hubungan mereka kandas. Di sana, Danu memilih ikhlas dan melepaskan.

 

Kini yang ke tiga. Ia duduk di banku SMK saat jatuh hati dengan wanita gamers di jagat maya. Lagi-lagi hubungannya kandas saat kekasihnya yang bernama Naila masih menaruh rasa terhadap mantannya. Danu memilih melepaskan.

 

Setelah sekian lama, ia kembali jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Bella. Hubungan yang sangat dalam, namun kembali kandas saat si gadis berselingkuh lantaran malu diolok-olok memiliki kekasih seperti dirinya.

 

Orang-orang menganggap Danu aneh. Karena ia selalu berpikir dengan sudut pandang yang berbeda.

 

Danu kecewa, ia terluka. Tapi ia selalu memilih untuk ikhlas dan melepaskan. Ia benci kehidupan. Ia menutup dirinya, membentuk labirin rumit yang hanya ada dia di dalamnya. Orang lain tidak akan paham, apalagi sampai memasuki labirin itu.

 

Dunia imajinasi yang ia buat semakin kuat dari hari ke hari. Ia merasa senang dengan kehidupan seperti itu. Menyakiti dirinya sendiri, menyayat, membenturkan kepala ke dinding, minum obat.

 

Danu adalah sosok Self-injury sejati. Ia larut di dalamnya selama satu tahun lebih. Sampai seseorang datang ke dalam hidupnya.

 

Dia ….

… Aluna.

Bab 5

Danu menatap nanar buku bersampul gelap dengan gambar keris terlilit mawar di tangannya. Buku itu baru saja ia terima beberapa jam yang lalu. Ia sudah selesai membacanya. Tubuhnya limbung, pria itu hancur bersama hilangnya sesosok sukma.

 

Aluna ….

 

Benar, buku itu ditulis oleh Aluna. Mantan kekasihnya.

 

“Dia telah pergi ….” gumamnya nyaris tanpa suara.

 

Pria dua puluh lima tahun itu terduduk lesu. Tangannya meninju lantai dengan tenaga penuh. Darah mengalir diantara buku-buku jarinya yang memutih.

 

Marah?

 

Untuk apa dia harus marah? Sedangkan selama ini ia sendiri yang menginginkan gadis itu pergi. Ia tidak layak marah. Lagi pula saat ini, di sampingnya ada seorang gadis yang menjadi kekasihnya setelah Aluna.

 

Namanya Aliya. Meskipun gadis itu buta dan bisu, tapi Danu sangat mencintainya. Ia sangat mencintai Aliya ….

… bukan Aluna.

 

***

 

Tiga tahun yang lalu ….

 

[Hay!]

 

[Kakak, kamu harus tanggung jawab!]

 

Sebuah pesan masuk ke dalam akun messenger-nya. Ia sedang asik-asiknya main game sampai akhirnya ia membuka pesan yang datang dari salah satu friendlistnya di facebook. Aluna.

 

Dia adalah sosok yang belakangan meramaikan kolom komentar di akun miliknya. Gadis pemilik akun itu rajin sekali meninggalkan komentar di setiap postingannya.

 

Danu sangat heran, ia sempat berpikir pemilik akun itu adalah seorang gadis gila. Tante-tante kesepian, mungkin?

 

Entah mendapat dorongan dari mana ia akhirnya merespon pesan dari Aluna.

 

[What?]

 

[Tanggung jawab?]

 

[Memangnya aku ngapain kamu?]

 

Lama sekali ia menunggu. Pesan itu tidak kunjung dibalas. Itu wajar, karena lampu hijau di akunnya sedang tidak menyala.

 

Baru saja ia akan meletakkan handphonenya. Sebuah notifikasi kembali berbunyi.

 

[Ya, Kakak harus tanggung jawab]

 

[Karena Kakak, sudah membuat aku penasaran dengan cerita Kakak.]

 

[Btw, Kakak bisa bales chat ini. Itu artinya, Kakak bohong, dong. Kakak punya messenger ‘kan?]

 

Pria itu tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum. Tahu saja gadis itu, kalau dia sengaja mengatakan tidak memiliki messenger karena enggan menanggapi dirinya.

 

[Oalah. Kupikir aku harus tanggung jawab apa. Bukan, aku memang nggak punya messenger. Ini baru download, soalnya ada temen yang chat.]

 

[Ohhh.]

 

Hanya itu jawaban dari Aluna.

 

Dari sanalah kedekatan keduanya dimulai. Sampai suatu hari ….

 

[Kak, Aluna yang Kakak maksud, itu siapa?]

 

Aluna bergetar saat mengirimkan pesan itu. Pada dasarnya ia sudah cukup hapal kode dari laki-laki yang menyukainya. Karena hal ini sama sekali bukan yang pertama baginya.

 

[Sebutkan namamu, maka kau akan tahu jawabnya.]

 

Tebakannya sangat tepat. Sosok yang Danu maksud tidak lain adalah dirinya sendiri. Ketika pesan itu masuk, Aluna sedang pergi bersama temannya. Sepanjang jalan mengendarai sepeda motor tubuhnya gemetar. Sejak dulu ia selalu benci jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.

 

Aluna nyaman berteman dengan Danu, tapi untuk jadi pacar?

 

Itu terlalu tidak mungkin untuk dilakukan. Sangat jelas, mereka tidak akan bisa hidup bersama.

 

Aluna galau. Harusnya ia tidak perlu bermain truth or dare yang akhirnya berujung pertanyaan gila itu. Jika saja waktu bisa diputar? Sayangnya …

… tidak.

 

Aluna memilih untuk tidak membahas perihal rasa itu lagi. Ia abaikan begitu saja. Namun ia ingin tetap berteman dengan Danu. Jadi ia akan bersikap seperti biasanya. Karena ia tahu, saat ia menolak maka ia akan kehilangan teman. Saat ia terima, dan hubungan itu kandas. Maka semuanya akan sangat parah.

 

Karena saat ia memilih untuk membuka lembaran baru bersama Danu, maka ia akan menutup lembarannya saat bersama Delan.

 

Jika hubungannya bersama Danu kandas, ia akan kehilangan hal yang lebih besar. Ia akan hancur sama seperti sebelumnya.

 

[Kak, lagi apa?]

 

Itu adalah pesan yang ia kirimkan untuk Danu.

 

[Nulis surat.]

 

Begitu jawaban Danu.

 

[Surat cinta untuk Starla?]

 

[Bukan.]

 

[Terus?]

 

[Surat cinta untuk Aldan]

 

[Lah, ditulis doang tapi nggak dikirim.]

 

[Sudah dikirim, sudah dibaca, tapi belum dibales.]

 

Kepala Aluna mendadak pusing. Apa yang harus ia katakan pada Danu. Ia benar-benar belum siap untuk menjalin sebuah hubungan. Luka hatinya, ia tidak sanggup jika harus mengalami luka yang sama. Meski terkadang ia merasa, ia menaruh perasaan yang sama.

 

[Mungkin dia ingin kamu menunggu.]

 

Akhirnya itu jawaban yang ia berikan. Diam-diam ia mencaritahu kapan Danu lahir. Di beberapa akun facebook yang ia temukan. Pria itu ternyata lahir tanggan 28 Maret. Jika dihitung dari hari ini, maka ia akan ulang tahun satu minggu lagi.

 

Aluna memberi kesempatan untuk dirinya berpikir sampai tanggal 28 Maret. Jika sampai detik itu ia tidak bisa menerima Danu. Maka ia akan memutuskan tali silahturahim yang sudah terjalin.

 

Aluna Sahardaya. Gadis yang tidak pernah percaya hubungan cinta yang lahir dari sosial media. Gadis yang selama ini selalu bertanya-tanya kenapa teman-temannya mau saja berkenalan di facebook, ketemuan, lalu jatuh cinta?

 

Sekarang, akankah dia menjalin hubungan dengan pria itu?

 

Sosok yang bahkan tidak pernah ia lihat wajahnya.

_______________

Komen yuk. Bagaimana part ini menurut kalian?

Tertarik Dengan Buku : Cidera Hati Sang Pecinta ?

Cidera Hati Sang Pecinta

Cidera Hati Sang Pecinta

Esana Gulpinar