Menjadi sosok yang berkuasa dan berpengaruh adalah keinginan banyak orang. Manusia merasa tidak berdaya ketika mereka tidak memiliki kuasa sehingga mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kekuasaan, atau setidaknya menjadi orang yang berpengaruh dan disegani.

“Aaaa!” Wanita itu terus menerus memukul perutnya. Menyampingkan rasa sakit yang ia terima. Karena yang ia pikirkan adalah janin dalam kandungannya tidak boleh lahir.

“Astaga Ibu! Apa yang Ibu lakukan?” seru Romeo yang melihat aksi gila istrinya. Pria itu langsung merengkuh wanita itu, memeluknya, memberikan ketenangan. Usahanya berhasil, wanita yang ….

Penasaran? Kuy, langsung baca yahh. Jangan lupa Subscribe 😉

Sinopsis
Kisah inspiratif dari seorang gadis cilik bernama Sarah. Bagaimana perjuangan dan pertemuannya dengan orang-orang hebat di matanya. Gadis kecil yang akhirnya bisa tersenyum setelah sekian penderitaan yang ia lalui. Senyum yang menjadi akhir dari segala bentuk luka yang ia hadapi selama ini.

Sinopsis
Subscribe sebelum baca, agar mendapatkan notifikasi saat part baru sudah terbit.

***

Apa jadinya, jika pernikahan yang digadang-gadang menjadi ladang surga, tapi justru membuat ikatan itu menjadi tabungan dosa.

Istriku, tidak halal untukku. Ya Tuhan, lelucon apa ini!

***

Happy reading!
Jangan lupa follow authornya, agar tidak ketinggalan cerita-cerita menarik lainnya ….

Sinopsis
“Maaf Pak Mustafa, kita nggak punya bukti buat nuduh Pak Ilham. Lagipula Ilham itu sudah beristri. Bagaimana mungkin dia akan berlaku kejam seperti itu,” ucapnya bijak.

“Alah! Semuanya kan sudah jelas, Pak! Ilham itu orang paling aneh di sini! Disaat waktu segenting ini pun dia nggak ikut hadir. Jangan-jangan, dia malah sibuk menc*buli anak perempuan lagi!” Andi berteriak berang.

“Iya betul! Ayo kita usir saja si Ilham! Biar dia pergi saja dari kampung ini!”

“Betul Pak Ustadz! Betul!”

Sinopsis
Ada beberapa kisah dalam hidup ini yang tidak akan pernah benar-benar berakhir. Kisah ini salah satunya.

Sinopsis
“Arumm! Rum, tambahin lagi uangnya!” seru Mas Hamdan yang baru saja pulang dari pasar.

“Uang apa, Mas? Tadi 20.000 kurang?” tanyaku heran. Apalagi jika melihat wajahnya yang tampak sangat kesal.

Eh, ehhh ada apa ini? Bukannya dia bilang 20.000 itu banyak? Dan aku menghabiskannya dalam sehari dia sebut pemborosan? Kok sekarang malah dia yang ngeluh nggak cukup?

  • 1
  • 2